Menjawab Overpricing di Kawasan Wisata Dari Berbagai Perspektif

Overpricing atau getok harga secara tidak wajar di kawasan wisata kembali terjadi, viral di media sosial dan media mainstream mengenai seorang wisatawan yang berkunjung disebuah warung di kawasan Puncak yang dikenakan harga kopi sebesar Rp100.000. Pertanyaannya adalah kenapa hal tersebut sering terjadi, apa yang harus dilakukan oleh para pelaku dunia usaha dan wisatawan? Bagaimana kemudian memandangnya dalam berbagai Perspektif?

Continue reading “Menjawab Overpricing di Kawasan Wisata Dari Berbagai Perspektif”

Penyakit Kambuhan : Mulai Aktif Ngeblog Lagi

Aktif Ngeblog Lagi

Beberapa waktu belakangan, saya mulai aktif menulis blog lagi. Ini merupakan “penyakit” kambuhan saya, rajin nulis selama beberapa waktu, terus kemudian malas lagi, rajin lagi dan begitu seterusnya. Aktif menulis di blog lagi ini pun “ada udang dibalik batunya” yaitu untuk mempromosikan youtube channel saya yaitu Rumah Roji. Jadi video yang saya buat di Youtube channel saya tersebut saya buatkan tulisannya juga sekaligus saya letakkan linknya dengan harapan dapat membantu peningkatan view youtube channel saya. Celakanya, membuat video pun saya terkena juga penyakit kambuhan ini, jadi saya baru aktif ngvelog beberapa waktu lalu juga.

Continue reading “Penyakit Kambuhan : Mulai Aktif Ngeblog Lagi”

Ajakan Berkurban Kok Tendensius? (Bisa Jadi) Sebuah Blunder Komunikasi

Ajakan Beribadah - Copy

Sebuah postingan mengenai ajakan berkurban menarik perhatian saya. Atau barangkali lebih tepatnya sebuah postingan update status dari seorang teman lama saya seorang jurnalis mengenai postingan ajakan berkurban yang dikomunikasikan oleh salah satu lembaga amil zakat terkemuka di Indonesia. Ia menganggap bahwa postingan tersebut bernada sedikit tendensius atau “nyinyir”. Mengapa demikian? Mari kita telaah lebih dalam.

Continue reading “Ajakan Berkurban Kok Tendensius? (Bisa Jadi) Sebuah Blunder Komunikasi”

Buanglah Sampah Sembarangan dan 10 Tahun Kemudian Anda akan Mati Tertimbun Sampah Itu – Sebuah Cerita Tentang Masmimar Mangiang

Buanglah sampah

Kalimat yang menjadi judul dari tulisan ini adalah kalimat yang barangkali menjadi salah satu kalimat penting yang pernah saya dengarkan selama saya hidup. Bagi anda, kalimat tersebut mungkin tidak ada maknanya sama sekali. Tapi untuk saya, kalimat tersebut terasa begitu personalnya. Saya lupa persis kapan tepatnya saya mendengar kata itu. Yang pasti, kalimat tersebut dilontarkan oleh Masmimar Mangiang, salah seorang yang saya pandang berjasa bagi hidup saya dengan segala ilmu yang ia berikan kepada saya.

Lebih lengkapnya, untaian kalimat yang ia sampaikan kepada saya adalah :

“Tulislah buanglah sampah pada tempatnya” dan tidak akan ada orang yang menggubrisnya. Tapi tulislah “Buanglah Sampah Sembarangan dan 10 Tahun Kemudian Anda akan Mati Tertimbun Sampah itu” barangkali baru akan ada orang yang memperhatikan.

Kalimat tersebut benar-benar merubah cara pandang saya terhadap sebuah penulisan, dan tentang bagaimana cara dan gaya penulisan. Menurut Bang Mimar, dalam menulis selain memperhatikan teknik penulisan yang benar, sebuah penulisan harus memiliki rasa dalam bahasa. Sebuah tulisan yang baik tidak boleh terasa hambar dan kering. Sejak saat itu, saya selalu memasukkan rasa dalam setiap tulisan saya.

Bicara soal rasa dalam penulisan, barangkali memang tidak ada panduannya. Rasa dalam menulis bisa jadi bersumber dari pengalaman dan wawasan atau bahkan bisa didapatkan dari kemampuan teknis seorang penulis dalam memadupadankan pilihan kata. Bisa jadi rasa penulisan memang tergambarkan dari jam terbang seorang penulis.

