Tentang Paul Golding Yang Berbalik Badan


Paul Golding

Kemenangan Sadiq Khan menjadi walikota London Inggris, diwarnai oleh sebuah peristiwa yang menarik dimana Paul Golding, lawan politiknya berbalik badan saat Sadiq Khan menyampaikan pidato. Tak pelak, hal tersebut mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Bagaimana kemudian memandangnya dari berbagai perspektif?

Demokrasi Memandang Semua Sama, Sekalipun Minoritas

Pertama, kemenangan Sadiq Khan memberikan gambaran kepada kita bahwa demokrasi memandang semua sama tanpa terkecuali. Demokrasi yang menjunjung tinggi negara hukum jelas mengedepankan bahwa semua dipandang sama, bahkan sekalipun minoritas. Sadiq Khan merupakan seorang muslim yang menjadi walikota London yang sangat jelas bahwa Islam adalah minoritas. Senada dengan Khan, Ahok memiliki latar belakang etnik dan agama minoritas di wilayah yang mereka pimpin.

Negara Semaju Inggris, Demokrasinya Masih Tertinggal

Apa yang dilakukan oleh Paul Golding sebagai sebuah bentuk protes menandakan bahwa di negara semaju Inggris, pelaksanaan demokrasinya masih sangat jauh tertinggal. Inggris masih harus belajar dari negara Indonesia, yang pelaksanaan demokrasinya dianggap sebagai salah satu yang terbaik didunia. Walaupun jelas, pelaksanaannya masih harus membutuhkan banyak perbaikan. Tapi sepengetahuan saya tidak ada kandidat manapun di Indonesia yang berbalik badan seperti Paul Golding.

Isu Rasisme?

Banyak orang kemudian mengkaitkan peristiwa ini dengan rasisme. Walaupun teramat sangat ingin saya menempeleng si Paul Golding itu, dan sangat ingin mendukung pendapat bahwa apa yang dilakukan oleh Golding sebagai bentuk rasisme kepada Sadiq Khan, saya memilih untuk tidak melihatnya dari sudut pandang rasisme. Bahwa hal tersebut adalah sebuah bentuk prilaku yang tidak santun, jelas saya sangat setuju.

Bagaimana kemudian memandangnya secara utuh? Dalam pandangan saya, ya biarkan saja si Paul Golding melakukan apa yang ia mau. Lagipula Sadiq Khan sudah terpilih menjadi Walikota London, Inggris secara sah. Tidak ada keraguan mengenai itu. Jika saya menjadi Sadiq Khan, saya akan memaafkan Paul Golding. Hal tersebut akan meningkatkan pencitraan positif saya sebagai walikota yang mau merangkul semua elemen.

Ingat, bahwa London adalah kota yang multi kultur, layaknya kota besar metropolitan manapun di dunia. Tak jauh berbeda dengan Jakarta sebenarnya. Momentum Paul Golding memunggungi Sadiq Khan adalah sebuah momentum untuk membangun pencitraan positif bagi Sadiq Khan dengan memaafkan dan merangkulnya. Nabi Muhammad saja mau memaafkan semua yang menghina dirinya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s