Seperti Apa Tampilan Homescreen Mobilephone Anda?

Saya pernah membaca salah satu artikel yang mengulas mengenai tampilan homescreen mobilephone dari sejumlah CEO terkemuka didunia. Artikel tersebut menyebutkan bahwa CEO-CEO tersebut memiliki satu hal yang serupa, yakni tampilan homescreen pada mobilephone mereka sangatlah sederhana dan praktis. Alasannya adalah untuk meningkatkan efisiensi waktu. Bagi saya, hal sederhana ini sangatlah luar biasa. CEO terkemuka didunia saja memikirkan hal sederhana yang dapat meningkatkan efektivitas mereka dan hal sederhana itu dapat dimulai dari menyederhanakan tampilan homescreem mereka.
Terinspirasi oleh hal tersebur, saya mulai melakukan hal yang sama terhadap mobilephone saya. 

Homescreen saya cuma terdiri dari 5 . layer fungsi-fungsi utama dan aplikasi-aplikasi. Pada tingkatan pertama atau paling atas, adalah google dimana saya bisa langsung mengetik apa yang saya ingin browsing. Langkah ini menurut saya menghemat waktu saya daripada saya menaruh ikon google search dan kemudian menunggu masuk ke google search dan baru mengetik apa yang ingin saya browsing.

Layer kedua dibawahnya adalah tampilan waktu dan cuaca. Hal ini membuat saya lebih mudah dalam melihat waktu karena tampilannya yang lebih besar dan lebih eye catchy. 

Layer ketiga dibawahnya adalah aplikasi audio yang memungkinkan saya langsung memainkan lagu-lagu yang ingin saya dengarkan. Hal ini hampir serupa dengan layer google search di paling atas. Saya tidak perlu menunggu audio terbuka dulu baru memilih lagu apa yang ingin saya dengarkan.

Setelahnya, adalah layer 4 yang hanya menampilkan aplikasi-aplikasi yang paling sering saya pergunakan saja. Paling kiri adalah Go-Jek karena memang dibandingkan aplikasi transportasi lain sejenisnya, Go-Jek adalah yang paling sering saya pergunakan. Setelahnya adalah aplikasi GMail dan aplikasi Docs to go. Kedua aplikasi ini berkaitan dengan pekerjaan. GMail tentu saja adalah karena saya sering buka email dan Docs To Go memudahkan saya untuk melakukan drafting korespondensi terkait dengan pekerjaan. Setelah itu ada folder yang berisikan 4 aplikasi sosial media yang sering saya pergunakan yaitu Instagram, LinkedIn, Path dan Twitter. WordPress saya pergunakan untuk drafting blog saya.

Dipaling bawah adalah fungsi dasar mobilephone yakni telepon, sms, foto dan kamera. Ada juga whatsapp sebagai satu-satunya aplikasi instant messenger yang saya pergunakan. Ikon setting adalah untuk mengakses setting jika saja ada yang tidak sesuai dari mobilephone saya. Yang terakhir adalah ikon apps yang memungkinkan saya untuk mengakses aplikasi lain.

Pengaturan homescreen saya ini memungkinkan saya untuk mengakses aplikasi atau fungsi dasar hanya sekali saja dan juga memfokuskan saya hanya pada yang terpenting saja. Alhasil semua yang saya lakukan terkait dengan handphone saya menjadi lebih cepat dan waktu saya menjadi lebih efektif.

Brexit dan Manajemen (M)udik

Brexit

Walaupun secara keseluruhan terjadi penurunan jumlah korban jiwa dalam penyelenggaraan mudik raya tahun 2016, kinerja pemerintah dalam penyelenggaraan pengelolaan aktivitas mudik raya banyak dikritisi oleh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya kemacetan yang luar biasa parah pada ruas jalan tol menuju pintu keluar Brebes Timur, atau yang populer dengan sebutan Brexit. Mulai dari masyarakat hingga sejumlah anggota legislative mengkritisi cara Pemerintah menangani mudik raya. Apalagi ditambah dengan adanya korban jiwa dari kejadian macet di Brebes Exit tersebut.

Continue reading “Brexit dan Manajemen (M)udik”

Membedah Kesebelasan Sepakbola Eropa Dengan Business Model Canvas part 2

Arsenal away fans. Blackburn Rovers 4:3 Arsenal. Barclays Premier LeagueIndustri sepakbola di Eropa telah berkembang pesat, melebihi benua lain. Kesebelasan-kesebelasan sepakbola yang berada didalam industri tersebut telah menjadi rujukan model bagaimana sebuah kesebelasan sepakbola dikelola. Mulai dari pembinaan pemain usia muda, sampai kepada aktivitas komersial tingkat dunia. Kenapa Industri sepakbola Eropa begitu mendunia? Kenapa sebagian besar kesebelasan sepakbola Eropa begitu makmur? Lebih penting lagi, bagaimana cara kesebelasan sepakbola di Eropa melakukannya?

