Kapitalisme VS Sharing Economy


FLAT concepts 7

Booming kehadiran aplikasi transportasi online dan juga maraknya aplikasi e-commerce sedikit banyak telah merubah lansekap cara bisnis dilakukan. Hal ini didorong oleh perkembangan teknologi khususnya penggunaan internet dan perangkat pendukungnya seperti smartphone yang semakin masif. Kita seperti berada diujung sebuah transisi.

Lalu kemudian terjadilah demo itu. Demo besar-besaran yang dilakukan oleh pengemudi taksi dan transportasi konvensional lainnya yang merasa penghasilannya tergerus oleh aplikasi transportasi online. Banyak yang kemudian mengkaitkannya dengan prinsip sharing economy yang semakin mewabah, bukan cuma di Indonesia, tetapi juga dunia.

Sharing economy pada prinsipnya menekankan pada pembagian yang lebih merata diantara para pelakunya. Pembagian disini tidak hanya berupa pembagian keuntungan, tetapi juga pembagian aset. Cara sederhana memahami sharing economy dengan mencontohkan kepada Uber dan Gojek misalnya, adalah mobil dan motor yang dimiliki oleh driver bukanlah milik Uber dan Gojek. Uber dan Gojek tidak harus membeli aset berupa mobil dan motor, sehingga mereka tidak terkena biaya pembelian aset, maintenance aset, pajak (atas nilai aset mobil dan motor tersebut). Selain itu mereka juga tidak terkena dampak penurunan nilai aset.

Berbeda dengan Blue Bird dan Express misalnya, yang harus membeli aset, membuat pool untuk menyimpan aset, membuat bengkel untuk maintenance, dan beragam aktivitas operasional yang mendorong peningkatan biaya. Hal ini tentu saja meningkatkan jumlah modal yang harus disediakan perusahaan dan disisi lain juga berpengaruh ke struktur biaya pada harga akhir yang dibebankan kepada konsumen.

Perkembangan terkini dari kehadiran aplikasi online mendorong kita pada pertanyaan, apakah sharing economy akan menjadi wajah baru yang menggantikan pendekatan kapitalisme yang selama ini menjadi wajah bisnis? Dalam sebuah analisa di harian Kompas yang dimuat tanggal 28 Maret 2016 kemarin, sharing economy diprediksi tidak akan bisa dibendung lagi. Model bisnis ini terus berkembang dan makin banyak di adopsi. Sharing economy merupakan pasar hibrida yang memungkinkan akses terhadap sumber daya yang dimiliki perorangan atau kelompok untuk di pakai bersama dengan orang lain. Pasar ini difasilitasi teknologi digital yang memungkinkan lalu lintas informasi tersebar lebih cepat dan lebih luas.

Menjawab pertanyaan diatas, saya punya pemikiran yang agak sedikit berbeda. Jawabannya menurut saya, adalah mungkin saja, tapi tidak dalam waktu dekat. Karena jika anda perhatikan, pun sejatinya dibalik kehadiran para startup aplikasi tersebut berdiri para pemodal besar yang tentunya juga punya kepentingan. Artinya unsur kapitalis pun masih mewarnai penerapan sharing economy. Oleh para kapitalis ini, mungkin sharing economy tidak lebih hanya sekedar sebuah metode baru untuk mengganjal kapitalis lain yang sudah mencengkram kuat di industri. Pada akhirnya sharing economy melalui kehadiran disruptive technology tak lebih sebagai hasil dari mekanisme alam kompetisi bisnis.

Aplikasi online ini sebenarnya tak lebih sebagai broker yang menghubungkan pihak konsumen dengan pihak penyedia jasa. Bedanya dengan broker konvensional adalah terletak pada utilisasi teknologi secara maksimal. Tentu kita lebih setuju kepada sharing economy dimana pembagian keuntungannya lebih merata.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

2 thoughts on “Kapitalisme VS Sharing Economy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s