Penampilan Pejabat Publik, Personal Branding dan Ekspektasi Masyarakat


Pasha Ungu

Bukan cuma sekali ini Pasha Ungu membuat “sensasi” terkait dengan tingkah lakunya sebagai seorang pejabat publik. Sebelum tampil dengan tampilan ala “rocker” dengan padanan tampilan pakaian yang nyeleneh, Pasha Ungu sempat tampil merokok dengan pejabat publik lainnya dalam salah satu kesempatan acara formal. Tepatkah hal tersebut, khususnya bila kita memandang dari personal branding dan ekspektasi masyarakat?

Sebenarnya bukan Cuma terbatas pejabat publik, kita semua diharapkan untuk menampilkan pakaian sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sekeliling kita. Ini sudah konsekuensi bagian dari peran sosial yang wajib kita emban dengan sebaik-baiknya. Ke kantor dengan berpakaian rapih, berolahraga dengan pakaian olahraga, tidak tampil seronok, ataupun tidak sesuai dengan acara yang akan kita hadiri atau tempat yang akan kita datangi.

Ini bukan tentang fashion, atau dalam artian harus fashionable dengan gaya trend kekinian. Karena dalam ajang formal, pakaian yang harus dikenakan terkadang sudah diatur oleh penyelenggara acara. Dalam hal Pasha Ungu, jelas menyambut tamu luar negeri dengan pakaian yang dikenakan seperti saat itu bisa jadi akan dianggap tidak menghargai tamu yang datang. Buntutnya malah jadi jelek, bisa merembet ke citra instansi yang diwakili oleh Pasha Ungu.

Pejabat publik, sesuai dengan statusnya, dianggap  oleh masyarakat harus tampil sempurna. Pakaiannya, tutur katanya, perbutannya semua harus mengandung unsur kehormatan dan kepantasan. Artinya, pakaian yang dikenakan harus sopan, bersih, rapih, dan sesuai dengan citra instansi yang ingin dibangun. Tidak perlu yang mahal, ataupun branded. Sederhana saja, malah bisa meningkatkan citra positif baik si pejabat publik itu sendiri ataupun instansi yang diwakili.

Itulah ekspektasi yang diharapkan oleh masyarakat, karenanya masyarakat mengomentari apa yang dilakukan oleh Pasha Ungu. Hal ini dapat diartikan bahwa apa yang dilakukan oleh Pasha Ungu sebagai seorang pejabat publik tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Hal ini juga bisa menandakan sebuah bentuk kepedulian masyarakat terhadap dirinya.

Memang kita lihat ada sejumlah pejabat publik yang tampil “nyeleneh” namun karena menunjukkan kinerja yang baik dan juga integritas, penampilan yang “nyeleneh” bisa dikesampingkan. Contohnya adalah Dahlan Iskan yang memakai sepatu kets, Menteri Kelautan Susi yang kerap kali merokok,dan lain sebagainya. Tentunya untuk mendapatkan “permisif” dari masyarakat harus mengambil hati masyarakat terlebih dahulu dengan kinerja dan integritas.

Yang jadi mengherankan adalah, apa alasan dari Pasha Ungu melakukan sejumlah hal yang membuatnya mendapatkan sorotan yang kebanyakan bersifat negatif dari masyarakat? Apakah Pasha Ungu ingin mendobrak bahwa citra seorang pejabat publik tidak harus melulu seperti apa yang masyarakat harapkan?. Ataukah memang sebuah bentuk ketidaksengajaan semata? Atau memang ada yang ingin melakukan pembunuhan karakter? Atau mungkin juga Pasha Ungu mengalami culture shock dari seorang artis yang merupakan public figure menjadi pejabat publik?

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s