Prilaku Pengguna Sosial Media, Kekinian dan Komersialisasi


image

Menarik sekali apa yang diungkapkan oleh blogger Noni Khairani dalam tulisannya yang berjudul Pamer di Social Media, bahwa kebanyakan orang menggunakan social media untuk “memamerkan” sesuatu. Barangkali pendapat tersebut benar adanya. Salah satu fungsi sosial media adalah utamanya sharing content. Apapun itu, bisa text, gambar, video, foto, link dan lain sebagainya. Jika mau lebih didetailkan lagi apa yang disharing bisa berupa emosi atau perasaan seseorang, pendapat, opini, ataupun informasi.

Apa yang pengguna sharing kepada networknya bisa bertujuan memang hanya sebatas sharing, mengungkapkan emosi dan opini, menginformasikan sesuatu yang menurutnya penting atau menarik. Ada sebuah penelitian bahwa social media menimbulkan ketagihan, yakni semakin banyak like yang anda terima di facebook ataupun retweet dari akun twitter, maka akan meningkatkan perasaan senang. Hal ini mungkin saja terjadi karena anda merasa diterima dan merasa “penting” akan “kontribusi” anda. Mungkin juga terjadi karena anda merasa dari sebuah bagian dari sebuah trend dan karenanya merasa sangat “kekinian”.

Inilah dorongan psikologis kenapa banyak yang kemudian posting tiket AADC 2 di instagram, path dan facebok anda. Inilah alasan kenapa pengguna sosial media banyak yang memposting foto makanan dan hal lain yang mungkin lagi digemari masyarakat. Banyak yang kemudian menganggap bahwa ini adalah dampak negatif dari social media. Banyak juga yang kemudian menganggap ini secara lebih luas sebagai dampak dari perkembangan smartphone, dan lebih jauh lagi, perkembangan internet dan teknologi mobile.

Kembali lagi kepada soal pamer yang diungkapkan oleh blogger Noni Khairani tadi. Bahwa bicara soal pamer, tidak terlepas dari 2 hal yakni motivasi pengguna social media tersebut, dan persepsi dari pengguna social media lainnya. Apa tujuan dari seorang netizen dalam memposting foto, atau update status tentu hanya diketahui oleh si netizen itu sendiri. Tetapi persepsi dari netizen lain tentu bukanlah hal yang bisa dikontrol oleh seorang netizen. Itu yang harus disadari.

Ambil contoh misalnya, seorang travel blogger yang update soal aktivitas travellingnya. Tujuannya mungkin saja tidak untuk pamer, tetapi lebih kepada berbagi kesenangan, mungkin juga tips bahkan mungkin juga merekomendasikan para pembacanya untuk mengunjungi tempat yang ia kunjungi. Motivasinya sangat mulia. Tetapi seorang travel blogger tidak akan bisa menghindari persepsi bila ada pembacanya yang menganggap dirinya sombong, enak hidupnya jalan-jalan terus. Hampir mirip dengan dunia nyata bukan?

Yang hebatnya lagi, psikologis pengguna social media sudah sangat paham dikuasai oleh produsen barang dan jasa. Jika anda perhatikan, makin banyak perusahaan yang menggunakan social media untuk berkomunikasi secara interaktif dengan pelanggannya. Hal ini mendorong bermunculannya profesi baru, seperti buzzer social media, blogger, social media manager dan lain sebagainya. Sebuah profesi yang tidak pernah terbayangkan akan ada 10 tahun yang lalu.

Jadi sebenarnya ketika anda sedang “memamerkan” sesuatu seperti tiket AADC 2 maka anda sedang membantu promosi film tersebut. Dengan memposting sesuatu yang lagi update, ngetrend atau hits, secara tidak sadar anda memberikan tekanan psikologis agar orang lain juga ikut serta dalam “kekinian” yang coba diciptakan oleh para produsen. 

Advertisements

7 thoughts on “Prilaku Pengguna Sosial Media, Kekinian dan Komersialisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s