Belajar Dari Perbedaan Perspektif Batman V Superman


image

Batman dan Superman adalah kedua tokoh superhero yang memiliki tujuan yang sama, untuk membela kebenaran dan keadilan. Tetapi karena adanya perbedaan sudut pandang dalam melihat satu sama lain, keduanya terlibat dalam sebuah pertarungan sudut pandang. Superman tidak melihat Batman sebagai superhero, tetapi sebagai vigilante atau seseorang yang main hakim sendiri. Sementara Batman melihat Superman sebagai ancaman bagi umat manusia.

Perspektif masing-masing orang tentu saja berbeda-beda sebagaimana dari apa yang ditunjukkan dalam Batman dan Superman. Bisa jadi karena banyak faktor, pendidikan, status sosial, profesi, budaya, agama, usia dan juga pengalaman. Berbagai faktor-faktor tersebut membentuk pola pikir yang kemudian membentuk sudut pandang seorang dalam memandang permasalahan ataupun sebuah isu. Perspektif orang yang tentu saja berbeda dengan kita, acapkali membuat kita berseberangan pendapat dan memancing konflik ketika memandang atau mencari solusi dari sebuah permasalahan.

“Raise Your Argument, Not Your Voice”

Begitu kata inspiratif yang pernah saya lihat di berbagai sosial media, mengingatkan saya untuk selalu mengedepankan nalar, logika, akal, pengalaman dan ilmu pengetahuan serta wawasan saya ketika saya mengeluarkan pendapat saya. Mencoba untuk menghargai pendapat orang lain memang sangatlah sulit. Kita harus melepaskan ego yang mengungkung hati dan, membuka akses dalam pemikiran kita untuk sudut pandang pemikiran lain.

Tapi seringkali kita mendengar ucapan atau pendapat orang lain, sebenarnya bukan untuk mendengar, tetapi lebih kepada untuk membalas. Jadi ketika orang lain menyampaikan sesuatu kepada kita, dalam benak kita, yang kita pikirkan bukanlah perkatan dari orang lain tersebut, melainkan perkataan apa yang ampuh untuk membalas. Berbeda pendapat bukanlah untuk mencari pendapat mana yang paling benar, tetapi yang paling tepat untuk setiap kondisi permasalahan. Beda permasalahannya tentu beda solusinya.

Dalam pekerjaan sehari-hari pun, kita pasti akan sering mengalami perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hal. Ini tentu saja akan terjadi, namun beda pendapat tidak melulu harus menimbulkan konflik. Kita memang selalu berbeda pendapat, kita mungkin tak akan selalu berada pada halaman yang sama. Tapi bukankah dengan perbedaan pendapat, kita bisa mendapatkan perspektif yang lebih luas lagi. Sehingga kita bisa lebih pintar, lebih cerdas dan bijak dalam memandang sesuatu. Dan bukanlah buku namanya jika hanya punya satu halaman saja. Barang kali statement Niki Lauda menjadi pencerahan dalam menghargai perspektif orang lain.

“Orang bijak mendapatkan banyak dari musuhnya, daripada orang bodoh mendapatkan dari temannya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s