Pejabat Publik dan Sosial Media


Basuki Dian Sastro

Sosial media kemarin dihebohkan dengan meme foto istri dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang diasumsikan cemberut karena suaminya sedang selfie dengan Dian Sastro, pemeran AADC 2. Tak pelak beragam asumsi yang paling jauh sekalipun. Bahkan ada yang mengkait-kaitkannya dengan tahun 2017. Kehadiran sosial media telah sedemikian rupanya “dimanfaatkan” sebagai media komunikasi pejabat publik dengan warganya. Bagaimana kemudian dalam memandang keterkaitan antara sosial media dengan pejabat publik?

Jauh sebelum “Ada Pak Ahok dan Cinta”, Barack Obama dengan sangat baik memanfaatkan sosial media untuk membangun komunikasi dua arah, mensosialisasikan kebijakan, dan pada akhirnya mengantarkan dia menjadi presiden. Keberhasilan Obama tersebut membuka cakrawala baru. Bahwa melakukan komunikasi dan promosi politik tidak harus selalu dengan billboard, spanduk dan umbul-umbul atau juga iklan di tv dan surat kabar yang memiliki biaya tinggi. Facebook dan Twitter serta kawan-kawannya telah menjadi media yang begitu “seksi” dimata para pejabat publik dan tokoh politik. Mereka semua berlomba-lomba membuat facebook account dan fanspage, melakukan tweet ditwitter atau sekedar memposting foto di Path dan Instagram.

Lalu kemudian bergemalah istilah politik pencitraan itu. Sampai-sampai ada tudingan kepemimpinan karbitan karena dikerek popularitasnya oleh media mainstream dan pasukan buzzer dari jagat raya social media. Apa motivasi dari pejabat publik membuat twitter atau facebook, jelas hanya para pejabat publik dan timnya yang tahu.

Jelas selalu ada dua sisi dalam mata uang. Sisi positifnya adalah pejabat publik, tokoh politik bersedia membangun komunikasi dua arah. Walaupun kredibilitas dari pesan yang disampaikan melalui social media masih acapkali dipertanyakan. Sudah begitu, kebanyakan dari pejabat publik kebanyakan memiliki tim yang siap berinteraksi dengan dunia maya, meskipun memang terkadang pejabat publikjuga suka mengupdate sendiri akun sosial medianya. Namun terkadang hal itu membuat kita merasa bahwa sebenarnya kita tidak sedang sungguh-sungguh berinteraksi dengan pejabat publik, tapi dengan timnya.

Hal ini wajar sebenarnya, karena kita tentu tidak menginginkan seorang pejabat publik yang hanya gemar mengupdate status di sosial media tetapi jarang bekerja. Pejabat publik tentunya sibuk, dan karenanya membutuhkan bantuan yang ingin berkomunikasi dengan rakyat yang dipimpinnya melalui social media.

Ada sejumlah pejabat publik yang sangat baik dalam memanage sosial medianya. Dan masing-masing dengan gaya khasnya sendiri. Susilo Bambang Yudhoyono dari sewaktu menjabat sebagai Presiden RI hingga saat ini hadir dengan gaya khasnya komunikasi yang santun, terstruktur, dan dengan pilihan kata-kata yang terstruktur. Sementara Joko Widodo lebih memilih untuk menggunakan bahasa yang apa adanya, straight to the point. Salah satu akun sosial media seorang pejabat publik yang menarik dalam pandangan profesional saya adalah Ridwan Kamil, yang tampil otentik, dengan pilihan kata yang fresh, dan terkadang humoris. Ia juga sering memanfaatkan momen yang lagi trend di sosial media.

Mengenai foto instagram yang diunggah oleh sang Gubernur DKI Jakarta, dalam pandangan saya sebenarnya ini adalah sebuah bentuk humor. Sebuah bercandaan laki-laki yang sudah beristri, anggaplah begitu. Lagipula, ini adalah sebuah selfie seorang figur publik dengan seorang pejabat publik. Pejabat publik adalah milik rakyatnya, siapapun rakyatnya itu. Benar atau salah, tentu semua orang akan berbeda dalam menilainya. Tapi barangkali, saya melihatnya begini, foto ini dan juga caption “bisa panjang ceritanya” bisa dipandang sebagai pembentukan kesan, bahwa Gubernur DKI Jakarta yang biasanya suka marah-marah, ternyata bisa bercanda juga, ternyata bisa humoris juga.

Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, ataupun yang paling tepat dari akun sosial media manapun. Yang paling terpenting adalah seorang pejabat publik dalam akun sosial media haruslah jujur dan otentik dalam artian sesuai dengan karakteristik pribadinya dan juga ekspektasi masyarakat terhadap figur seorang pejabat publik. Selain itu dalam berinteraksi dengan netizen, haruslah komunikatif dan bersedia untuk membalas pertanyaan, saran dan juga pengaduan dari para netizen.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s