Sosial Media dan Kepalsuan


Sosial Media dan Kepalsuan

Mungkin sudah banyak yang membahas ini, mengenai sosial media yang terkadang penuh dengan kepalsuan yang ada didalamnya. Tentang foto-foto ataupun video yang diedit sedemikian rupa agar terlihat bagus, indah dan sedap dipandang. Agar mendapatkan puja dan puji di kolom komentar. Agar mendapatkan like di setiap postingan yang kita unggah di akun pribadi sosial media kita.

Salah satu yang sedang ramai di perbincangkan beberapa waktu lalu adalah seorang ahli bela diri yang bernama Chintya Candranaya yang dituding oleh komunitas Martial Mix Art (MMA) melakukan kebohongan publik pada videonya yang diupload di youtube channelnya. Dalam videonya, Chintya Candranaya menampilkan adegan bela diri dimana dia bisa membuat tembok retak, dan besi pun patah. Video tersebut dianggap mustahil oleh komunitas Martial Mix Art dan beberapa youtube channel dari atlit serta komunitas MMA telah membahas dan mengeluarkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Chintya Candranaya melakukan kebohongan.

Terlepas dari benar atau salahnya apa yang dilakukan oleh Cinthya dan kelanjutan “drama” dengan komunitas Martial Mix Art, barangkali sebenarnya kita sudah sama-sama mengetahui bahwa sosial media itu penuh dengan “permak” jika tidak ingin dibilang penuh dengan kepalsuan. Dengan sadar, terkadang kita melakukan itu di banyak postingan pribadi kita di sosial media. Foto yang kita share seringkalki kita filter, crop, dan berbagai hal agar foto atau video yang kita posting lebih terlihat bagus.

Kebohongan lain yang acapkali kita temui adalah ketidakjujuran dari postingan. Misalkan seseorang foto di depan sebuah mobil mewah dan mengatakan bahwa mobil itu miliknya padahal sebenarnya bukan, dan lain sebagainya. Cerita-cerita seperti itu banyak sekali kita temui dalam kehidupan pribadi, dan kini sosial media. Memang sosial media telah menjadi etalase dari persona yang ingin kita tampilkan kepada dunia, atau sekurang-kurangnya kepada lingkaran pertemanan yang ada di sosial media.

Salahkah itu dilakukan? Kalau sebatas hanya merubah angle, pencahayaan, cropping untuk mendapatkan kualitas gambar yang lebih baik atau sesuai dengan selera kita, rasa-rasanya itu masih wajar. Semua orang rasa-rasanya tidak mungkin tidak pernah melakukan itu. Public figure melakukan itu, brand-brand ternama melakukan itu. Hal tertentu, dalam dunia komunikasi dan pemasaran rasa-rasanya sangat lumrah untuk dilakukan. Tidak mungkin sebuah brand ingin menampilkan content promosi yang biasa-biasa saja bukan? Walaupun tentu dalam prakteknya harus tetap mengedepankan etika dan melindungi konsumen.

Tapi kalau sudah menjadi sebuah bentuk kebohongan yang kita umbar kepada publik, rasa-rasanya hal tersebut tidak baik untuk dilakukan. Biar bagaimanapun kita semua sebagai content creator memiliki kewajiban moral terhadap content yang kita buat dan bagaimana dampaknya terhadap penikmat content kita. Blogger punya tanggung jawab moral, vlogger pun juga punya, apalagi channel youtube yang sudah memiliki subscriber hingga mencapai jutaan orang jumlahnya. Seperti Chintya Candranaya misalnya?

— 000 —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s