Pemimpin. Antara Telunjuk, Mulut, Otak dan Hati


Obral

Sembari menunjuk-menunjuk bawahannya, seorang atasan mengatakan kepada bawahannya dengan nada yang merendahkan, masa gitu aja gak bisa?. Pernahkah anda mendengar seorang atasan anda mengatakan seperti itu? Atau bahkan, jangan-jangan anda pernah diperlakukan seperti itu, atau memperlakukan bawahan anda seperti itu?

Memang, gaya kepemimpinan masing-masing atasan berbeda-beda. Ada yang galak setengah mati, ada yang baiknya juga setengah mati sampai-sampai dimanfaatkan oleh para bawahannya. Sudah begitu, kemampuan dari masing-masing atasan tentu saja berbeda-beda. Ada yang cuma mengandalkan telunjuknya dan mulut saja untuk memberi perintah. Ada yang memiliki kemampuan yang baik sehingga juga mampu memberikan pengarahan secara teknis kepada bawahannya.

Sudah begitu, gaya komunikasi dari masing-masing atasan berbeda-beda. Ada yang menggunakan pendekatan profesional semata berdasarkan kemampuan dari masing-masing bawahan. Ada juga yang menggunakan pendekatan humanis dan pribadi, dengan memberikan lingkungan kerja yang nyaman. Terlalu “streng” salah, terlalu lembek juga salah. Lalu mana, yang paling benar?

Sebenarnya tidak ada yang paling benar mengenai gaya kepemimpinan, pendekatan kepemimpinan yang dipergunakan ataupun pendekatan komunikasi yang diterapkan. Dalam artian tidak ada satu yang lebih baik dari yang lainnya. Semuanya tentu tergantung pada tujuan apa yang hendak dicapai, seperti apa kondisi yang ada dalam sebuah organisasi, dan seperti apa kondisi sumber daya manusia yang dipimpin oleh atasan.

Karenanya tidak pernah ada definisi yang baku tentang bagaimana cara memimpin yang baik. Kecuali mungkin mengkombinasikan berbagai faktor-faktor yang ada, atau dalam konteks tulisan ini adalah kemampuan untuk mengkombinasikan menggunakan telunjuk, mulut, otak dan hati dalam waktu yang tepat, kepada orang yang tepat, pada situasi yang tepat. Itulah sebabnya kepemimpinan disebut sebagai seni. Itulah alasan mengapa menjadi seorang pemimpin itu sulitnya setengah mati.

Tapi satu hal yang pasti, gunakan telunjuk anda dengan bijak. Janganlah menjadi otoriter yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Sebagai pemimpin, gunakanlah mulut anda bukan untuk menyakiti bawahan anda. Gunakan untuk memotivasi. Anda boleh sesekali menggunakan kata-kata yang menjatuhkan, tapi setelah itu anda harus bangun kembali semangat bawahan anda. Kembangkan otak anda dengan terus belajar. Agar anda tidak hanya dianggap sebagai pemimpin yang sukanya nunjuk-nunjuk. Agar anda bisa memberikan pengarahan yang jelas. Anda tidak harus menguasainya semua, tetapi yang pasti, anda harus menguasai dasar-dasarnya. Melengkapi kesemua itu, gunakanlah hati. Karena biar bagaimanapun bawahan anda adalah manusia juga.

Jangan menjadi pemimpin yang arogan. Karena kekuasaan itu amanah. Bukan untuk menzolimi orang. Jangan pernah bangga menjadi atasan yang selalu dilayani. Karena jika anda perhatikan, di pasar baru, atasan itu harganya 100.000 rupiah dapat tiga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s