Sosial Media dan Posting Kegiatan Ibadah


 

Selfie

Sosial media telah berkembang menjadi sarana para penggunanya, bukan hanya sekedar untuk berbagi content dan informasi, tetapi juga menjadi media untuk aktualisasi diri, terutama yang berkaitan dengan pencapaian pribadi, baik secara duniawi (materi yang dimiliki seperti harta kekayaan pribadi, ataupun liburan diluar negeri) dan juga secara spiritual dengan posting kegiatan-kegiatan pribadi yang berkaitan dengan agama ataupun pelaksanaan ibadah. Bagaimana memandangnya dalam konteks ilmu komunikasi dan social media?

Hal tersebut menarik perhatian saya ketika saya melihat salah satu postingan gambar berisikan teks dari dosen saya di FISIP UI yakni Bang Masmimar Mangiang. Dengan lugas ia menuliskan sebagai berikut :

Masmimar Mangiang
Foto diambil dari akun facebook Bang Masmimar Mangiang

Aktivitas beribadah pribadi dipamerkan begitu banyak di media sosial. Maka dalam hati saya bertanya, apakah menebar kesan sebagai insan beriman sudah menjadi lebih penting dibandingkan dengan penghayatan dan pengamalan agama itu sendiri?  Prilaku banyak orang menempatkan semua itu kini sekelas dengan selfie.

Postingan tersebut mendapatkan cukup banyak tanggapan, dan beberapa diantaranya cukup keras dalam pandangan saya. Dalam pernyataannya, Bang Mimar menyatakan bahwa pendapatnya tersebut tidak mentendensikan adanya penilaian benar atau salah terhadap orang-orang yang suka memposting kegiatan ibadah atau kegiatan agama. Namun setelah saya mencoba telaah kata per kata dari apa yang dituliskan oleh Bang Mimar, ada satu penggalan kalimat yang mungkin menyebabkan orang jadi berpikir bahwa pernyataan ini malah memberikan penilaian benar atau salah, yakni pada penggalan kalimat “menebar kesan sebagai insan beriman”.

Kata “menebar kesan sebagai insan beriman” inilah yang dalam pandangan saya membuat pernyataan yang dituliskan oleh Bang Mimar menjadi bertendensi untuk memberikan penilaian. Memang interpretasi setiap orang akan berbeda satu sama lain sekalipun yang menulis sudah sangat berhati-hati dalam melakukan pemilihan dan pemenggalan kata-kata agar tidak menimbulkan multitafsir. Saya yakin dan sepenuhnya percaya bahwa Bang Mimar telah memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.

Bicara soal bagaimana kemudian menginterpretasikan keseluruhan maksud dari tulisan tersebut, atau dalam rangka untuk menjawab apakah posting kegiatan ibadah lebih penting daripada penghayatan dan pengamalan agama itu sendiri, saya yakin semua akan sepakat dengan jawaban yang sangat retorik, yakni pengamalan agama lebih penting daripada posting kegiatan ibadah di sosial media. Tapi ada beberapa faktor psikologis yang mungkin harus dikedepankan untuk menjawab pertanyaan tersebut, yakni sebagaimana telah saya utarakan diawal tulisan ini, bahwa sosial media juga menjadi media aktualisasi diri bagi para penggunanya. Ada semacam kenikmatan sendiri setelah memposting sebuah content dan mendapatkan apresiasi dari pengguna lainnya.

Posting mengenai kegiatan ibadah tentu menjadi semakin menemukan relevansinya dengan momentum ibadah puasa yang sedang dilakukan oleh muslim di Indonesia dan seluruh dunia. Anggaplah dengan posting kegiatan ibadah, merupakan perwujudan syukur karena telah melaksanakan kegiatan ibadah. Anggaplah juga bahwa dengan posting kegiatan ibadah, juga menjadi sarana untuk mengajak orang lain juga untuk ikut beribadah. Kedua hal tersebut adalah hal baik yang semoga menjadi motivasi orang-orang yang memposting kegiatan ibadahnya di sosial media. Tetapi biar bagaimanapun kita tidak bisa mengukur dan mengetahui secara pasti motivasi orang dalam memposting kegiatan ibadah di sosial media.

