Buanglah Sampah Sembarangan dan 10 Tahun Kemudian Anda akan Mati Tertimbun Sampah Itu – Sebuah Cerita Tentang Masmimar Mangiang


Buanglah sampah

Kalimat yang menjadi judul dari tulisan ini adalah kalimat yang barangkali menjadi salah satu kalimat penting yang pernah saya dengarkan selama saya hidup. Bagi anda, kalimat tersebut mungkin tidak ada maknanya sama sekali. Tapi untuk saya, kalimat tersebut terasa begitu personalnya. Saya lupa persis kapan tepatnya saya mendengar kata itu. Yang pasti, kalimat tersebut dilontarkan oleh Masmimar Mangiang, salah seorang yang saya pandang berjasa bagi hidup saya dengan segala ilmu yang ia berikan kepada saya.

Lebih lengkapnya, untaian kalimat yang ia sampaikan kepada saya adalah :

“Tulislah buanglah sampah pada tempatnya” dan tidak akan ada orang yang menggubrisnya. Tapi tulislah “Buanglah Sampah Sembarangan dan 10 Tahun Kemudian Anda akan Mati Tertimbun Sampah itu” barangkali baru akan ada orang yang memperhatikan.

Kalimat tersebut benar-benar merubah cara pandang saya terhadap sebuah penulisan, dan tentang bagaimana cara dan gaya penulisan. Menurut Bang Mimar, dalam menulis selain memperhatikan teknik penulisan yang benar, sebuah penulisan harus memiliki rasa dalam bahasa. Sebuah tulisan yang baik tidak boleh terasa hambar dan kering. Sejak saat itu, saya selalu memasukkan rasa dalam setiap tulisan saya.

Bicara soal rasa dalam penulisan, barangkali memang tidak ada panduannya. Rasa dalam menulis bisa jadi bersumber dari pengalaman dan wawasan atau bahkan bisa didapatkan dari kemampuan teknis seorang penulis dalam memadupadankan pilihan kata. Bisa jadi rasa penulisan memang tergambarkan dari jam terbang seorang penulis.

10 tahun lebih dari Bang Mimar menyampaikan kalimat itu kepada saya, kalimat itu masih berbekas dan terngiang. Sudah lebih dari 10 tahun saya lulus dari FISIP UI, tempat saya bertemu pertama kali dengan Bang Mimar. Dari dirinya, saya belajar banyak mengenai penulisan. Meskipun saya sudah bekerja bersama dengan puluhan penulis dan membuat ratusan lebih tulisan untuk kebutuhan pekerjaan saya, tapi dasar-dasar penulisan yang ia berikan rasa-rasanya tidak akan pernah usang ditelan masa.

Selepas lulus dari FISIP UI, dalam beberapa kesempatan saya seringkali menyapa Bang Mimar melalui akun facebooknya. Saya juga masih terkadang masih suka membaca postingan-postingannya di sosial media yang mengkritik teknik penulisan di media. Saya juga sering berbagi hasil tulisan saya dan meminta tanggapan dari dirinya.

Ia adalah sosok yang begitu kaya akan pengetahuan tentang penulisan dan jurnalisme. Diluar itu, ia adalah sosok yang begitu hangat, dan begitu jenaka. Sosok yang begitu dirindukan, bukan cuma karena kontribusinya yang luar biasa terhadap kepenulisan tapi juga karena kepribadiannya.  Selamat jalan Bang Mimar.

— 000 —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s