Bom Sarinah, Sosial Media, Komunikasi dan Psikologi Massa


Bom Sarinah

Tragedi peledakan bom dan penembakan yang terjadi di Sarinah, berikut dengan sejumlah momentum yang mengikutinya seperti bermunculan foto-foto korban secara vulgar di sosial media, bermunculannya berita hoax serta bermunculannya berbagai macam hash tag dan juga ajakan untuk tidak mempopulerkan hash tag karena khawatir akan menimbulkan kekhawatiran investor untuk berinvestasi di Indonesia adalah sebuah kejadian yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua dilihat dari perspektif sosial media, komunikasi massa dan psikologi massa.

Pertama, tragedi peledakan bom dan penembakan yang terjadi di Sarinah tersebut merupakan upaya yang sangat terencana dari para pelaku teror dan aktor intelektual dibelakangnya. Tragedi ini merupakan sebuah upaya mengkomunikasikan eksistensi dari para teroris, DIsatu sisi, upaya teror ini dikhawatirkan berdampak pada menciptakan ketakutan massal, membangun reputasi Indonesia sebagai negara yang tidak aman, sampai kepada dampak finansial melemahnya ekonomi Indonesia. Jika sampai itu yang terjadi, maka tujuan dari teroris berhasil.

Teroris melakukan kegiatan teror agar diliput media massa sebagai salah satu media komunikasi massa, untuk membangun psikologi massa yang mencekam, menakutkan. Celakanya, tanpa kita sadari, kita secara massal menjadi bagian dari tersebut. Peran social media sebagai leverage/ booster dari pemberitaan di media massa semakin menemukan eksistensinya, apalagi pada peristiwa yang menjadi community interest.

Celakanya lagi, beberapa aktivitas sosial media yang mungkin kita lakukan, seperti memposting gambar korban tanpa ada upaya edit sedikitpun merupakan sebuah kesalahan besar. Bukan cuma para netizen di sosial media yang melakukan hal tersebut. Media mainstream juga melakukan itu. Padahal kita pernah belajar dari peristiwa kecelakaan Air Asia yang dimana stasiun televisi menampilkan tayangan jenazah korban secara vulgar. Kita ramai-ramai mengutuk hal tersebut, tetapi kenapa kita malah kita lakukan lagi?

Begitu juga untuk berita hoax yang bermunculan di berbagai sosial media, menandakan bahwa kita secara massal, masih begitu mudah untuk diinfiltrasi. Kita masih belum cerdas untuk dapat memilih berita mana yang benar dan berita yang tidak benar. Namun kita juga perlu mempertimbangkan bahwa kondisi psikologis massa, saat itu masih mengkhawatirkan, sehingga penalaran kita cenderung bias. Yang penting saya menginformasikan apa saja supaya kerabat saya aman, keluarga saya aman. Sebenarnya memang itulah yang diinginkan oleh teroris, membangun psikologis massa yang ketakutan, euforia mencekam dan reputasi Indonesia yang tidak aman.

Hal ini diperburuk lagi dengan psikologis pengguna sosial media yang memang gemar mengupdate apa saja. Semua dengan alasan kekinian. Tidak sempat atau tidak mau repot mengedit foto, atau mencerna berita yang kita terima. Ditambah lagi pengguna sosial media di Indonesia adalah salah satu yang terbanyak jumlahnya. Jika teroris berhasil dalam satu hal yakni mempengaruhi psikologis masyarakat Indonesia, khususnya para netizennya, maka teroris telah berhasil menunjukkan eksistensinya, bukan cuma di Indonesia, tetapi juga didunia. Tanpa kita sadari bahwa sebenarnya kita sedang mempromosikan keberhasilan para teroris.

Sedangkan untuk larangan hash tag yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi psikologis investor, rasa-rasanya saya masih kurang sependapat. Pertama hash tag #PrayForJakarta adalah sebuah bentuk ungkapan doa untuk keselamatan kota Jakarta. Investor dalam menanamkan sejumlah dana pastinya telah melalui sejumlah metode perhitungan yang rumit dan njlimet, serta telah mempertimbangkan faktor-faktor sosial, budaya, politik serta pertahanan dan keamanan sebuah negara.

Populernya hash tag #KAMITIDAKTAKUT adalah sebuah hal yang positif untuk membangun optimisme warga Jakarta dan juga Indonesia. Dunia telah memandangnya secara positif. Meskipun memang harus diakui sejumlah negara telah mengeluarkan travel warning. Bahwa dampak dari adanya peristiwa kemarin mungkin masih akan terlihat pada beberapa hari kedepan, mungkin hingga berbulan-bulan. Tapi yang paling penting adalah apa yang kita lakukan setelah ini.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

6 thoughts on “Bom Sarinah, Sosial Media, Komunikasi dan Psikologi Massa

  1. Bom sarinah..
    Seakan hampir tampak kebohongannya…
    Sandiwaranya.
    Konspirasinya.
    Buka mata, buka hati..
    Cerdas dalam mengamati berita dan peristiwa..
    Untuk Indonesiaku, Tanah airku..

    Like

    1. Terimakasih mas Imanuel. Jadi pada intinya apa yang kita lakukan di sosial media itu terjadi karena tekanan psikologis massal yang (sayangnya) berhasil dibangun oleh para teroris yang terkutuk itu. DItambah lagi psikologis prilaku pengguna sosial media di Indonesia yang gemar update. Klop sudah.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s