Save Go-Jek


Save Gojek

Pagi ini saya pergi ke kantor dengan menggunakan Go-Jek sebagaimana biasanya. Namun betapa kagetnya saya ketika saya membuka salah satu portal berita yang mengatakan bahwa Go-Jek dan juga sarana transportasi online berbasis aplikasi web lainnya seperti Grab Bike, Uber, Grab Car, dan lain sebagainya secara resmi dilarang oleh Kementerian Perhubungan. Tak pelak, terjadi pergolakan di masyarakat, khususnya para netizen. Hash tag SaveGojek bergema di social media manapun.

Dalilnya adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan. Pro dan kontra pasti akan selalu ada. Ada beberapa perspektif yang bisa dikedepankan dalam membahas permasalahan ini, agar menjadi jernih dalam kita melihat isu besarannya.

Kebutuhan Masyarakat

Bergolaknya masyarakat akibat adanya pelarangan ojek online menandakan bahwa masyarakat benar-benar membutuhkan layanan ojek online ini. Harga yang murah dan pelayanan yang cepat menjadi salah satu faktor kenapa aplikasi transportasi berbasis online ini menjadi primadona moda transportasi yang dipergunakan oleh masyarakat.

Contohnya saya pribadi lebih memilih menggunakan naik Go-Jek ketimbang saya menggunakan mobil pribadi saya. Sebagai perbandingan, untuk menuju kantor saya dibilangan Harmoni, Jakarta Pusat dari rumah saya di Pondok Labu, saya hanya menghabiskan uang Rp30.000 untuk pulang pergi kantor. Jika saya menggunakan mobil pribadi maka saya akan menghabiskan uang sebesar Rp12.000 untuk tol dan 15.000 untuk parkir. Belum lagi uang bensin yang menghabiskan Rp200.000 per minggunya. Jika biaya bensin dikonversikan menjadi per hari, maka saya akan menghabiskan kira-kira Rp40.000 per hari. Secara total saya menghabiskan biaya sebesar Rp67.000 per hari. Saya bisa mengalokasikan kelebihan Rp37.000 untuk keperluan lainnya.

Keamanan Masyarakat

Memangnya Go-Jek dan Grab Bike atau Uber tidak aman? Pernah mendengar kecelakaan Go-Jek dan Grab Bike? Yang ada Go-Jek ditabrak Kopaja. Yang ada malah kecelakaan Metromini. Keamanan seseorang di Jalan Raya adalah tanggung jawab semua. Jika Go-Jek dianggap tidak aman, maka selayaknya ojek pangkalan pun menjadi tidak aman. Jika Go-Jek dilarang karena faktor keamanan, maka ojek pangkalan pun juga harus dilarang. Jika Uber dilarang, maka selayaknya rental mobil pun dilarang.

Kewajiban Pemerintah

Menyediakan sarana transportasi yang terjangkau baik dari sisi akses harga dan akses ketersediaaannya adalah tanggung jawab dan kewajiban pemerintah. Ketika ada pihak ketiga yang mau membantu Pemerintah memenuhi kewajiban tersebut, agak sedikit aneh dalam penalaran saya. Yang ada seharusnya pemerintah mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam peraturan yang disusunnya, bukannya malah membatasi ruang gerak dan masyarakat.

Menyediakan Tenaga Kerja

Berapa banyak perusahaan yang bisa menyediakan puluhan ribu lowongan pekerjaan hanya dalam waktu satu tahun? Go-Jek, Grab Bike dan juga Uber mampu melakukannya. Berapa banyak proyek pemerintah yang mampu menyediakan puluhan ribu lowongan pekerjaan? Tidak banyak bukan. Hingga kini, jumlah driver Go-Jek, Grab Bike saja jika digabung bisa mencapai ratusan ribu orang. Multiplier effectnya betul-betul terasa ketika orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan memiliki penghasilan karena bekerja sebagai Driver Go-Jek dan mampu memenuhi kebutuhan hidup. Terjadi pergerakan uang. Terjadi pergerakan kelas sosial, semakin banyak kelas bawah yang bisa naik ke kelas menengah. Ini bagus untuk menggerakkan perekonomian sebuah wilayah.

Persaingan Bisnis

Isu persaingan bisnis memang sangat dirasa kental sekali pengaruhnya. Sejumlah moda transportasi lainnya mengeluh pangsa pasarnya tergerus karena adanya fasilitas transportasi online ini. Konflik ojek online dan ojek pangkalan serta dengan pengemudi taksi menandakan hal ini. Go-Jek dan Grab Bike pun dituduh tidak menerapkan etika bisnis yang sehat. Penerapan harga yang murah dituding menjadi keladinya. Tapi bukankah perusahaan yang mampu melihat peluang adalah yang akan keluar menjadi pemenang. Ketika perusahaan mampu membentuk layanan mereka menjadi demand sebuah masyarakat, itulah yang dilakukan oleh Go-Jek dan kawan-kawannya. Memang kita tidak menginginkan pengemudi taksi dan moda transportasi lainnya menjadi kehilangan penghasilan. Karenanya isu persaingan bisnis ini perlu didudukkan bersama.

 

PERSPEKTIF mendukung #SaveGoJek

Advertisements

6 thoughts on “Save Go-Jek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s