Awkarin. Pemasaran Dengan Cara Menjual Kontroversi


Awkarin

Hebohnya masyarakat dan juga netizen dalam menanggapi kemunculannya Awkarin sedikit banyak ikut meresahkan saya juga. Permasalahannya ada 2, Awkarin (yang nama aslinya adalah Karin Novilda), memiliki banyak penggemar yang kebanyakan pelajar SMP dan SMA, dan yang lebih permasalah, content yang ia unggah ke berbagai platform sosial media sangatlah tidak sesuai dengan norma masyarakat. Singkat kata, ia menjadi kontroversi.

Menjadi kontroversi karena membahayakan para pelajar SMP dan SMA yang mengidolakannya sehingga menjadi contoh prilaku yang tidak baik dan tidak tepat. Lebih parahnya lagi, banyak sejumlah produk yang minta diendorse oleh awkarin melalui akun instagramnya. Padahal sebagaimana diberitakan oleh sejumlah media mainstream dan blogger lainnya, Awkarin pernah menjadi seorang pelajar yang berprestasi. Sungguh sangat disayangkan sebenarnya, dengan potensi penggemarnya yang begitu banyak, ia bisa memberikan manfaat yang positif.

Saya malah jadi berpikir memang tujuannyalah untuk menciptakan kontroversi, atau dengan kata yang lebih tegas : menjadi kontroversi. Menciptakan kontroversial, atau sesuatu yang bertolak belakang dengan sesuatu yang sudah well established sebelumnya adalah cara yang paling mudah untuk membangun popularitas. Hal ini banyak dilakukan oleh para selebritas (dengan segala hormat kepada profesi tersebut). Semakin kontroversial, maka akan semakin populer seorang selebriti yang tentu akan berdampak pada meningkatnya tawaran pekerjaan.

Mungkin hal ini memang yang diincar oleh awkarin. Ia memang ingin menjadi kontroversial, sehingga ia menjadi populer. Mau popularitas secara negatif ataupun positif, yang penting ia populer. Jika sudah populer, maka akan lebih mudah dikonversikan menjadi bentuk uang. Hal ini diterjemahkan dalam bentuk sosial medianya yang mengendorse produk-produk lain. Memang awkarin belum sebanyak Dagelan yang memiliki 10 juta followers di Instagram, namun ratusan ribu followers tetap saja menjadi asset dan daya tarik bagi produk untuk di endorse. Belum lagi ratusan ribu subscribersnya di Youtube, jelas akan membuat produk manapun punya peluang yang baik untuk meningkatkan awareness.

Namun terlalu dangkal, bagi setiap produk jika hanya melihat endorser dari jumlah followersnya semata. Kita tentu perlu membangun keterkaitan atau asosiasi positif antara produk kita dengan endorser yang kita pilih. Sebagai marketer, tentu kita tidak ingin bila produk kita diasosiasikan sebagai produk yang brand ambassadornya adalah abg labil.

Sayang, sungguh seribu sayang, padahal Awkarin punya potensi yang luar biasa positif dengan asset ratusan ribu followersnya. Alih-alih hanya menangis, lalu mengeluarkan sumpah serapah dan lain sebagainya yang tidak patut untuk kita saksikan, ia bisa membuat content yang lebih positif. Misalnya cara move on dari mantan secara positif, atau konten-konten lain yang sifatnya positif. Mungkin akan lebih banyak manufaktur berskala besar yang mempertimbangkan dirinya untuk menjadi brand ambassador atau endorser di sosial media.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s