10 tahun lebih dari Bang Mimar menyampaikan kalimat itu kepada saya, kalimat itu masih berbekas dan terngiang. Sudah lebih dari 10 tahun saya lulus dari FISIP UI, tempat saya bertemu pertama kali dengan Bang Mimar. Dari dirinya, saya belajar banyak mengenai penulisan. Meskipun saya sudah bekerja bersama dengan puluhan penulis dan membuat ratusan lebih tulisan untuk kebutuhan pekerjaan saya, tapi dasar-dasar penulisan yang ia berikan rasa-rasanya tidak akan pernah usang ditelan masa.

Selepas lulus dari FISIP UI, dalam beberapa kesempatan saya seringkali menyapa Bang Mimar melalui akun facebooknya. Saya juga masih terkadang masih suka membaca postingan-postingannya di sosial media yang mengkritik teknik penulisan di media. Saya juga sering berbagi hasil tulisan saya dan meminta tanggapan dari dirinya.

Ia adalah sosok yang begitu kaya akan pengetahuan tentang penulisan dan jurnalisme. Diluar itu, ia adalah sosok yang begitu hangat, dan begitu jenaka. Sosok yang begitu dirindukan, bukan cuma karena kontribusinya yang luar biasa terhadap kepenulisan tapi juga karena kepribadiannya.  Selamat jalan Bang Mimar.

— 000 —

Merubah Image Santri Dengan Lagu Dzikir Zakat

Saya begitu takjub dengan kreativitas yang ditunjukkan oleh para santri dari Pesantren Gontor (Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo) yang mampu membuat sebuah video klip lagu Dzikir Zakat. Lagu tersebut merupakan lagu cover dari lagu Ziggy Zagga yang diciptakan oleh Gen Halilintar.  Hingga tulisan ini diposting, lagu Dzikir Zakat yang dipublikasikan pada 2 April 2019 lalu telah disaksikan sebanyak 23,94 juta kali di Youtube Channel Gontor TV Magelang, hanya kalah oleh lagu aslinya Ziggy Zagga yang sudah disaksikan 102 juta kali di Youtube Channel Gen Halilintar.

 

Lagu yang berdurasi sekitar 3 menit 54 detik tersebut nampak dikonsep dan dieksekusi dengan baik oleh Malik Ibrahim dan kawan-kawan. Malik Ibrahim berperan sebagai produser sekaligus sebagai sutradara dan juga pencipta lagu. Berbeda dengan lagu Ziggy Zagga aslinya yang menceritakan mengenai kehidupan dari Keluarga Halilintar, lagu Dzikir Zakat lebih kepada ajakan untuk melakukan kebaikan dengan menjalankan ibadah dzikir dan zakat (serta sholat dan puasa).

Salah satu penggalan lirik yang sangat saya suka dalam video klip lagu Dzikir Zakat tersebut adalah

Coba cek tujuan yang ada dalam hidupmu

Sudahkah benar semua

Kalo nggak merasa coba cek amal dan ibadahmu

Penggalan lirik tersebut benar-benar membuat saya mengena dan saya merasa terajak untuk memperbaiki kualitas hidup saya khususnya dalam sisi ibadah. Lirik yang disampaikan dalam lagu ini pun terasa begitu sederhana dan begitu mudah untuk dipahami.

Lagu (berikut dengan video klip dan pemostingannya di Youtube) ini dalam pandangan profesional saya merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam menyampaikan pesan kebaikan. Metode ini merupakan metode dakwah  atau penyiaran kebaikan yang berbeda dengan dakwah secara konvensional (tatap muka dalam bentuk penyajian satu arah seperti ceramah). Dengan menggunakan lagu dan juga video klip, pesan-pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah dicerna dan diterima oleh kalangan muda atau millenial masa kini. Pemilihan pemostingan media Youtube sebagai pendistribusian video klip tersebut juga tepat. Dijaman digital seperti saat ini penyebaran sebuah konten begitu mudah, cukup dengan menyebarkan pranala (link) kepada seseorang melalui aplikasi seperti instant messenger.

Selain itu, langkah Gontor yang membuat cover juga dapat dikatakan tepat. Dengan mengcover lagu Ziggy Zagga yang dibawakan oleh Gen Halilintar, melodi lagu Dzikir Zakat tidak perlu susah payah untuk mendapatkan perhatian yang diperlukan oleh sebuah content. Gontor tidak perlu repot-repot membuat aransemen lagu baru yang belum diketahui diterima atau tidak oleh netizen, khususnya millenial. Disini Malik Ibrahim dan kawan-kawan sangat cerdas menerapkan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Bahkan konsep video klipnya pun dibuat mengikuti konsep video klip Ziggy Zagganya Gen Halilintar.

