Selain Kompetensi dan Networking, Rekrutlah Karyawan Yang Beretika


Etika Bisnis

Dalam forum diskusi di social media LinkedIn, Indonesia HRD Link saya menemukan sebuah diskusi yang menarik yang dikemukakan oleh Heru Cokro, salah satu HR Consultant yang membahas mengenai rekrutmen dan etika seorang calon karyawan. Sebuah pertanyaan yang sangat menggugah saya. Begini ceritanya.

Vincent, seorang Kepala Pemasaran sebuah perusahaan “hitech” dengan tingkat persaingan yang sangat ketat, sedang mencari seorang “Sales Representative” yang unggul dan handal. Dari sekian puluh lamaran dan setelah melakukan serangkaian wawancara, ia menemukan seorang yang dianggap paling tepat ditinjau dari berbagai sisi. Namanya Victor. Vincent hampir memutuskan untuk menerima Victor (sambil menunggu beberapa kontak telepon untuk mengecek beberapa referensi tentang Victor) ketika
Victor tersenyum, meraih tas kantornya dan mengeluarkan amplop. Dari dalam amplop itu Victor mengeluarkan sebuah disk komputer, dan memegangnya dengan hati-hati bak batu mulia berharga sangat mahal. “Dapatkan anda menebak apa isi disk ini?” tanya Victor. Vincent menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu.

Dengan tetap tersenyum, Victor mendengus untuk meyakinkan dirinya, kemudian menjelaskan betapa disk itu berisi informasi rahasia tentang persaingan perusahaan Vincent, yakni perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya. Di dalamnya tersimpan data tentang profil para pelanggan dan data biaya penawaran dalam tender kontrak peralatan militer dimana perusahaan Vincent pun ikut pula dalam tender tersebut. Setelah wawancara selesai, Victor berjanji apabila ia diterima menjadi “Sales Representative”, maka disk itu dan beberapa disk serupa lainnya akan ia berikan pada Vincent.

Kepala Pemasaran itu kini berada di tengah dua kutub. Satu kutub berisi pertanyaan, bagaimana bisa ada orang yang berperilaku dan mampu berbuat seperti itu. Kutub lainnya berisi kebimbangan, bila ia menerima orang itu berarti ia mendapatkan sesuatu yang setara dengan tambang emas saja. Ini perang batin antara soal etika dan laba. Silakan anda membantu Vincent mengambil keputusan.

Siapa yang tak pernah berada dalam kondisi seperti itu. Sangat dilematis. Tapi jika kita berpegang kukuh kepada integritas dan etika bisnis yang baik, maka jawaban dari pertanyaan tersebut, sebenarnya sangat mudah untuk dijawab. Dari sudut pandang bisnis, Vincent menerima Victor sebagai salah satu karyawannya akan sangat-sangat dibenarkan. Kita sedang bicara bisnis disini. Knowledge dan database yang dimiliki oleh Victor adalah harta berharga yang mungkin akan membuat perusahaan tempat Vincent bekerja punya potensi untuk memenangkan persaingan dan pada akhirnya mendapatkan profit. Manfaat yang diterima tentu tidak hanya dimiliki oleh Vincent dan Victor semata, tetapi juga oleh seluruh karyawan.

Tapi tentu kita perlu mempertimbangkan beberapa aspek disini. Yang pertama adalah, apa yang dilakukan oleh Victor jelas-jelas melanggar tidak hanya etika dan moral, tetapi juga rahasia perusahaan, terutama rahasia dari perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya. Hal ini bisa mendatangkan permasalahan hukum bagi perusahaan Vincent bila menerima Victor dan dikemudian hari perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya mengetahui bahwa Victor menyebarkan rahasia perusahaan.

Kedua adalah apakah yang dilakukan oleh Vincent jika seandainya menerima Victor sesuai dengan nilai yang diharapkan dalam perusahaan? Jika tidak selaras, sebaiknya Vincent jangan menerima Victor. Kita sudah dengan jelas-jelas mengetahui karakter Victor yang tidak beretika. Apa yang menjamin Victor tidak akan melakukan hal yang serupa di perusahaan tempat Vincent bekerja? Kenapa kita harus menerima karyawan yang sudah jelas-jelas kita ketahui kebobrokannya? Apakah kita bisa mentolerir kebobrokannya? Rasanya tidak perlu kebobrokan semacam itu ditolerir. Memang tidak semua karyawan yang kita rekrut bisa langsung kita ketahui nilai yang dianutnya dan moral yang dipegangnya. Tetapi ketika semua informasi dengan jelas terbaca pada karakter Victor, apakah harus diabaikan begitu saja? Rasanya tidak.

Yang terakhir adalah apakah data tersebut relevan di masa depan? Apakah data tersebut jika diolah dengan baik akan mendatangkan manfaat? Perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya mungkin saja telah melakukan analisa atas kemungkinan terjadinya kebocoran data perusahaan. Atau lebih baik lagi, perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya telah melakukan sejumlah perkembangan yang membuat data tersebut menjadi tidak relevan lagi. Alih-alih berfokus pada kompetitor, tentu sebuah perusahaan harus mengembangkan dirinya sendiri.

Selain itu, sejumlah penelitian menyebutkan perusahaan yang menerapkan etika bisnis dipandang lebih dipercaya oleh para pemangku kepentingannya dan lebih berumur panjang daripada perusahaan-perusahaan yang menerapkan etika bisnisnya.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s