Perlakuan Setara Dalam Dunia Kerja : Categorical Imperative VS Affirmative Action


Equal Opportunity

Sejumlah peraturan mengenai ketenagakerjaan baik di Indonesia maupun secara internasional memandang pentingnya penerapan perlakuan setara tanpa memandang adanya bias terhadap suku, agama, ras, jenis kelamin dan hal apapun yang bisa dikategorikan sebagai bentuk diskriminasi. Prinsip ini merupakan penerapan dari pendekatan categorical imperative yang digagas oleh Immanuel Kant. Pendekatan ini memandang bahwa penerapan tanpa terkecuali dan menjadi kewajiban semua pihak.

Artinya, dengan menerapkan categorical imperative, maka perlakuan setara itu adalah prinsip universal yang harus dilaksanakan secara setara (sama). Contohnya misalkan begini, jika seorang karyawan (dan juga karyawati) harus lembur bekerja (overtime), maka semuanya harus lembur bekerja, tanpa terkecuali, tanpa memandang jenis kelamin seorang karyawan, apakah seorang karyawati memiliki anak yang ditinggalkan dirumah atau tidak.

Pengaturan jam kerja untuk wanita yang sudah memiliki anak yang dahulu pernah diwacanakan adalah salah satu bentuk pelanggaran dari categorical imperative karena Ada beberapa dampak negatif yang dapat dimunculkan adalah menimbulkan dampak negatif yang lainnya, seperti mungkin menimbulkan rasa iri bagi para pekerja pria dan menimbulkan kemungkinan karir pekerja wanita yang terhambat jika peraturan ini diterapkan.

Meskipun memang tujuan dari pengaturan jam kerja untuk wanita yang sudah memiliki anak memiliki dasar tujuan yang baik, yakni agar memastikan kualitas hidup berumah tangga. Namun jika dilihat dari dampak lain yang ditimbulkan yakni bahwa pengaturan ini bersifat diskriminasi, walaupun memang lebih kepada diskriminasi yang bersifat positif. Sehingga pengaturan jam kerja untuk wanita yang sudah memiliki anak ini dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk affirmative action. Pada akhirnya, pengaturan ini akhirnya tidak jadi diterapkan.

Penerapan affirmative action memberikan dan mengakomodir kesempatan bagi pihak-pihak yang sebelumnya tidak mendapatkan kesempatan. Namun disatu sisi, penerapan affirmative action menimbulkan dampak diskriminasi bagi pihak yang tidak diberikan keistimewaan seperti pihak yang mendapatkan affirmative action, terlepas dari tujuan penerapan affirmative action yang bersifat baik. Pakar seperti James Sterba dalam tulisannya “Objection to Affirmative Action” mengatakan bahwa affirmative action secara moral adalah salah.

Kembali kepada permasalahan perlakuan setara didunia kerja, saya berpendapat bahwa categorical imperative lebih cocok diterapkan didunia kerja ketimbang dari affirmative action. Bagi saya, sebuah bentuk diskriminasi, sekalipun tujuannya positif adalah pelanggaran dari hak karyawan. Categorical imperative bisa membangun keadilan dalam dunia kerja, tentunya atas dasar persepsi yang dibangun bersama sebagai panduan yang mengatur apa yang dianggap baik atau tidak dalam dunia kerja.

Kenapa perlu dibangun atas dasar persepsi bersama? Karena pada dasarnya categorical imperative dibangun atas 3 dasar formula yakni menekankan pada apa yang dinilai baik sebagai peraturan yang bersifat universal dimana standar baik dan buruknya penerapan etika harus dapat digeneralisasi (universal), memperlakukan orang sebagai subjek dan bukannya sebagai tujuan, dan ketiga adalah sebagai individu kita harus bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh prinsip universal tersebut. Jika nilai-nilai moral dan etika yang sudah disetujui secara universal, maka seseorang diharapkan akan memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri atas nilai-nilai moral dan etika yang sudah disepakati secara universal tersebut.

Penerapan perlakuan setara tanpa adanya bias diskriminasi sebagai salah satu penerapan categorical imperative akan membangun rasa keadilan yang nyata dilingkungan kerja, karena menegakkan apa yang sudah disepakati bersama. Hal ini dapat mendorong rasa saling percaya antara satu sama lain di tempat kerja sehingga terbangun iklim kerja yang kondusif ditempat bekerja. Hal ini juga akan mendorong motivasi karyawan untuk memberikan kinerja yang terbaik sehingga mendorong peningkatan kinerja perusahaan pada akhirnya.

Namun disisi lain patut dipertimbangkan juga argumentasi bahwa affirmative action yang mencoba menekankan pada proporsionalitas etika dan moral. Coba anda bayangkan jika anda seandainya memiliki (maaf) keterbatasan fisik yang menyebabkan anda tidak dapat bekerja. Jika menerapkan categorical imperative, maka semestinya berdasarkan nilai universal, para pemilik (maaf) keterbatasan fisik tidak seharusnya mendapatkan kesempatan bekerja karena mungkin dianggap tidak memiliki kemampuan yang mendukung untuk mendapatkan pekerjaan. Walaupun lagi-lagi, para penentang affirmative action berargumen bagaimana jika seandainya semua pihak yang tidak mendapatkan kesempatan kemudian meminta kesempatan merujuk dari penerapan affirmative action?

Sebenarnya jika direnungi secara lebih mendalam, bahwa sebenarnya ada benang merah yang bisa ditarik dari kedua pendekatan tersebut, yakni bahwa baik categorical imperative ataupun affirmative action sama-sama membangun keadilan. Namun bedanya jika categorical imperative bertujuan untuk membangun keadilan secara universal, maka affirmative action membangun keadilan secara proporsional?

Manakah yang lebih baik diantaranya kedua? Jika categorical imperative mengandalkan pada penilaian individu berdasarkan nilai universal, maka affirmative action memiliki kecenderungan akan adanya diskriminasi. Karenanya menjadi penting bagi seorang pemimpin yang beretika untuk memiliki kepekaan untuk menerapkan keduanya secara fleksibel.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s