Tentang Teknologi dan Privasi di Dunia Kerja


workplace

Wajah dunia usaha semakin berkembang dan semakin mengglobal yang salah satu faktor utamanya adalah didorong oleh perkembangan teknologi berikut dengan penggunaannya yang semakin cepat dan pesat. Semakin banyak pengguna smartphone, tablet, dan berbagai macam bentuk gadget dengan teknologi terkini. Dunia semakin terkoneksi.

Hal ini dapat menimbulkan tantangan, utamanya pada privasi yang dimiliki oleh karyawan dan juga konsumen tentunya. Penggunaan teknologi didunia kerja disatu sisi memiliki dampak positif diantaranya dapat meningkatkan kinerja karyawan, namun disatu sisi lain bisa menimbulkan dampak negatif diantaranya adalah penyelewengan waktu bekerja oleh karyawan. Kini waktu bekerja bisa digunakan untuk waktu pribadi dan waktu pribadi bisa jadi terganggu untuk unsur pekerjaan. Pendek kata privasi menjadi semakin hilang.

Berkat adanya teknologi seperti email, handphone dan kini smartphone, bekerja bisa dilakukan kapan saja dimana saja. Konsekuensinya adalah kita menjadi seolah-olah memiliki “kewajiban moral” untuk bisa dihubungi kapan saja, dan harus siap melakukan apa saja, bahkan pada saat kita sudah pulang dari kantor, ataupun pada hari libur. Mendadak batasan antara dunia profesional dan personal bisa jadi semakin mengabur.

Kekhawatiran utama dari manajemen perusahaan adalah tentunya karyawan menggunakan waktunya untuk keperluan pribadi pada saat jam bekerja, misalnya untuk mengakses sosial media ataupun belanja online. Ayo jujur, siapa yang melakukan ini pada saat bekerja? Hal lain yang dikhawatirkan dari penggunaan teknologi yang terlalu berlebihan adalah semakin riskannya keamanan data rahasia perusahaan berikut dengan para pelanggannya. Data rahasia bisa saja terbang hanya dengan satu klik forward email. Data rahasia bisa saja terendus oleh pesaing hanya karena sebuah postingan di twitter ataupun Facebook. Karenanya tak heran sejumlah perusahaan mengenakan kebijakan untuk memonitor penggunaan email dan lebih luas lagi, memonitor penggunaan internet, termasuk membatasi penggunaan sosial media oleh karyawan.

Bentuk monitoring tersebut bahkan tidak hanya terbatas pada aspek tersebut diatas saja, bahkan ada perusahan yang memonitoring pekerjaan karyawannya dengan menempatkan cctv secara rahasia di ruang kerja karyawan. Hal ini bisa jadi merupakan bentuk pelanggaran terhadap etika dan privasi karyawan.

Perusahaan dihadapkan pada dilema disini. Disatu sisi, penerapan kebijakan monitoring yang terlalu luas bisa jadi merusak moralitas para pekerja dan merusak motivasi pekerja. Pekerja merasa privasinya bisa terancam. Dampaknya adalah tentu saja dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan. Namun disisi lain, jika tidak dimonitoring, juga akan menimbulkan potensi kerugian pada perusahaan. Karena itu barangkali perlu dibangun kesepahaman bersama antara perusahaan dengan karyawan untuk senantiasa mengkomunikasikan apa yang diharapkan dari penggunaan teknologi dan pengaruhnya terhadap privasi.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Follow Perspektif di Twitter @PerspektifID

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s