Satu hal lagi yang menakjubkan bagi saya, adalah kesungguhan dan keseriusan Malik Ibrahim dalam mengeksekusi video klip tersebut secara teknis. Benar-benar bak dibuat oleh seorang yang profesional. Artinya Malik Ibrahim dan Gontor secara keseluruhan benar-benar niat dalam memproduksi sebuah konten. Hasil jumlah view sebanyak 23 juta kali adalah kombinasi dari metode ATM, popularitas lagu asli dan juga keseriusan dalam membuat video. Jika saja video ini digarap asal-asalan, saya yakin belum tentu hasilnya akan sama.

Yang paling penting adalah video ini seharusnya mampu merubah persepsi bahwa pesantren itu kolot, dan tidak mau terbuka terhadap perubahan zaman. Gontor melalui Gontor TV telah memberikan contoh yang sangat positif melalui video klip Dzikir Zakat ini.

Dalam komentar resminya Gontor TV menyebutkan  :

Terima kasih untuk semua dukungan bagi video ini. Untuk peningkatan kualitas kami, channel ini sedang bertransformasi secara bertahap menjadi “gontortv milenial”. Mohon doanya agar kami dapat istiqomah dalam menyampaikan pesan dakwah dan pendidikan dengan ikhlas.

-Gontor TV-

 

Pernyataan resmi Gontor TV tersebut menyakinkan saya bahwa Gontor menyadari bahwa masa kini yang mereka hadapi adalah millenial, karenanya mereka pun harus menyesuaikan diri dengan millenial. Salut untuk Malik Ibrahim dan kawan-kawan serta Gontor.

Melawan Framing Media Barat Terhadap Islam Dengan Citizen Journalism

aksi-super-damai-212-640x330

Sudah terlalu gerah kita melihat bagaimana media barat terus mempersepsikan Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan. Tulisan Herri Cahyadi yang dimuat di Republika Online yang berjudul Framing Media Barat Terhadap Aksi Damai 212, karenanya sangat menarik untuk disimak. Yang paling mengesalkan adalah bahwa Islam yang terus disorot adalah kekerasannya terus.

Continue reading “Melawan Framing Media Barat Terhadap Islam Dengan Citizen Journalism”

Truk LPG Pertamina Terguling : Antara Rakyat Jelata & Korporasi Besar Yang Cuma Bisa Minta Maaf

Saya mengalami salah satu akhir pekan paling menyenangkan sepanjang sejarah hidup saya berkat Pertamina. Sabtu dan Minggu, 3 & 4 September 2016 saya bersama keluarga saya menghabiskan berjam-jam di jalan tol Jagorawi berkat tergulingnya truk LPG. Tidak cuma sekali, tetapi dua kali. Ketika berangkat dan pulang. Continue reading “Truk LPG Pertamina Terguling : Antara Rakyat Jelata & Korporasi Besar Yang Cuma Bisa Minta Maaf”

Gaya Komunikasi Pejabat Publik VS Ekspektasi Masyarakat

Dalam sebuah pemberitaan di tempo 11 Juli 2016, Menteri Perhubungan dengan tegas (bahkan cenderung kasar dan emosi) mengatakan hanya orang tolol yang nyuruh mundur gara-gara itu (macet di Brebes Exit). Bahkan secara hampir 100% letter lux menempatkan pernyataan Menteri Perhubungan tersebut sebagai judul dari artikel tersebut. Pernyataan tersebut saya yakin membuat orang banyak kecewa. Bukan terhadap bahwa ia tidak ingin mundur, tetapi bagaimana cara menjawab kepada masyarakat melalui media massa.

Continue reading “Gaya Komunikasi Pejabat Publik VS Ekspektasi Masyarakat”

Pejabat Publik dan Sosial Media

Basuki Dian Sastro

Sosial media kemarin dihebohkan dengan meme foto istri dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang diasumsikan cemberut karena suaminya sedang selfie dengan Dian Sastro, pemeran AADC 2. Tak pelak beragam asumsi yang paling jauh sekalipun. Bahkan ada yang mengkait-kaitkannya dengan tahun 2017. Kehadiran sosial media telah sedemikian rupanya “dimanfaatkan” sebagai media komunikasi pejabat publik dengan warganya. Bagaimana kemudian dalam memandang keterkaitan antara sosial media dengan pejabat publik? Continue reading “Pejabat Publik dan Sosial Media”

Penampilan Pejabat Publik, Personal Branding dan Ekspektasi Masyarakat

Pasha Ungu

Bukan cuma sekali ini Pasha Ungu membuat “sensasi” terkait dengan tingkah lakunya sebagai seorang pejabat publik. Sebelum tampil dengan tampilan ala “rocker” dengan padanan tampilan pakaian yang nyeleneh, Pasha Ungu sempat tampil merokok dengan pejabat publik lainnya dalam salah satu kesempatan acara formal. Tepatkah hal tersebut, khususnya bila kita memandang dari personal branding dan ekspektasi masyarakat?

