Siapa Bilang Orang Indonesia Tidak Suka Baca Buku?


Big bad Wolf

Jika anda kebetulan datang dan mengunjungi pameran The Big Bad Wolf Jakarta Book Sales, anda akan mendapati ribuan orang bersesakan dalam sebuah ruangan besar. Memilih buku-buku dan kemudian membelinya. Jika kemudian hal itu dikaitkan dengan katanya minat membaca orang Indonesia yang rendah, maka apa yang anda lihat di pameran tersebut, sangatlah bertolak belakang. Benarkah orang Indonesia tidak menyukai buku dan tidak suka membaca buku?

Antrian sepanjang 2 hingga 3 kilometer menggambarkan keinginan untuk membeli buku. Terlepas dari fakta bahwa itu adalah sales, dengan harga diskon yang sangat menggiurkan marilah kita anggap antrian tersebut menggambarkan keinginan membeli buku yang sangat kuat. Membeli buku adalah langkah awal untuk membaca buku. Artinya dari apa yang kita lihat respon warga Indonesia khususnya Jakarta dan sekitarnya sangatlah kuat untuk membaca buku.

Kenapa itu bisa terjadi? Kemungkinan besar tentu saja adalah harga buku yang murah untuk kualitas impor. Karena itu, fakta ini bisa kita hubungkan dengan kondisi yang terjadi di industri buku nasional. Harga buku di Indonesia terbilang masih mahal dan jumlah terbitan buku baru yang tidak signifikan berbanding lurus dengan jumlah penduduk. Hal ini terjadi karena struktur biaya buku yang masih didominasi oleh biaya produksi utamanya adalah biaya percetakan. Selain itu adalah biaya distribusi dan promosi. Menyisakan “upah” kepada penulis berupa “royalti” hanya 10 persen saja.

Dengan mendorong peningkatan jumlah persentase royalti yang diterima oleh penulis barangkali akan mendorong pertumbuhan jumlah penulis dan jumlah karya yang akan dibukukan. Setiap tahunnya ada 30 ribu judul buku yang diterbitkan. Jumlah yang terbilang sangat sedikit untuk jumlah negara kita yang mencapai dua ratus juta lebih.

Hal ini, dibarengi dengan efisiensi untuk menurunkan harga buku, mungkin saja dapat meningkatkan jumlah buku yang diproduksi dan jumlah yang akan dibeli. Berdasarkan informasi yang ditulis oleh blogger Manis Tebu, di tahun 2013 jumlah buku yang terjual adalah sebanyak 33,19 juta eksmplar. Jika katakanlah penduduk Indonesia berjumlah sebanyak 200 juta, hanya 1 dari 6 orang yang membeli buku setiap tahunnya.

Disatu sisi, langkah ini juga memerlukan dukungan dari pemerintah, yakni mendorong penegakan hukum terhadap para pelaku pembajakan, dan melindungi hak cipta dari penulis dan penerbit buku, agar penulis dan penerbit buku terus bergerak untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Langkah lain yang mungkin bisa ditempuh adalah pemberian keringanan pajak produksi kepada para pelaku industri buku dan value chain terkaitnya.

Untuk mendorong budaya membaca agar semakin masif lagi, pemerintah juga perlu meningkatkan jumlah perpustakaan, termasuk diantaranya meningkatkan perpustakaan keliling agar masyarakat di pelosok daerah tidak kehilangan akses dan kesempatan terhadap buku-buku bacaan. Big bad wolf mengajarkan kepada kita bahwa sejatinya orang Indonesia senang terhadap buku, selama buku itu murah harganya dan bagus kualitasnya. Siapa bilang orang Indonesia tidak suka membaca buku?

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s