Gaya Komunikasi Pejabat Publik VS Ekspektasi Masyarakat


Dalam sebuah pemberitaan di tempo 11 Juli 2016, Menteri Perhubungan dengan tegas (bahkan cenderung kasar dan emosi) mengatakan hanya orang tolol yang nyuruh mundur gara-gara itu (macet di Brebes Exit). Bahkan secara hampir 100% letter lux menempatkan pernyataan Menteri Perhubungan tersebut sebagai judul dari artikel tersebut. Pernyataan tersebut saya yakin membuat orang banyak kecewa. Bukan terhadap bahwa ia tidak ingin mundur, tetapi bagaimana cara menjawab kepada masyarakat melalui media massa.

Media massa adalah salah satu referensi utama masyarakat dalam mencari informasi. Dari situ masyarakat bisa mendapatkan informasi dan kemudian mencerna dan memberikan persepsi terhadap pemberitaan dan objek pemberitaan.

Terkait dengan pernyataan Menteri Perhubungan di pemberitaan Tempo tersebut, ada beberapa poin penting sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Kementerian Perhubungan. Pertama, adalah terkait dengan kemacetan di Brebes Exit, ia ingin menyampaikan bahwa bukan hanya kementerian yang ia pimpin sajalah yang bertanggung jawab terhadap adanya kemacetan. Dan karenanya, poin kedua yang bisa dicerna adalah ia menolak untuk bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dipersalahkan oleh masyarakat.

Baca Juga : Brexit dan Manajemen (M)udik

Menanggapi poin pertama, tentu masyarakat belum sepenuhnya tersosialisasikan dengan baik tugas dan tanggung jawab dari masing-masing kementerian terkait dengan pelaksanaan pengelolaan mudik raya 2016. Ketika ia mensosialisasikan bahwa Kementerian Perhubungan hanya menangani transportasi berbasis udara, kapal berbasis laut, kereta api, serta angkutan umum berbasis jalan raya, hal ini sudah merupakan komunikasi yang sangat baik sebenarnya. Namun karena omongan “orang tolol” yang ia lontarkan, masyarakat menjadi apatis untuk mencari informasi tersebut sebelumnya.

Ditambah lagi beberapa hari sebelumnya ia sempat membuat pernyataan yang juga tak kalah kontroversialnya yakni terkait dengan ketidakpercayaannya bahwa kemacetan bisa membuat orang meninggal. Hal ini masih sangat segar dalam ingatan masyarakat dan juga media. Disaat sejumlah menteri menyampaikan permohonan maafnya kepada masyarakat, malah ada satu menteri yang dengan lantang malah melontarkan pernyataan yang menghina.

Sebenarnya, tudingan kepada kementerian perhubungan untuk bertanggung jawab mengenai kemacetan di Brebes Exit tersebut, selain ketidaktahuan masyarakat terhadap tupoksi dari masing-masing kementerian, juga menandakan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kementerian masyarakat. Terlebih lagi tingginya popularitas Ignasius Jonan sebagai mantan Direktur Utama PT. KAI yang membawa perusahaan BUMN tersebut menjadi berkinerja lebih baik dan sehat, mendorong tingginya ekspekstasi masyarakat.

Jadi ekspektasinya tinggi karena reputasi positif yang sudah berhasil terbangun. Alangkah sangat sayangnya reputasi itu tercoreng hanya karena pernyataan yang keluar akibat emosi semata. Ekspektasi masyarakat terhadap pejabat publik adalah pejabat yang jujur, berintegritas, memiliki kemampuan yang cakap dan sederet atribut positif lainnya, termasuk kemampuan berkomunikasi yang baik. Alangkah bijaknya jika Kementerian Perhubungan mempublikasikan pencapaian kinerja penanganan mudik raya pada bidang yang memang ditanganinya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Sumber Foto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s