Pilih Bungkus atau Isi?


Disclaimer : Sebelum membaca tulisan ini, saya memperingatkan bahwa tulisan ini mungkin akan sensitif bagi sebagian orang. Karenanya menjadi penting bagi saya untuk menaruh disclaimer dibagian awal dari tulisan ini. Tulisan ini merupakan opini saya pribadi yang terinspirasi dari sahabat saya, Irham Fachreza Anas yang dengan sangat eloknya memaknai perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya umat muslim mengucapkan selamat natal atau tidak dalam sebuah status pribadi di Facebook. Tulisan ini bisa jadi berbeda pendapat bagi kebanyakan orang. Tapi saya yakinkan tulisan ini tidak mengandung ujaran kebencian dan tidak mengandung maksud perpecahan.

Setiap momen peringatan hari keagamaan pemeluk agama lain, khususnya hari natal, karena jumlah pemeluk agama kristiani terbanyak kedua setelah muslim, kaum muslim selalu terbagi menjadi dua. Sebagian bilang boleh mengucapkan, sebagian melarang. Masing-masing lengkap dengan dalil-dalilnya. Bagi para muslim yang pemahaman agamanya mungkin belum menyeluruh (seperti saya) menjadi bingung karena tidak ada dasar yang bisa menjadi pegangan. Karena itu menjadi penting bagi para pembaca untuk tidak menjadikan dasar tulisan ini sebagai satu-satunya dasar bagi anda untuk menentukan sikap anda.

Ada beberapa perspektif yang bisa dikedepankan dalam memandang persoalan ini sebelum saya menyampaikan pendapat sahabat saya Irham Fachreza Anas.

Perspektif pertama adalah perspektif budaya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pelaksanaan ajaran keagamaan tidak bisa luput dari pengaruh budaya. Islam pun mengalaminya yang pada awal masa penyebarannya berasimilasi dengan budaya jawa.

Perspektif yang kedua adalah perspektif ekonomi. Lebaran dengan membeli baju baru, makanan yang enak bisa dikatakan motif ekonomi dari para pelaku usaha yang mencoba mengais rejeki dari momentum hari keagamaan.

Perspektif yang ketiga adalah perspektif kondisi nasional yang sebenarnya masih ada kaitannya dengan perspektif ekonomi. Tidak meratanya pembangunan ekonomi di seluruh Indonesia menjadi penyebab berbondong-bondongnya warga desa ke kota-kota besar. Akibatnya banyak anak terpisah jauh dari orang tua untuk mencoba mengais rejeki. Pada gilirannya, ketika ada hari keagamaan, terjadi arus perpindahan orang dan transportasi yang mengikutinya.

Perspektif ekonomi dan juga perspektif perpindahan orang dalam jumlah massal yang dilakukan secara terus menerus lambat laun menjadi budaya. Ada boleh, namun jika tidak dilakukan, tidak akan mengurangi nilai agama.

Perspektif lainnya yang mungkin bisa dikedepankan adalah perspektif sosial dimana dalam berkehidupan bermasyarakat. Saya memiliki banyak sahabat yang memeluk agama kristiani dan juga agama lainnya. Mereka sangat menghormati keyakinan dan kepercayaan saya. Sering mengingatkan waktu sholat, mengucapkan selamat hari raya idul fitri kepada saya.

Perspektif lainnya kita juga bisa melihat dari bentuk negara kita sebagai negara hukum. Kita bukan negara agama, dalam arti bukan negara yang melandaskan ideologinya pada satu agama tertentu. Dengan menggabungkan perspektif negara kita sebagai negara hukum, dan perspektif sosial kita diwajibkan untuk menghargai orang lain, apapun agamanya. Ini bukan sebuah bentuk liberalisme, tetapi konsep universal kemanusiaan.

Menjadi menarik ketika sahabat saya, Irham Fachreza menjawab tiga pertanyaan ini :
1. ‘Apa boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal?’
2. ‘Apa boleh seorang muslim menghadiri undangan perayaan natal yang bukan ritual ? ‘
3. ‘Apa boleh seorang muslim mengenakan atribut natal ?’

Ia mencoba memberikan cara pandang lain tentang Toleransi. Cara pandang yang sejatinya merupakan refleksi prinsip Tasamuh, Tawasuth, i’Tidal dan Tawazun (T 4 / T for Moslem) pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Mari, kita bedakan apa itu “BUNGKUS” Toleransi dan apa itu “ISI” Toleransi.

Mengucapkan selamat natal adalah BUNGKUS. Tidak menghina dan tidak merendahkan ajaran agama lain serta ritual ibadah agama lain adalah ISI dari Toleransi.

Menghadiri undangan perayaan natal yang bukan ritual dari tetangga/rekan/bos yang non muslim adalah BUNGKUS. Mengunjungi mereka tatkala sakit, membantu meringankan beban mereka saat menghadapi musibah dan memberikan nasehat kepada mereka jika diminta adalah ISI dari Toleransi.

Menggunakan atribut natal adalah BUNGKUS. Tidak memperdebatkan kalimat Haq Islam ketika bergaul dengan pemeluk agama lain, tidak merendahkan simbol atau atribut sakral agama lain adalah ISI dari Toleransi.

Amat dalam makna tulisan Emha Ainun Najib (Cak Nun) :

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUS-nya saja dan mengabaikan ISI-nya

Toleransi adalah sebuah keniscayaan demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.

Selamat Hari Natal bagi para pembaca Perspektif yang merayakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s