Continue reading “Penampilan Pejabat Publik, Personal Branding dan Ekspektasi Masyarakat”

Tepatkah Zaskia Gotik Menjadi Duta Pancasila?

Zaskia Gotik

Pemunculan wacana Zaskia Gotik menjadi duta Pancasila memicu sejumlah polemik. Tak pelak, wacana ini mendapatkan tentangan dari sejumlah pihak. Mantan artis cilik Leony, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu hingga putri Presiden Republik Indonesia yang pertama, Rachmawati Soekarnoputri dengan tegas menyatakan keberatannya Zaskia Gotik menjadi Duta Pancasila. Tepatkah Zaskia Gotik menjadi Duta Pancasila?

Continue reading “Tepatkah Zaskia Gotik Menjadi Duta Pancasila?”

Zaskia Gotik dan Upaya Pemulihan Citra

Zaskia Gotik

Buntut dari ucapan Zaskia Gotik yang dianggap merendahkan lambang negara berbuntut panjang. Zaskia Gotik diancam hukuman penjara yang tidak main-main. Selain itu nama baik dan citra positif dari Zaskia Gotik menjadi tidak baik. Zaskia Gotik saat ini sedang mengalami krisis personal branding. Kita tahu kemudian, bahwa saat ini Zaskia Gotik aktif melakukan mediasi dengan berbagai pihak. Hal ini dapat kita pandang sebagai upaya-upaya untuk pemulihan citra. Tapi kemudian apakah upaya pemulihan citra negatif itu dapat menyelesaikan aspek permasalahan hukum?

Continue reading “Zaskia Gotik dan Upaya Pemulihan Citra”

Manfaat Standarisasi Laporan Tahunan Instansi Pemerintah

Lakip

Selama ini, saya yakin begitu sulitnya ketika kita mencari data-data atau informasi yang bisa dijadikan rujukan valid mengenai kinerja instansi pemerintahan ataupun data-data kedinasan lain yang terkait dengan bidang yang menjadi tanggung jawab kedinasan dari sebuah instansi pemerintahan. Karenanya saya tidak bisa tidak setuju, ketika penulis Annual Report yang pernah bekerjasama dengan saya, yakni Anab Afifi menyuarakan Perlunya Standarisasi Annual Report Instansi Pemerintah. Apa manfaatnya?

Continue reading “Manfaat Standarisasi Laporan Tahunan Instansi Pemerintah”

5 Kesulitan Menjadi Penulis Pidato dan Cara Mengatasinya

Speechwritter

Dalam sebuah tulisan Rune Kier Nielsen di website prdaily.com yang berjudul 5 Reasons Never to Become Speechwritter, ia menyebutkan 5 alasan kenapa anda seharusnya tidak menjadi penulis pidato.  Tulisan ini menyentak saya, karena sebagian kecil dari pekerjaan yang saya lakukan adalah menulis pidato untuk top manajemen dan terkadang juga pemegang saham bila diminta. Apa saja 5 kesulitan menjadi penulis pidato dan bagaimana cara mengatasinya?

Continue reading “5 Kesulitan Menjadi Penulis Pidato dan Cara Mengatasinya”

Kampanye Turn Back Crime Yang Meningkatkan Image Polisi

Turn Back Crime

Sejak keberhasilan Polisi dalam mengendalikan peristiwa bom sarinah, image polisi terus membaik. Dampak lanjutan dari peristiwa tersebut adalah populernya tagar #PolisiGanteng yang mengapresiasi dan mengakui betapa kerennya polisi kita. Kehadiran polisi-polisi berbaju biru dengan celana khaki berwarna krem telah mendobrak paradigma bahwa seragam polisi hanyalah cokelat-cokelat saja. Tidak hanya itu, slogan Turn Back Crime semakin populer. Tidak hanya oleh para polisi, tapi entah bagaimana caranya masyarakat umum pun bisa mengenakan kaos berlogo Turn Back Crime tersebut. Tapi apakah sebenarnya maksud dari Turn Back Crime tersebut? Darimana asalnya?

Continue reading “Kampanye Turn Back Crime Yang Meningkatkan Image Polisi”