4 thoughts on “Sosial Media dan Posting Kegiatan Ibadah

  1. Tulisan dan comment yang menarik 🙂

    Saya bukan penggila media sosial, tapi saya sangat memahami apa yang di sampaikan pada postingan ini. Dulu saya sempat ingat, waktu jaman “burung biru” booming, bahkan banyak orang yang menyampaikan do’a dalam statusnya, tapi apakah itu menjadikan nya ‘Insan beriman?’.
    Bukan berarti saya tidak pernah melakukan nya, tapi tidak luput dari setiap pembelajaran, maka saya perlahan belajar “memilih yang lebih baik”.

    Jadi menurut saya, apa yang tersampaikan pada comment bang mimar, sangat cantik. Terlebih justru karena kita tidak pernah tau motivasi apa yang mengukur individu dalam memposting suatu ‘amalan’ di medsos, jadi bukankah sebaiknya kita kembali pada apa yang tertulis dalam Al-Quran?

    PS : Pernah baca postingan ini, lucu dan memang begitulah faktanya : https://nonikhairani.com/2016/05/10/pamer-di-social-media/

    Like

    1. Terimakasih untuk apresiasinya 🙂

      Saya pun setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bang Mimar dalam tulisannya. Namun bagaimanapun kita tidak bisa dan tidak berhak menilai motivasi seseorang yang melakukan posting di kegiatan ibadahnya di sosial media.

      Namun apa yang disampaikan adalah hal yang bersifat baik dan karenanya wajib disebarluaskan agar kita menjadi diingatkan,

      Like

  2. Benar, Oji Fakhrurroji Hasan … Tentu saja setiap posting-an akan menggiring orang membuat penafsiran atau pemahaman tentang sesuatu. Jika isi posting-an itu “saya akan bangun nanti untuk tahajud” atau “saya ke masjid untuk shalat subuh”, kesan yang tercipta antara lain pastilah tentang baiknya iman seseorang. Setidak-tidaknya, akan ada kesimpulan bahwa orang itu adalah orang yang taat.
    Status saya itu kebetulan saja saya tulis pada bulan Ramadan. Tetapi kebiasaan yang saya pertanyakan dalam status itu sudah marak jauh sebelum bulan puasa, bukan sekali dua kali, tapi dari orang yang sama bisa tujuh kali dalam seminggu. Itu pun bukan satu dua orang.
    Kenapa saya mempertanyakan itu? Pencetusnya adalah gejala yang mengabaikan apa yang disebut sebagai ikhfa’ al-amal (menyembunyikan amalan). Ikhfa’ al-amal adalah sikap untuk mencegah adanya riya’. Imam Al-Ghazali mengingatkan, ikhfa’ al-amal akan mencegah orang untuk berangan-angan memperoleh pujian. Pujian yang dimaksud –yang tidak dinyatakan– tentu saja antara lain berupa kesan yang diciptakan.
    Segala hal dalam hidup kita dapat menjadi perlajaran, hal yang baik dan juga hal yang buruk. Maka memang tidak dapat dipungkiri perbuatan baik seseorang bisa mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tapi mari kita pahami Surat Al-Baqarah 2: 271. Di situ Allah berfirman tentang sedekah yang ditampakkan (yang diperlihatkan), dan disebut “baik bagimu”. Walau begitu jika sedekah itu tidak ditampakkan (tidak diperlihatkan), dinyatakan sebagai “lebih baik bagimu”.
    Pesan saya dalam status itu adalah “daripada memilih yang baik, pilihlah yang lebih baik” …
    Bagi saya pesan yang mengingatkan teman ataupun khalayak tentang ada sekian persen masyarakat kita masih hidup dalam kemiskinan, ada orang teraniaya yang memerlukan pertolongan, ada warga yang kesusahan yang memerlukan bantuan, jauh lebih bernilai daripada pesan yang memamerkan ketaatan ritual pribadi …

    Like

    1. Terimakasih bang Mimar sudah mampir dan memberikan pendapatnya.

      Saya sangat sependapat dan paham bahwa jika ditanyakan manakah yang lebih baik antara posting kegiatan ibadah atau ritual di sosial media daripada mengamalkan ibadah, tentu secara normatif orang akan sepakat menjawab yang terakhir, walaupun memang pada kenyataannya mungkin tidak selalu itu yang terjadi.

      Bicara mengenai riya atau tidaknya, kita tentu tidak bisa secara pasti mengukur dan menilai secara tepat apa motivasi orang dalam memposting kegiatan ibadah di sosial media apakah bersifat pamer atau tidak.

      Tapi tentunya pesan yang ingin disampaikan oleh Bang Mimar bertujuan baik dan karenanya saya wajib mendukung 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s