Jika Kartini Masih Hidup Hari Ini


Selamat Hari Kartini

Jika Kartini masih hidup di hari ini, menurut anda, apakah ia akan tersenyum bahagia? Akankah ia puas dengan kemajuan yang dilihat oleh kaum wanita pada hari ini? Ataukah ia akan miris dan sedih dengan keadaan yang ada?

Kita tahu, bahwa emansipasi yang diperjuangkan oleh R.A Kartini telah menunjukkan berbagai hasil yang menggembirakan. Sejumlah wanita-wanita hebat telah menempati posisi-posisi yang tinggi baik di instansi pemerintahan ataupun dunia korporasi. Kaum wanita pun kini telah memiliki akses terhadap dunia pendidikan dan juga kepada akses-akses lainnya yang telah mengangkat derajat, harkat dan martabat kaum wanita.

Mungkin Kartini akan tersenyum bahagia melihat apa yang dulu ia perjuangkan. Mungkin juga ia akan puas dengan kemajuan yang sudah ditunjukkan oleh kaum wanita hari ini. Namun, barangkali juga ia akan miris manakala melihat kaum wanita terbelah menjadi dua pendapatnya ketika kaum wanita sendirilah yang membanding-bandingkan mana yang lebih baik antara menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendebatkan hal itu, apalagi untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan mana yang lebih baik. Tapi barangkali perdebatan yang ada tersebut akan lebih bila dijawab oleh masing-masing pribadi. Permasalahannya adalah kaum wanita didunia kerja sekalipun tetap dituntut untuk bisa berprestasi dikantor dan juga dirumah. Permasalahan lainnya adalah buah dari emansipasi ini mendapatkan pertentangan dari sebuah makna profesional. Artinya menjadi wanita karir acapkali harus mengorbankan aspek keluarga untuk mencapai prestasi.

Sejatinya, idealnya memang tidak harus seperti itu. Banyak wanita yang berprestasi yang tetap harmonis hubungan keluarganya. Tapi, tak bisa dipungkiri, banyak juga wanita berprestasi yang gagal membina hubungan rumah tangga yang baik. Wanita karir dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik juga. Sedangkan profesional pria tidak dituntut untuk menjadi bapak rumah tangga yang baik.

R.A Kartini barangkali juga akan tersenyum tatkala dirinya mengetahui bahwa Kramat Tunggak telah menjadi pusat kegiatan agama. Ia juga akan tersenyum saat mengetahui Gang Dolly di Surabaya sudah dibubarkan oleh Risma, Walikota Surabaya. Mungkin juga R.A Kartini akan melihat sesosok dirinya yang memperjuangkan harkat dan martabat kaum wanita dalam diri Risma, si walikota itu.

Tapi mungkin juga ia akan kembali bersedih mana kala mengetahui bahwa prostitusi masih menjadi ancaman terbesar bagi kaum wanita. Prostitusi adalah bentuk paling primitif yang mengerdilkan peran wanita dalam peradaban umat manusia.

Ah sudahlah Kartini, ibu kami. Tidurlah nyenyak diperistirahatan terakhirmu. Biarkan kami yang melanjutkan perjuanganmu. Perjuangan untuk mengajak semua pihak untuk lebih terbuka dan lebih semakin melibatkan kaum wanita dalam membangun bangsa ini. Selamat Hari Kartini.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s