Ketika Supir Taksi “Bunuh Diri” Massal


Demo-Taxi-Di-Gatsu-696x400

Dalam pandangan saya supir taksi yang sedang melakukan demo besar-besaran pada hari ini bukan sedang melakukan demonstrasi, tapi sedang melakukan “bunuh diri” massal. Pasalnya apa yang mereka lakukan bukannya mendapatkan simpati tetapi malah mendapatkan keluhan dan cibiran dari masyarakat. Lebih parah lagi, apa yang mereka lakukan malah berdampak negatif dan merugikan perusahaan taksi tempat mereka bekerja dan pada akhirnya merugikan diri mereka sendiri.

Terbukti saham salah satu perusahaan taksi menurun, meskipun memang ada kemungkinan para pelaku saham merespon terhadap kondisi demo hari ini sehingga pergerakan saham bisa saja terjadi. Tapi bukan itu isu pentingnya dalam demo.

Isu terpentingnya adalah mereka sudah berada diujung titik nadir kekhawatiran mereka terhadap pergerakan Uber dan Grab yang sudah semakin diminati oleh masyarakat. Demo ini dengan sangat jelas menggambarkan ketidakmampuan dari perusahaan taksi untuk merespon persaingan yang dimunculkan oleh Uber dan Grab. Terlepas dari perdebatan mendefinisikan Uber atau Grab sebagai perusahaan transportasi atau aplikasi, satu hal yang pasti kehadiran mereka (dan juga jasa ojek “digital) benar-benar semakin menggerus market share yang sudah lama didominasi oleh pemain yang itu-itu saja.

Uber dan Grab adalah buah dari kreativitas, bahwa kemudian hal itu perlu diatur, saya setuju. Tapi jika sampai dihapuskan, apalagi sampai dilarang, maka jelas hal itu akan kontradiktif bagi Indonesia secara keseluruhan. Sahabat saya, Adrian Wijanarko menuliskannya dengan sangat cerdas dalam tulisannya yang berjudul Robin Hood di Era Modern. Dimana perusahaan “aplikasi transportasi” dianggap Robin Hood yang mengganggu penghasilan orang-orang kaya.

Penolakan terhadap Uber dan Grab merupakan sebuah bentuk kemunduran dari penerapan sharing economy, bentuk kemunduran dari kemajuan perkembangan teknologi. Saya sempat mengapresiasi dan memberikan prediksi persaingan Blue Jek yang awalnya diisukan merupakan afiliasi dari Blue Bird, namun ternyata bukan. Melalui Uber dan Grab lah kita mengetahui bahwa selama ini perusahaan taksi raksasa itu benar-benar mengambil untung dalam porsi yang besar dari kita para konsumen.

Lebih lagi, aksi demo yang dilakukan secara kasar, dengan menarik penumpang yang sedang berada dalam taksi jelas dapat merusak citra positif yang selama ini sudah dimiliki oleh perusahaan taksi. Tanpa memperdulikan kemungkinan ada yang sedang menuju kerumah sakit, atau sedang hamil dan lain sebagainya. Benar-benar bukan merupakan aksi yang simpatik. Apalagi sampai merepotkan dan “melumpuhkan” aktivitas sebuah kota. Sungguh keterlaluan.

Memang, saya sudah lama memprediksi bahwa kehadiran aplikasi transportasi akan menggerus dan merubah lansekap industri transportasi di Indonesia. Saya tidak mau kasar dengan prediksi bahwa aplikasi transportasi itu akan “membunuh” taksi. Tapi ternyata saya tidak perlu repot-repot menunggu hal tersebut jadi kenyataan. Para supir taksi yang sedang demo itu sudah melakukannya sendiri. Mereka sedang “bunuh diri”.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Supir Taksi “Bunuh Diri” Massal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s