Menghadapi Penolakan Perubahan Dengan Tangan Besi


resistance

Perubahan adalah suatu keniscayaan. Tak jarang terkadang perubahan adalah sebuah harga mati. Seperti apa yang dilakukan oleh Nissan, perusahaan otomotif terkemuka yang pernah berada diambang kehancuran sebelum akhirnya berhasil dibangkitkan kembali oleh Charles Ghosn. Kemampuannya membangkitkan Nissan tak pelak menjadikan dirinya sebagai salah satu CEO terbaik yang ada di dunia. Turnaround Nissan pun acapkali dijadikan sebagai contoh dan bahan pembelajaran para CEO, praktisi dan juga para akademisi.

Sayangnya, tak semua perubahan berhasil dilakukan. Acapkali terjadi penolakan atau resistensi dari karyawan ataupun anggota organisasi. Banyak sekali penyebab terjadinya penolakan terhadap perubahan. Bisa karena sebuah perusahaan gagal menanamkan sense of urgency atau gagal dalam membangun alasan kenapa sebuah perusahaan atau instansi perlu melakukan perubahan. Atau bahkan bisa terjadi karena sesederhana memang tidak mau.

Baca juga : Sebab-Sebab Karyawan Menolak Perubahan

Untuk mengatasi penolakan ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh para pemimpin sebuah perusahaan atau sebuah organisasi. Melakukan edukasi, komunikasi dan sosialisasi tentu adalah cara pertama yang bisa dilakukan untuk membangun kepercayaan. Memberikan kesempatan kepada objek perubahan untuk dapat berpartisipasi dalam proses perubahan itu sendiri. Bahkan ada beberapa cara yang cenderung berkonotasi negatif, seperti manipulasi dan kooptasi. Atau bahkan mengatasi penolakan perubahan dapat dilakukan dengan cara koersi, atau memberikan ancaman.

Baca juga : Cara Mengatasi Penolakan Perubahan Dalam Organisasi

Cara yang disebutkan paling terakhir memang acapkali terpaksa dilakukan bila penolakannya benar-benar dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Namun dalam pandangan saya, cara ini memang lebih efektif ketika sebuah perusahaan memang diharuskan untuk melakukan turn around, karena situasi yang kritis (bila tidak berubah, maka akan musnah).

Salah satu pemimpin yang melakukan praktek tangan besi ini adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam melakukan perubahan yang terbilang cukup berani dan cukup merubah paradigma. Beberapa perubahan yang dilakukan adalah melakukan lelang jabatan kepada publik, evaluasi kinerja pejabat dimana jika dalam kurun waktu tertentu tidak perform maka pejabat yang bersangkutan akan di demosi (turun jabatan). Beberapa contoh perubahan yang dilakukan adalah membongkar Kalijodo.

Perubahan yang dilakukan dengan metode tangan besi memang memiliki dua sisi. Disatu sisi, dipandang cukup efektif dan efisien jika perubahan dibutuhkan dalam waktu yang sangat cepat dan menjangkau banyak aspek. Namun disatu sisi lainnya praktek tangan besi juga berpotensi untuk mendapatkan penolakan yang semakin hebat, karena biar bagaimanapun orang yang membawa perubahan seringkali akan dianggap musuh bersama bagi mereka yang menolak adanya perubahan.

Advertisements

2 thoughts on “Menghadapi Penolakan Perubahan Dengan Tangan Besi

    1. Betul Pak Akhmad. Sebenarnya tipe kepemimpinan masing-masing punya risiko. Terlalu “lembek” bisa disepelekan, terlalu keras cenderung “tangan besi” jadi dimusuhi. Apalagi dalam konteks membawa perubahan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s