Untuk Ibu Sri Puspa


Lahir pada tanggal 18 Agustus dan Alhamdulillah masih sehat hingga saat ini, beliau adalah ibu saya yang telah melahirkan saya kedunia, dan telah menanamkan berbagai nilai positif yang telah menjadi bekal bagi saya dalam menjalani hidup ini. Saya memanggilnya mama. Sebenarnya tulisan ini pun bukan dikhususkan untuk hari ibu, karena jika kita melihat keistimewaan yang telah dilakukan oleh seorang ibu, maka 1 hari untuk memperingati keistimewaan Ibu tidaklah cukup. Kalau perlu setiap hari dijadikan hari ibu, saya adalah orang pertama yang akan menyetujui itu.

Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Sebelumnya pernah bekerja di PLN. Ayah saya menceritakan bahwa dulu ibu saya resign karena pengasuh saya tidak becus dalam merawat saya sehingga ibu saya memutuskan untuk merawat saya secara penuh. Saya menceritakan ini tidak bermaksud untuk memperbandingkan ibu rumah tangga dan wanita karir. Semua pilihan yang dipilih oleh seorang ibu adalah sebuah kemuliaan, baik apakah itu bekerja dikantor ataupun dirumah. Sebuah pengorbanan yang dilakukan oleh ibu saya, akan selalu saya kenang seumur hidup saya.

Ibu saya pintar memasak, dan masakannya sangat enak. Saya beruntung setiap hari bisa menikmati masakan langsung dari ibu saya. Itu adalah sebuah anugerah yang tak terkira bagi seorang anak. Ibu saya akan rela merebus daging sapi seharian penuh lalu besoknya baru memasak rendang untuk lebaran. Rendang dan semur daging yang sangat lembut, melambangkan kelembutan hatinya. Melambangkan bahwa ia hanya ingin yang terbaik untuk saya dan adik saya.

Saya juga pun menjadi teringat setiap lebaran, kami pasti akan membuat kue bawang, kue keju dan kue nastar. Tentu yang namanya anak laki-laki, saya dan adik saya pasti akan lebih banyak menggerecoki daripada membantu. Itu adalah sebuah kenangan yang indah. Sayang sekali, karena fisik sudah tidak memadai, ibu saya sudah tidak pernah lagi membuat kue sendiri.

Nasihat yang pernah ibu saya utarakan adalah ketika saya hendak memutuskan untuk sebuah pekerjaan. Jadi ceritanya waktu itu saya ingin menjadi penulis novel dan tidak mau bekerja kantoran. Saya sempat bilang kepada ibu saya, kalau novel saya diterbitkan, maka saya tidak mau dikerjakan. Ketika pada akhirnya novel saya diterbitkan, tetap saja ibu saya meminta saya untuk bekerja di kantor. Alhasil, karena tidak mau kualat, saya pun memutuskan untuk bekerja kantoran. Insyaallah saya yakin bahwa nasihat ibu saya adalah yang terbaik.

Mama. Bisa membalas seluruh kebaikannya rasanya tidak mungkin. Karena kebaikan mama tidak bisa dikonversikan berapa pun nominal rupiahnya. Semua pengorbanan, semua upaya yang telah mama lakukan. Bisa membalas sebagian kecil saja, sudah sangat beruntung. Penyesalan yang paling terbesar dalam hidup saya, adalah saya tidak bisa membiayai orang tua saya naik haji. Karena Papa dan Mama saya sudah berangkat haji sebelumnya. Semoga Allah memberikan saya umur yang panjang, rejeki yang berlimpah untuk bisa membalas lebih banyak kebaikan untuk mama saya. Semoga Allah memberikan mama umur yang panjang, dan selalu dijaga kesehatan.

I Love U Mom.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s