Continue reading “Membedah Kesebelasan Sepakbola Eropa Dengan Business Model Canvas part 2”

Membedah Kesebelasan Sepakbola Eropa Dengan Business Model Canvas part 1

Bisnis Sepakbola

Industri sepakbola di Eropa telah berkembang pesat, melebihi benua lain. Kesebelasan-kesebelasan sepakbola yang berada didalam industri tersebut telah menjadi rujukan model bagaimana sebuah kesebelasan sepakbola dikelola. Mulai dari pembinaan pemain usia muda, sampai kepada aktivitas komersial tingkat dunia. Kenapa Industri sepakbola Eropa begitu mendunia? Kenapa sebagian besar kesebelasan sepakbola Eropa begitu makmur? Lebih penting lagi, bagaimana cara kesebelasan sepakbola di Eropa melakukannya?

Continue reading “Membedah Kesebelasan Sepakbola Eropa Dengan Business Model Canvas part 1”

Leicester City dan 8 Langkah Perubahan Kotter part 2

maxresdefault

Anehnya, sebenarnya Leicester City tidak punya visi perubahan, dalam arti tidak ada perubahan yang signifikan. Leicester City hanya ingin selamat dari degradasi. Itulah visi awal Strategi yang diusung pun sederhana. Untuk selamat dari degradasi, Ranieri hanya menginginkan agar Leicester City mendapatkan 40 poin. Hitung-hitungannya tepat. Dalam 5 musim terakhir, kesebelasan yang membawa poin dibawah 40 hampir pasti terdegradasi. Musim 2014-2015 (Hull City  peringkat 18 poin 35), 2013-2014 (Norwich City  peringkat 18 poin 33) 2012-2013 (Wigan Athletic peringkat 18 poin 36), 2011-2012 (Bolton Wanderers peringkat 18 poin 36), 2010-2011 (Birmingham City peringkat 18 poin 39).

Continue reading “Leicester City dan 8 Langkah Perubahan Kotter part 2”

Leicester City dan 8 Langkah Perubahan Kotter part 1

Leicester CIty

Musim 2014-2015 lalu Leicester City bertengger di peringkat 14, dengan hasil 11 kemenangan, 8 seri dan 19 kekalahan hasil dari besutan Nigel Pearson. Siapa sangka, mengawali musim 2015-2016 ini Leicester City mengganti Nigel Pearson dengan Claudio Ranieri dengan alasan bahwa Leicester City berbeda visi dan misi dengan Nigel Pearson. Siapa sangka juga, bahwa kemudian langkah Leicester City malah membawa “mukjizat” kala Claudio Ranieri membelalakkan mata semua pecinta sepakbola khususnya penggemar liga Inggris dengan membawa Leicester City juara Premier League.

Continue reading “Leicester City dan 8 Langkah Perubahan Kotter part 1”

Mengapa Menulis Tentang Manajemen dan Bisnis di The Business Perspective?

Tema tentang manajemen dan dunia bisnis sangat jarang sekali bisa anda temui dalam format blog, tetapi dalam format website yang lebih banyak bersifat analitikal. Selain itu tidak banyak insight dan lesson learned yang bisa kita dapatkan. Tidak ada juga wisdom yang bisa kita cerna dan maknai sebagai pembelajaran. Begitupun juga dengan kasus-kasus bisnis yang bisa kita evaluasi.

Kalaupun ada formatnya pun dalam bahasa inggris. Walaupun ada yang dalam bahasa Indonesia, tetapi kebanyakan tidak populer dan disajikan dalam bahasa yang “kaku” dan “kering”. Selain itu kasus bisnis yang ada sangat tidak up to date, dan berbayar pula.

Pembahasan mengenai dunia manajemen barangkali bisa anda dapatkan melalui sekolah bisnis dan workshop-workshop. Tapi sayangnya kuliah bisnis puluhan juta harganya dan workshop juga mahal harganya.

Karena itulah saya membuat blog The Business Perspective, dengan tujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan insight mengenai perkembangan dunia bisnis dan manajemen, baik secara internasional dan nasional.

Memang sangat jarang sekali ada yang mau membaca blog tentang manajemen dan bisnis kecuali mereka yang berkecimpung didalamnya. Tetapi pengetahuan dan wawasan yang ada didalam blog The Business Perspective sejatinya bisa dimanfaatkan oleh para profesional, pekerja, pengusaha dalam skala apapun. Blog The Business Perspective pun dapat menjadi referensi bacaan bagi para dosen, ataupun mahasiswa dari sekolah bisnis.

Saya ingin agar blog The Business Perspective memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para pembacanya,

Sistematika Proses Penyusunan Strategi part 2 : Competitive Profile Matrix, Internal Factor Evaluation, SWOT, dan QSPM

Strategic Planning

Setelah melakukan analisa lingkungan eksternal, yang dilakukan selanjutnya dalam proses penyusunan strategi adalah, melakukan analisa internal yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, seperti audit internal, analisa value chain, serta melakukan competitive profile matrix serta internal factor evaluation.

