Sosial Media Yang Terlalu Bebas dan Manusia Sok Suci


image

Setiap tahun permasalahan kita sama saja. Seolah kita tidak mau bergerak maju. Menjelang perayaan hari keagamaan selalu saja ada yang diperdebatkan. Mau puasa ribut kalau ada yang lebih dahulu melaksanakan. Mau lebaran, ribut juga karena sudah ada yang dahulu. Mau natal, yang muslim ribut boleh mengucapkan selamat atau tidak boleh.

Masing-masing punya perspektif yang berbeda. Yang satu bilang boleh karena tidak ada dalil dari AlQuran yang melarang. Yang lain bilang tidak boleh karena bisa merusak aqidah. Ada juga yang mengedepankan perspektif menjaga hubungan baik dengan relasi dan kerabat. MUI bilang tidak boleh, menteri agama membolehkan. Alhasil semua bingung, mana yang mau dijadikan pegangan?

Sudah begitu, masing-masing kubu merasa paling benar. Adu pendapat pun tak terelakkan disosial media. Sosial media pun mendadak jadi forum diskusi karbitan yang tidak punya solusi apa-apa untuk ditawarkan kepada masyarakat.

Tidak hanya soal keagamaan, soal kemanusiaan bisa jadi bahan bentrok yang diserukan disosial media. Pasang bendera Prancis waktu itu dibilang tidak punya kepedulian sama Palestina. Tetiba saja kita menjadi manusia paling suci dimuka bumi ini.

Inilah dampak samping dari sosial media yang membawa kebencian yang nyata ditengah-tengah masyarakat. Berdebat di social media pun jadi percuma ketika orang hanya mau melihat dari kacamata dirinya sendiri. Kita tidak mau menghargai perspektif orang lain. Kita tidak mau melihat dengan perspektif yang lebih luas.

Mungkin karena kebebasan berpendapat kita semua terlalu lama dipenjara, sehingga ketika kita diberikan kebebasan berpendapat kita seperti anak kecil yang diberikan mainan setelah dikurung dalam kamar. Mainan itu, kebebasan berpendapat, bisa dipelintir sedemikian rupa atas nama demokrasi padahal sebenarnya demi kepentingan pribadi.

Dan ketika kita punya mainan baru, social media namanya, kita menjadi lebih kalap lagi dalam menyuarakan pendapat. Mungkin ada benarnya juga larangan ujaran kebencian itu ada. Tapi kalaupun ada, kita dibilang seperti mundur ke orde baru. Serba salah juga. Jadi, mana yang paling benar? Siapa yang paling benar? Apa yang paling benar?

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

8 thoughts on “Sosial Media Yang Terlalu Bebas dan Manusia Sok Suci

  1. Pembahasan yang selalu mengundang kontroversi dan tak akan pernah ada habisnya adalah isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Sekalinya nyerempet isu ini, hebohnya bukan main. Perang argumen di jagat maya. Maka dari itu, banyak media yang melarang kontributornya membahas hal ini.

    Seperti kita ketahui bersama, tahun 2015, banyak terjadi kekisruhan akan hal ini. Facebook adalah salah satu ‘tunggangan’ netizen dalam menyampaikan aspirasi mereka. Celakanya, ide yang disampaikan kerap memicu kerusuhan. Yang ini lah, yang itu lah. Bahkan Presiden Republik Indonesia sekali pun tak luput diserang. Untuk menangkal “pendapat yang kebablasan”, dibentuklah aturan UU Hate Speech.

    Tampaknya netizen Indonesia belum banyak yang cerdas. Lebih mengedepankan sisi negatif ketimbang positif. Suka menyebar kebencian, hasutan dan propaganda. Beda halnya dengan netizen di negara maju. Mereka justru berkontribusi menyebar semangat cinta damai dan menjejakkan langkah ke jenjang lebih tinggi.

    Menjadi tugas kita bersama untuk mengajak saudara-saudara kita yang masih dibutakan hal negatif. Media sosial bukanlah tempat untuk bermain dan mencela. Jadilah netizen yang cerdas, akur dan saling membantu mencari solusi terbaik. Bukan justru menebar kebencian.

    salam,
    darwinarya

    Like

    1. Banyak yang masih ditunggangi kepentingan juga. Orang-orang yang dibayar untuk melakukan penyebaran kebencian, propaganda dan lain sebagainya.
      Mudah2an kita gak mudah terhasut. Mudah2an kita tergerak untuk memanfaatkan sosial media dan termasuk blog yang kita miliki untuk kepentingan positif.

      Like

  2. Saya nggak terlalu mikir tentang debat apapun yg menyangkut agama. Lha wong petinggi-petingginya masih nggak bisa kompak. Menyuarakan sesuatu yang bukan demi kebaikan bersama. Jadi, mikir sendiri aja. Sekiranya baik ya dijalankan. Kalau buruk ya ditinggalkan.

    Like

    1. terlalu banyak perspektif yang bercampur menjadi satu membuat sudut pandang menjadi keruh ya mas. Pada akhirnya semua kembali kepada pribadi masing-masing. Apapun itu mari kita melihatnya secara jernih, terutama dengan memahami dan menghargai perspektif orang lain.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s