Perkembangan Teknologi VS Humanisme Dalam Sepakbola part 1


Lampard goal disallowed

Perkembangan teknologi semakin pesat. Kehadirannya telah memberikan banyak pengaruh pada umat manusia, baik dalam kehidupan pribadi, dunia usaha dan bermasyarakat. Dimulai dari kehadiran mesin uap hingga listrik, sampai kepada smartphone yang telah merubah wajah cara kita berkomunikasi dan berinteraksi.

Teknologi sejatinya telah mendorong peningkatan yang luar biasa dalam aktivitas pengelolaan dunia usaha. Beragam kemajuan perkembangan teknologi telah membuat proses pekerjaan menjadi lebih cepat, lebih baik, dan lebih tepat.

Peran teknologi tak terkecuali telah mempengaruhi perkembangan dunia olahraga, termasuk sepakbola. Kehadiran televisi membuat sepakbola menjadi semakin mendunia. Kehadiran website dan social media membuat sepakbola dan para pelaku didalamnya menjadi semakin terkoneksi. Wajah sepakbola pun menjadi berubah. Dari hanya sekedar sebuah pertandingan olahraga semata menjadi sebuah industri besar dengan uang yang juga besar jumlahnya. Belum lagi penggunaan teknologi seperti goal line, video tayangan ulang dan lain sebagainya yang akan semakin meningkatkan ketepatan informasi bagi para wasit dalam membuat sebuah keputusan, meskipun memang penerapannya masih akan terus diperdebatkan.

Terlepas dari manfaatnya, ternyata masih ada yang menentang penggunaannya. Alasannya, adalah tidak lain karena berkurangnya aspek dramatis sebuah pertandingan sepakbola. Kita tahu, bahwa dengan segala kelebihan dan kekurangan dari wasit sebagai manusia, aspek keputusan wasit adalah salah satu yang memberikan pengaruh terhadap jalannya pertandingan sepakbola. Itulah warna-warni sepakbola yang menjadi “cerita” dibalik sebuah pertandingan.

Jika anda mendukung kesebelasan nasional sepakbola Inggris, anda pasti masih akan mengingat dengan jelas betul betapa menyesakkannya dianulirnya gol Frank Lampard di babak 16 besar Piala Dunia 2010. Seandainya saja gol tersebut tidak dianulir, sejarah piala dunia bisa saja dituliskan dalam format cerita yang berbeda dengan yang terjadi. Gol tersebut bertolak belakang dengan gol Geoff Hurst pada final Piala Dunia 1996 yang juga dianggap kontroversi karena dianggap tidak sah karena belum melewati garis gawang namun dianggap sah oleh wasit. Jika seandainya gol tersebut tidak disahkan, apakah Inggris akan menjadi juara dunia?

Karena itu –dengan segala hormat kepada profesi wasit- faktor human error dalam diri wasit sangatlah kentara. Memang hakim garis juga terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Namun tentu saja, kata akhir keputusan ada pada diri wasit.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s