Mengejar Ketertinggalan Blue Bird Dari Uber dan Grab


Blue Bird App

Imbas demo taksi menyadarkan kita bahwa kehadiran Grab dan Uber benar-benar telah mengancam penghasilan dari para pengemudi taksi. Hal ini juga membuka mata kita bahwa telah terjadi pergeseran prilaku konsumen dan karenanya menandakan adanya pergeseran market share. Ketertinggalan Blue Bird dan perusahaan taksi lainnya menandakan adanya kecenderungan kegagalan dalam mengantisipasi potensi ancaman yang muncul dari disruptive technology bernama Grab dan Uber. Benarkah seperti itu adanya?

Khusus untuk Blue Bird, sebenarnya Blue Bird telah mencermati potensi teknologi online sebagai daya pengungkit (leverage) untuk mendorong bisnisnya. Jika anda masih ingat, pada jaman-jamannya Blackberry menjadi produsen smartphone yang paling dominan di Indonesia, Blue Bird pernah meluncurkan aplikasi serupa dari Grab dan Uber. Bahkan lebih awal, yakni di tahun 2011.

Namun sayangnya, karena mungkin tidak mendapat respon yang cukup baik dari konsumen, maka aplikasi tersebut tidak dikembangkan lebih lanjut. “Kegagalan” tersebut bisa jadi karena memang masyarakat saat itu belum siap dalam menerima aplikasi online, atau bisa jadi karena smartphone belum semasif perkembangannya seperti saat ini. Kemungkinan lain bisa jadi karena memang Blue Bird belum maksimal dalam mengembangkannya, ataupun dalam mensosialisasikan, mengkomunikasikan dan mempromosikan penggunaannya kepada konsumen. Kemungkinan ini, tentunya hanya Blue Bird yang bisa menjawabnya.

Sekarang Blue Bird memiliki aplikasi online bernama My Blue Bird. Namun tentunya, langkah ini relatif sudah tertinggal dimana Grab dan Uber menjadi aplikasi yang paling dominan market sharenya. Blue Bird gagal memanfaatkan first mover advantage yang dimiliki. Blue Bird juga gagal dalam melihat adanya potensi ancaman yang datang dari Grab dan Uber.

Tentunya selain mengembangkan aplikasi online, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh Blue Bird, seperti misalnya lebih mengintensifkan promosi dari penggunaan aplikasi tersebut kepada konsumen dan juga kepada para pengemudi.

Sejalan dengan hal tersebut, Blue Bird juga punya pekerjaan rumah awal yang lebih besar, yakni mengembalikan kepercayaan masyarakat yang jatuh dari adanya aksi demo anarkis para pengemudinya. Blue Bird juga mungkin harus mereview kembali struktur biayanya sehingga bisa memberikan harga yang kompetitif untuk meningkatkan daya saing dengan Grab dan Uber. Bluebird juga harus memperbaiki kualitas pelayanan yang saat ini dinilai rendah oleh masyarakat seperti pengemudi yang tidak tahu jalan, armada mobil yang lama. Disaat yang bersamaan Blue Bird juga tetap harus memperhatikan kesejahteraan pengemudinya.

Memang, dalam menyikapi kasus ini, tidak hanya melibatkan para pelaku usaha yang terlibat didalamnya, tetapi unsur pemerintah sebagai regulator sangat dominan dalam menetapkan peraturan yang berlaku adil dan setara.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s