Truk LPG Pertamina Terguling : Antara Rakyat Jelata & Korporasi Besar Yang Cuma Bisa Minta Maaf


Saya mengalami salah satu akhir pekan paling menyenangkan sepanjang sejarah hidup saya berkat Pertamina. Sabtu dan Minggu, 3 & 4 September 2016 saya bersama keluarga saya menghabiskan berjam-jam di jalan tol Jagorawi berkat tergulingnya truk LPG. Tidak cuma sekali, tetapi dua kali. Ketika berangkat dan pulang.

Hari Sabtu, sekitar pukul 18.30 lebih saya mulai terjebak berjam-jam mulai dari km 40 lebih menuju pintu tol Ciawi. Sekedar informasi, pintu tol ciawi berada di km 44. Untuk menempuh jarak 4 km saja, saya harus menghabiskan waktu 2,5 jam lebih. Saya kemudian menghubungi 14080, call center dari Jasa Marga yang memberikan informasi mengenai kondisi lalu lintas yang terjadi di jalan tol. Dari informasi yang disampaikan oleh petugas jalan tol, barulah saya tahu ada truk milik Pertamina yang terguling.

Sebagai orang yang mengetahui berbagai strategi komunikasi perusahaan, saya menghubungi call center Pertamina untuk menyampaikan keluhan saya. Namun berkali-kali saya hubungi, call center Pertamina tidak mengangkat telepon saya. Akhirnya saya putuskan untuk menghubungi callcenter Pertamina dengan mengakses line khusus bahasa Inggris. Ini tips untuk anda, jika call center sebuah perusahaan sangat sulit untuk dihubungi, cobalah hubungi line berbahasa inggrisnya (jika ada), biasanya lebih mudah untuk diakses.

Dari jawaban petugas call center tersebut, saya mengetahui bahwa truk tangki LPG tersebut sempat mengalami mogok dan kemudian mobilnya tidak kuat untuk menahan beban ditanjakan, sehingga akhirnya mobilnya terguling di lokasi. Yang lebih memperkuat keluhan saya, adalah bahkan petugas call centernya sendiri saja mengakui bahwa hal tersebut merupakan kelalaian Pertamina.

Untuk keterangan mengenai penyebab dari kenapa truk tangki LPG tersebut, penjelasan yang diuraikan oleh Oke Zone sangat mirip dengan penjelasan dari petugas call center yang saya hubungi.

Dalam artikel tersebut, Okezone memberitakan bahwa truk tersebut sempat mengalami gangguan mesin. Berbeda dengan penjelasan Corporate Communication Pertamina di Liputan 6 yang mengatakan bahwa truk tangki tersebut layak operasi. Menurutnya kendaraan bisa jalan layak operasi. Tentu metromini yang sudah bobrok tapi masih memiliki ban untuk menggelinding, dianggap layak jalan tapi jelas tidak layak operasi. Artinya ada kemungkinan bahwa truk yang terguling tersebut dipaksakan untuk tetap jalan.

Tidak hanya ketika pergi kepuncak saja, saya terkena dampak. Ketika pulang menuju Jakarta pun saya terkena dampak kemacetan yang luar biasa, karena proses pengevakuasiannya pun belum  selesai. Proses penguraian kemacetan yang juga berlangsung lama, membuat perjalanan pulang saya ikut terkena kemacetan berjam-jam.

Sadar bahwa kemacetan yang menimpa pengguna jalan ini merupakan tanggung jawabnya Pertamina, maka Pertamina sebenarnya sudah sangat baik untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat. Pertamina pun terbuka kepada media, dan mengkomunikasikan secara intensif langkah-langkah penanganan yang sudah dan akan dilakukan. Intinya Pertamina sudah melakukan standar penanganan krisis komunikasi dengan sangat baik persis sesuai text book kehumasan manapun di dunia ini.

Pertamina mampu mencegah pemberitaan menjadi liar di media. Mereka mampu menempatkan porsi pemberitaan yang berimbang. Untuk itu saya harus acungi jempol untuk praktisi corporate communication yang ada di sana. Tim Corporate Communication mereka pasti standby 24 jam pas akhir pekan kemarin.

Tapi selebihnya tidak ada tanggung jawab Pertamina kepada para pengguna jalan yang terganggu waktunya, emosinya, bahkan psikologisnya. Tidak ada upaya ganti rugi yang disediakan oleh Pertamina kepada para pengguna jalan raya. Bensin menguap begitu saja dijalan. Waktu terbuang tanpa arti. Berapa potensi kerugian sebuah daerah. Coba bayangkan bila ribuan orang yang terjebak dijalan itu cepat sampai di Puncak dan menghabiskan uangnya di Puncak. Berapa potensi perekonomian yang tergerak, namun menjadi stagnan karena sebuah truk Pertamina yang rusak mesinnya lalu terguling di jalan tol?

Kalau minta maaf saja, semua juga bisa. Memangnya Pertamina mau, saya datang ke SPBU terus minta mobil saya diisi bensinnya, terus saya minta maaf karena lupa membawa dompet?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s