Continue reading “Sistematika Proses Penyusunan Strategi part 2 : Competitive Profile Matrix, Internal Factor Evaluation, SWOT, dan QSPM”

Sistematika Proses Penyusunan Strategi part 1 : Analisa PESTEL dan Analisa Industri

Strategic Planning

Dari kuliah manajemen stratejik, saya baru mengetahui betapa rumitnya sebuah proses penyusunan strategi yang komprehensif dan ideal. Ya seringkali, proses penyusunan strategi di berbagai perusahaan acapkali tidak mematuhi kaidah-kaidah proses yang seharusnya dijalankan. Entah karena keterbatasan sumber daya ataupun keterbatasan waktu dan mungkin juga biaya. Bagaimana sistematika proses penyusunan strategi yang baik dan benar?

Continue reading “Sistematika Proses Penyusunan Strategi part 1 : Analisa PESTEL dan Analisa Industri”

Belajar Dari Kecelakaan Irma Bule Dari Perspektif Pemasaran, Keselamatan Kerja dan Manajemen Risiko

Irma Bule

Dengan segala hormat kepada almarhumah Irma Bule dan keluarga serta dengan ketulusan hati saya ingin menyampaikan turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan. Tapi barangkali, almarhumah Irma Bule dan “kecelakaan kerja” itu sendiri memberikan pembelajaran yang sangat berharga, terutama bila kita lihat dari perspektif disiplin ilmu pemasaran dan manajemen risiko.

Continue reading “Belajar Dari Kecelakaan Irma Bule Dari Perspektif Pemasaran, Keselamatan Kerja dan Manajemen Risiko”

Pemimpin Hebat. Fokus Kepada Hasil Atau Orang?

result vs people oriented leadership

Ketika membicarakan mengenai kepemimpinan, seringkali diperbandingkan karakteristik dari sisi fokus kepemimpinan. Ada yang memfokuskan kepada hasil atau target-target yang dibebankan kepadanya, dan ada yang memfokuskan kepada orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang memfokuskan kepada hasil seringkali dianggap sebagai pemimpin yang berkarakter dingin, dan tidak neko-neko. Pemimpin yang memfokuskan diri kepada orang seringkali dianggap sebagai pemimpin yang hangat dan memotivasi. Yang menjadi pertanyaan kemudian, karakter manakah yang menjadi lebih baik?

Continue reading “Pemimpin Hebat. Fokus Kepada Hasil Atau Orang?”

Belajar Strategi Bisnis Dari Transmart Konsep Baru

CAM00115

Libur panjang akhir pekan kemarin, saya bersama keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi Transmart Cilandak yang digembar-gemborkan sebagai Transmart dengan konsep baru. Tidak hanya sebagai pusat perbelanjaan semata, tetapi sebagai tempat hiburan keluarga yang menyeluruh. Entah karena memang baru dibuka, atau karena pengaruh liburan panjang, Transmart Cilandak sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung. Menarik untuk kita lihat apakah Transmart Cilandak sebagai sebuah fenomena dari sisi bisnis ataukah memang direncanakan dengan sangat baik?

Continue reading “Belajar Strategi Bisnis Dari Transmart Konsep Baru”

Kapitalisme VS Sharing Economy

FLAT concepts 7

Booming kehadiran aplikasi transportasi online dan juga maraknya aplikasi e-commerce sedikit banyak telah merubah lansekap cara bisnis dilakukan. Hal ini didorong oleh perkembangan teknologi khususnya penggunaan internet dan perangkat pendukungnya seperti smartphone yang semakin masif. Kita seperti berada diujung sebuah transisi.

Continue reading “Kapitalisme VS Sharing Economy”

Mengejar Ketertinggalan Blue Bird Dari Uber dan Grab

Blue Bird App

Imbas demo taksi menyadarkan kita bahwa kehadiran Grab dan Uber benar-benar telah mengancam penghasilan dari para pengemudi taksi. Hal ini juga membuka mata kita bahwa telah terjadi pergeseran prilaku konsumen dan karenanya menandakan adanya pergeseran market share. Ketertinggalan Blue Bird dan perusahaan taksi lainnya menandakan adanya kecenderungan kegagalan dalam mengantisipasi potensi ancaman yang muncul dari disruptive technology bernama Grab dan Uber. Benarkah seperti itu adanya?

Continue reading “Mengejar Ketertinggalan Blue Bird Dari Uber dan Grab”

Disiplin Waktu. Elemen Mendasar Dalam Kesuksesan

Disiplin Waktu

Saya dulu termasuk orang yang menganggap remeh waktu. Apalagi terkait dengan kehadiran. Pelajaran dengan harga yang sangat mahal telah mengajarkan saya akan pentingnya ketepatan akan waktu. Karenanya kedisiplinan terutama kedisiplinan pada waktu merupakan elemen mendasar bagi kesuksesan.

Continue reading “Disiplin Waktu. Elemen Mendasar Dalam Kesuksesan”