Proses Rekrutmen Untuk Membangun Diversity VS Employment At Will


Employment

Keberagaman adalah keniscayaan dalam dunia kerja. Apalagi dengan memperhatikan bahwa Indonesia memiliki beragam suku dan kebudayaan. Keberagaman (Diversity) disatu sisi dianggap dapat menimbulkan potensi konflik dan perpecahan dalam sebuah kelompok kerja ataupun sebuah perusahaan, namun disisi lainnya, diversity dapat memberikan dinamika yang bermanfaat untuk pengembangan kinerja perusahaan. Diversity jika dikelola dengan baik dapat menjadi potensi untuk saling melengkapi kekurangan yang ada. Karena itu menjadi penting bagi perusahaan untuk mengelola perbedaan yang ada melalui diversity management.

Perusahaan yang mengakomodir adanya keberagaman cenderung lebih mendapatkan pengakuan atau reputasi yang positif dimata masyarakat. Sebaliknya perusahaan yang tidak mengakomodir adanya keberagaman ada kemungkinan dapat dipersepsikan sebagai perusahaan yang diskriminatif. Ambil contoh misalnya, salah satu perusahaan franchise fast food terkemuka dari Amerika, yakni McDonald yang memberikan kesempatan kepada para (maaf) penyandang cacat untuk bekerja di McDonald. Penerimaan perusahaan terhadap diversity menjadi penting karena adanya peraturan ketenagakerjaan di Indonesia dan juga pada tingkat internasional yang memberikan perlindungan kepada karyawan terhadap praktik diskriminasi. Dan akan menjadi semakin penting dengan dimulainya implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang memungkinkan terjadinya perubahan landscape komposisi karyawan berdasarkan kewarganegaraan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan diversity yang ada didalam sebuah perusahaan adalah dengan menerapkan aktivitas rekrutmen yang dapat mengakomodir diversity. Tentunya diversity yang dimaksud bukan hanya terbatas pada suku dan kebudayaan tetapi juga pada aspek-aspek lainnya seperti usia, jenis kelamin, keahlian, gaya hidup dan lain sebagainya. Proses rekrutmen yang mengakomodir adversity tentunya juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan sumber daya manusia disebuah perusahaan dengan tetap mengedepankan kompetensi yang dibutuhkan untuk masing-masing jenis pekerjaan.

Dari sekian banyak metode rekrutmen, salah satu metode rekrutmen karyawan yang juga dapat dipergunakan, meskipun tidak lazim dipergunakan dan karenanya mungkin kita jarang mendengarnya adalah employment at will. Metode rekrutmen ini sangat berpotensi untuk melanggar etika dan cenderung merugikan bagi kedua belah pihak. Pasalnya, dengan menggunakan metode employment at will perusahaan pemberi kerja dapat memutuskan hubungan kerja kapanpun dikehendaki. Sebaliknya si pekerja pun juga dapat keluar kapan saja dikehendaki.

Tidak adanya ikatan status dan jangka waktu yang tetap ini memberikan kerugian bagi perusahaan dengan tidak bisa memintakan komitmen kepada karyawan seperti layaknya karyawan dengan status kontrak ataupun karyawan tetap. Bahkan karyawan dengan status outsource saja memiliki jangka waktu yang telah ditetapkan dalam sebuah perjanjian kerja. Kerugian terbesar jelas berada di posisi karyawan karena tidak memiliki kepastian akan karir, kekhawatiran akan masa depan sehingga dapat menimbulkan kurang motivasi kerja.

Yang ditekankan dalam metode recruitment at will adalah prinsip kebebasan dari masing-masing pihak, Jika dilihat sepintas memang recruitment at will ini tidak ada sama sekali etika yang dilanggar karena prinsip bebas “mau sama mau”. Namun sebenarnya metode recruitment semacam ini memiliki potensi pelanggaran terhadap etika dikarenakan tidak adanya perlindungan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak.

Tidak hanya dilihat dari perspektif etika semata, penerapan recruitment at will ini juga dapat berpotensi untuk mengganggu kinerja perusahaan dan stabilitas dari operasional perusahaan, serta menyulitkan perencanaan kebutuhan sumber daya manusia.

Walaupun terbilang sangat jarang dan tidak lazim dipergunakan, sebenarnya penerapan metode rekrutmen seperti ini banyak terjadi di Indonesia. Penerapannya banyak terjadi di industri kreatif, yang seringkali melakukan rekrutmen untuk para freelance. Seringkali para freelance ini tidak terlindungi hak dan kewajibannya dan hanya dilakukan berdasarkan “gentleman’s agreement” saja. Penerapan metode rekrutmen ini juga banyak dilakukan terhadap profesi asisten rumah tangga, supir pribadi yang tidak terkoordinir melalui yayasan penyedia tenaga kerja. Asisten rumah tangga bebas dipecat kapan saja, dan ia pun bebas keluar kapan saja.

Kesimpulannya adalah dengan menerapkan diversity memiliki potensi untuk menjadi sumber kekuatan bagi perusahaan dan merupakan bentuk perwujudan etika bisnis dan melindungi karyawan dari adanya praktek diskriminasi. Sementara penerapan metode rekrutmen employment at will memiliki kecenderungan pelanggaran etika bisnis karena tidak adanya perlindungan terhadap pihak-pihak terkait. Satu hal yang pasti, proses rekrutmen harus tetap mengedepankan prinsip perlakuan yang setara dengan memberikan kesempatan yang sama tanda adanya praktek diskriminasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s