Memandang Bakso Djingkrak Sunter Dari Perspektif Pemasaran dan Etika


Bakso Djingkrak Sunter

Bakso Djingkrak Sunter belakangan menjadi ramai dibicarakan oleh netizen di sosial media. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan, adalah kehadiran 4 pramusaji yang tampil dengan pakaian yang minim seperti yang anda lihat pada foto. Kehadiran pramusaji (beredar kabar bahwa 4 pramusaji tersebut adalah pemilik dari Bakso Djingkrak) berpakaian seksi tersebut membuat Bakso Djingkrak dibilangan Sunter tersebut ramai dikunjungi. Bagaimana kemudian memandangnya dari perspektif pemasaran?

Dilihat dari perspektif pemasaran, apa yang dilakukan oleh Bakso Djingkrak tersebut adalah sangat jenius dan sangat cerdik. Dengan memanfaatkan kehadiran 4 pramusaji tersebut, foto suasana pelayanan di Bakso Djingkrak dan juga 4 pramusaji (maaf) “seksi” tersebut tersebar hingga menghebohkan sosial media dan pada akhirnya menarik perhatian media mainstream untuk turut meliput. Alhasil dalam waktu singkat Bakso Djingkrak berhasil meningkatkan brand awareness pada tingkat yang start up lain mungkin belum bisa saingi.

Tidak percaya? Coba cari di Google dengan keyword bakso djingkrak, anda akan menemukan 61.900 hasil pencarian. Jika anda spesifikkan dengan keyword bakso djingkrak sunter, maka anda akan menemukan hasil pencarian sebesar 9.860 hasil di Google. Coba bandingkan dengan Bakso Pak Kumis yang ada di blok S misalnya, dengan keyword bakso pak kumis blok s maka anda hanya akan menemukan 7.320 hasil pencarian di Google. Padahal Bakso Pak Kumis Blok S sudah lama berdagang.

Orang jadi bertanya-tanya mengenai Bakso Djingkrak. Sosial media dan pemberitaan di media mainstream adalah promosi gratis yang jika diekuivalenkan dengan rupiah bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Yang menjadi permasalahan adalah jika kita melihat dari sudut pandang etika, maka apa yang dilakukan oleh Bakso Djingkrak Sunter bisa jadi tidak etis dan tidak elok untuk dilakukan. Secara teori pemasaran, apa yang dilakukan oleh Bakso Djingkrak Sunter memang benar, tetapi dilihat dari etika, bisa jadi langkah tersebut sangat tidak tepat.

Karena apa yang dilakukan lebih terkesan kepada eksploitasi penampilan (maaf) seksual dari keempat pramusaji tersebut. Kita tahu bahwa sales promotion officer (baik boy ataupun girl) merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan penjualan dengan menggunakan metode direct sales. Tetapi bila dilakukan dengan cara seperti ini, dapat menjadi preseden yang buruk.

Saya pribadi, sebagai lelaki, tentu saja akan menyenangi “pemandangan” tersebut. Tetapi jika kita bicara mengenai konteks pemasaran yang beretika, tentu akan menjadi beda. Saya sendiri heran, kenapa sales promotion girl selalu dikonotasikan harus tampil cantik dan menarik, bukannya malah menonjolkan kemampuan menjual produk, serta bagaimana melakukan komunikasi yang persuasif.

Kita memang terbiasa untuk  lebih menekankan bungkus daripada isi. Artinya sama sekali tidak ada referensi yang jelas mengenai rasa  dan kualitas produk yang ditawarkan oleh Bakso Djingkrak. Hal ini sangat disayangkan dapat terjadi dan karenanya harus diluruskan agar dikemudian hari tidak ada startup yang melakukan promosi dengan cara-cara yang tidak etis seperti apa yang dilakukan oleh Bakso Djingkrak.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

 

Advertisements

One thought on “Memandang Bakso Djingkrak Sunter Dari Perspektif Pemasaran dan Etika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s