Tepatkah Kenaikan Gaji Berdasarkan Persentase?


Salary

Kenaikan gaji adalah salah satu yang dinanti-nantikan oleh setiap karyawan. Bagi praktisi sumber daya manusia, perencanaan terhadap penerapan kenaikan gaji harus dipertimbangkan dengan matang, agar tidak menganggu kinerja perusahaan dan agar diberikan secara tepat dan adil agar tidak mengganggu iklim kerja yang sudah kondusif. Salah satu kebijakan kenaikan gaji adalah dengan menetapkan kenaikan gaji berdasarkan persentase. Ada yang menerapkan sama rata, artinya semua karyawan apapun tingkatannya, mendapatkan persentase kenaikan gaji yang sama jumlahnya. Ada juga yang menerapkan semakin tinggi posisi, maka semakin tinggi kenaikan persentasenya. Tepatkah kebijakan seperti itu?

Permasalahan kebijakan penetapan kenaikan gaji berdasarkan persentase dimana semakin tinggi posisi karyawan semakin tinggi kenaikan persentasenya dapat dilihat dari berbagai perspektif. Pertama apakah kenaikan gaji dengan sistem tersebut sudah sesuai dengan tujuan organisasi/ perusahaan serta kemampuan perusahaan dalam memberikan gaji. Kenaikan gaji sudah pasti akan meningkatkan beban sumber daya manusia. Hal ini wajar, karena memang komposisi beban biaya sumber daya manusia dikebanyakan perusahaan utamanya didominasi oleh gaji.

Kedua, kenaikan gaji berdasarkan posisi tertinggi persentase kenaikan tertinggi tersebut perlu dipertimbangkan apakah dapat menimbulkan konflik diantara karyawan, khususnya pada karyawan paling rendah yang mendapatkan kenaikan gaji paling rendah sementara workload yang dimiliki karyawan pada tingkatan paling rendah adalah karyawan yang memiliki workload paling tinggi, karena mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis. Hal ini dapat menimbulkan demotivasi pada karyawan ditingkat jabatan paling rendah, karena merasa tidak diperlakukan secara adil.

Selain itu kenaikan persentase tertinggi berdasarkan posisi yang paling tinggi, dianggap tidak memiliki unsur kejelasan karena tidak dapat menggambarkan secara langsung performance dari masing-masing karyawan di tingkatan yang berbeda-beda secara head to head.

Disatu sisi lain, persentase kenaikan gaji tersebut dapat juga diterima dengan mempertimbangkan semakin tinggi jabatan seorang karyawan, maka semakin tinggi risiko yang melekat pada jabatan karyawan tersebut, sehingga risiko tersebut perlu dikompensasi lebih tinggi juga. Namun pertimbangan ini pada dasarnya telah diakomodir dalam gap gaji yang besar. Adanya kenaikan persentase gaji berdasarkan posisi tertinggi malah akan semakin memperbesar gap ini.

Sehingga persentase kenaikan gaji berdasarkan posisi yang paling tinggi mendapatkan persentase kenaikan paling tinggi dianggap memiliki lebih banyak kekurangan ketimbang manfaatnya. Bila perusahaan mempertimbangkan untuk menaikkan gaji, ada baiknya dilaksanakan dengan metode range kenaikan gaji dengan tolok ukur atau Key Performance Indicator yang jelas. Selain itu kenaikan gaji, perlu dikomunikasikan dan disosialisasikan dengan baik berikut dengan Key Performance Indicatornya agar tidak mendapatkan resistensi dari karyawan.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhruroji Hasan

Advertisements

2 thoughts on “Tepatkah Kenaikan Gaji Berdasarkan Persentase?

  1. Saat ini kenaikan gaji tahunan dipengaruhi oleh janji politik dan demo buruh yang menuntut kenaikan berdasar asumsi kelayakan hidup mereka. Sehingga dunia industri saat ini sepertinya melemah karena itu. Pekerja dengan produktifitas rendah menuntut pembayaran yang tinggi serta tekanan peraturan pemerintah baik pusat maupun daerah yang sangat menyulitkan pelaku usaha. Salah satu keburukannya adalah antara pekerja 10 tahun dan yang baru masuk kerja adalah sama dan itu membuat iklim kerja tidak nyaman. Terlebih jika perusahaan hanya mampu menaikan UMR saja dan tidak diikuti dengan kenaikan ke seluruh pekerja yang mana hasilnya antara worker dan penyelia memiliki space gaji yang sangat tipis sementara pendidikan dan tanggungjawabnya sangat jauh perbedaannya.
    Bukan demo atau janji politik yang terpenting sebenarnya jika seseorang ingin mendapatkan penghasilan lebih, yaitu dengan mengupgrade kemampuan dan mencari peluang di perusahaan lain atau menambah penghasilan dg usaha kecil tentu lebih jantan dan terhormat daripada mengemis dengan cara berdemo setiap tahun.

    Like

    1. Saya sependapat dengan Pak Edi Padmono. Kita pun juga harus memperhtiungkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah gaji dari sisi internal perusahaan, yakni salah satunya adalah kemampuan perusahaan dan bagaimana perusahaan dalam memandang sebuah pekerjaan. Faktor-faktor lain bisa dilihat pada tulisan saya :

      https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2016/01/25/faktor-faktor-penentu-jumlah-gaji/

      Memang ketika membicarakan gaji sangat sensitif dan tidak akan ada yang pernah puas. Munafik juga rasanya bila saya bilang gaji itu tidak penting, karena pada kenyataannya gaji adalah faktor utama penentu motivasi pekerja dimanapun, dalam umur berapapun.
      Solusinya memang kembali kepada pribadi masing-masing. Seperti apa yang Pak Edi sarankan. Mengupgrade kemampuan dan mencari peluang di perusahaan lain atau menambah penghasilan dg usaha kecil tentu lebih jantan dan terhormat daripada mengemis dengan cara berdemo setiap tahun. Saya setuju pak.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s