Ajakan Berkurban Kok Tendensius? (Bisa Jadi) Sebuah Blunder Komunikasi


Ajakan Beribadah - Copy

Sebuah postingan mengenai ajakan berkurban menarik perhatian saya. Atau barangkali lebih tepatnya sebuah postingan update status dari seorang teman lama saya seorang jurnalis mengenai postingan ajakan berkurban yang dikomunikasikan oleh salah satu lembaga amil zakat terkemuka di Indonesia. Ia menganggap bahwa postingan tersebut bernada sedikit tendensius atau “nyinyir”. Mengapa demikian? Mari kita telaah lebih dalam.

Teman saya tersebut menuliskan seperti ini :

Berkurban itu personal bukan? Beli sepeda mahal emang kenapa (kalo mampu)? Yang beli sepeda mahal itu pasti fakir amal?  Belum tentu akhi! Bisa jadi amal baiknya melimpah daripada mas desaigner atau pimpinan lembaga ini. ni ajakan ibadah tapi kok nyinyir! Mengajak kebaikan itu ya dengan cara yang baik saja. Tak lebih tak kurang.

Pertama-tama sebelum kita menelaah pesan yang ingin disampaikan, saya ingin mengajak agar kita semua tidak membawa unsur keagamaan dalam analisis komunikasi terhadap pesan yang ingin disampaikan. Karena kita semua sama-sama tahu dan sepakat saya kira bahwa yang namanya ajakan untuk berkurban adalah sebuah hal yang positif.

Mari kita analisis pesan yang disampaikan oleh lembaga amil zakat tersebut. Pesan tersebut terdiri dari 2 bentuk komunikasi. Yang pertama adalah komunikasi secara tekstual, dan yang kedua adalah komunikasi visual.

Komunikasi secara tekstual yang disampaikan adalah :

Alhamdulillah, sepeda udah kebeli. Tapi, tahun ini jadi kurban, kan?

Sedangkan dari sisi komunikasi visual, pesan yang disampaikan secara tekstual diperkuat dengan tampilan visual sepeda dengan bayangan siluet hewan sapi.

Sepintas tidak ada yang salah mengenai komunikasi tekstual yang ingin disampaikan. Bisa jadi komunikasi tekstual yang seperti ini akan diinterpretasikan oleh yang membaca sebagai bentuk pengingat untuk berbagi rejeki melalui berkurban atas rejeki yang telah kita dapatkan. Salah satunya mungkin dalam bentuk mampu membeli sepeda. Tidak ada kata mahal ataupun murah dalam pesan tersebut yang mengindikasikan secara spesifik pesan ini disampaikan kepada golongan tertentu. Tapi, barangkali kita sudah terekspose oleh pemberitaan mengenai image sepeda yang sudah naik kelas menjadi sebuah komoditi mewah untuk golongan menengah ke atas. Dari sisi tampilan visual sepeda tersebut lagi-lagi memang tidak menampilkan logo atau merek tertentu yang dapat mengindikasikan bahwa pesan ini ditujukan untuk golongan tertentu.

Tapi jika kita menelaah dari pendekatan komunikasi paling mendasar yaitu what message deliver to who with what channel dengan ada faktor noise, barangkali pesan komunikasi yang ingin disampaikan tersebut bisa menjadi sebuah blunder komunikasi. Kenapa, ada faktor noise dalam komunikasi secara tekstual dan visual yang lebih kentara dibandingkan dengan komunikasi yang dilakukan secara verbal.

Secara tekstual ada 2 kalimat utama, sudah membeli sepeda dan mempertanyakan apakah kita yang mendapatkan pesan tersebut akan melakukan kurban atau tidak. Penggunaan ukuran font pada kalimat tahun ini jadi kurban kan dengan tanda baca berupa tanda tanya menegaskan bahwa pesan tersebut adalah yang lebih diutamakan. Artinya pesan tersebut secara terang-terangan mempertanyakan apakah kita akan berkurban atau tidak. Jika digabungkan, faktor cara kita memenggal kata atau kalimat dan juga memaknai tanda baca bisa juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi interpretasi kita terhadap pesan tersebut.

Postingan status teman saya tersebut barangkali bisa menjadi pembuka mata kita semua yang berkecimpung di bidang komunikasi untuk lebih sensitif dalam mengeksplorasi kreativitas. Karena interpretasi seseorang juga merupakan sebuah bentuk noise. Bagaimana kita menginterpretasi sebuah pesan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Bisa jadi itu faktor tingkat pendidikan, pengalaman, sudut pandang seseorang, bagaimana cara orang memenggal kata ataupun kalimat. Interpretasi setiap orang sangat mungkin berbeda, dan karenanya pendapat teman saya tersebut sangat diwajarkan.

Inti yang saya ingin tekankan adalah, bahwa orang-orang yang berkecimpung di bidang komunikasi harus berhati-hati sebelum membuat atau menyetujui sebuah materi komunikasi apalagi yang akan disampaikan kepada publik. Sensitivitas harus dibangun.

Mungkin ada yang tidak setuju?

— 000 —

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s