Sharing Economy part 2 : A New Destructive Wave of Creativity


Ekonomi 3

Konsep sharing economy dimana seseorang dapat menjadi konsumen dan produsen pada saat yang bersamaan diperkirakan menjadi wajah baru bagaimana bisnis dilakukan. Internet menjadi media fasilitator yang sangat baik untuk menerapkan konsep sharing economy. Namun kemudian, apakah konsep sharing economy ini hanya akan menjadi sebuah utopia semata? Sahabat saya Adrian Wijanarko menuliskannya dengan cerdas dan bernas.

Oleh Adrian Wijanarko

Apa Yang Kita Tahu Tentang Industri?

Perubahan wajah ekonomi selalu beriringan dengan perkembangan jaman. Pada awal abad ke 19, revousi industri yang terjadi di Inggris mengubah wajah dunia. Kemajuan teknologi pada saat itu mendorong pertumbuhan ekonomi dengan munculnya mesin tenaga uap, rel, mesin dan mesin pembangkit tenaga listrik. Revolusi industri mengubah wajah perekonomian Eropa yang awalnya mengandalkan perdagangan, perternakan dan perkebunan menjadi negara yang di dominasi oleh mesin dan pabrik besar. Munculnya mesin mendorong pengusaha menggunakan mesin untuk mendorong jumlah produktivitas yang lebih besar. Hal tersebut mendorong setiap usaha membesarkan usahanya yang menimbulkan efek lanjutan mendorong jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Pada saat itu, banyak orang yang berbondong-bondong berpindah pekerjaan dari pedagang dan petani menjadi pekerja yang di kontrak pengusaha untuk mengembangkan bisnis usahanya. Semenjak itulah awal munculnya industri modern yang kita kenal.

Trust Sebagai Mata Uang Sharing Economy

I don’t think them as a stranger, I think them as a friend I don’t met yet

Meg – AirBnb host

Pasca krisis ekonomi tahun 2008, para ekonom percaya bahwa sistem ekonomi (khususnya di Amerika Serikat) terlalu rapuh. Selain itu juga di dukung fakta bahwa sumber daya sudah semakin langka dan sulit untuk di dapat. Di sisi lain SDM semakin meningkat jumlahnya membuat faktor persaingan semakin ketat untuk masuk ke dalam pasar kerja.

Dengan keadaan inilah, muncul sharing economy yang sebagian besar di dominasi oleh generasi muda. Sharing Economy mulai berkembang ketika lay-off pada tahun 2008. Ketika itu para pekerja sulit untuk kembali masuk ke dalam pekerjaan lain. Dan ketika faktanya mereka bergabung di dalam industry sharing economy mereka mendapatkan jawaban atas ke khawatiran meraka tentang kemandirian financial yang selama ini mereka pertanyakan ketika berkerja sebagai karyawan. Sharing economy menawarkan suatu keleluasaan tentang bagaimana individu dapat mengatur asset nya untuk mendapatkankan profit. Asset yang dimaksud bukanlah hanya sekedar barang tangible, namun juga bisa sesuatu yang intangible seperti kemampuan (skill). Dengan ini, individu bisa me-manage sendiri bagaiamana mereka ingin mengatur pekerjaan nya sendiri. That’s mean you’re a boss in your own company. Kesimpulanya, sharing economy timbul sebagi sebuah kreatifitas para pengguna internet untuk menggunakan asset yang ada untuk mendapatkan profit.

Sharing economy harus membutuhkan internet sebagai pasar. Menurut ahli ekonomi, pasar adalah tempat bertemunya supply dan demand. Internet dapat mengubah persepsi kita bahwa pasar tidak lagi adalah sebuah tempat yang exist terlihat oleh mata. Pertanyaan nya apakah anda berkeinginan untuk meminjamkan asset anda kepada orang yang sama sekali tidak dikenal? Menurut Rachel Botsman, peneliti lulusan Harvard, trust adalah currency yang dapat di pakai di sharing economy. Individu baik sebagai penyedia (supply) dan individu sebagai pengguna (demand) harus bisa saling me-review dan menjadikan review tersebut sebagai trust yang dibangun individu di dalam komunitas economy sharing.

“Gangguan” Kepada Sistem Terdahulu

Tidak semua perubahan yang di ditawarkan sharing economy berdampak baik. Sebagai contoh supir taksi merakan bahwa pendapatannya menurun akibat munculnya Uber. Hilton Group Hotel merasakan penurunan revenue semenjak adanya Uber. Masih banyak contoh lain yang terkena dampak yang dibawa oleh sistem sharing economy. Di sisi pemerintah sebagai regulator masih menganggap sharing economy sebagai gerakan ‘vandalism’ yang melanggar beberapa aturan pemerintah yang sudah di terapkan. Masih ingat kasus yang heboh antara Uber dengan Pemprov DKI Jakarta bukan?

Sharing Economy masih menjalani jalan yang panjang dan berliku. Sebagai regulator, pemerintah seharusnya menjadi pengengah antara old system dan new system. New wave sharing economy tidak mungkin dapat di bendung sejalan dengan sifat internet yang borderless. Pemerintah tidak akan dapat membendung ketika supply dan demand untuk menggunakan sharing economy semakin tinggi. Sebagai regulator, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan dam mengadaptasi beberapa unsur sharing economy ke dalam peraturan pemerintah baru untuk melindungi masyarakat yang ingin berkerja mencari profit melalui sharing economy.

Sharing Economy mungkin dapat sejalan dengan beberapa tujuan pemerintah seperti menurunkan tingkat kemacetan dan mengurangu polusi baik asap maupun udara yang sudah di jalankan oleh pemerintah Sydney. Pemprov Sydney sadar oleh manfaat yang di bawa oleh sharing economy sehingga mereka berkeinginan untuk membuat peraturan khusus tentang car sharing yang fakta nya telah berhasil menurunkan tingkat kemacetan dan polusi di dalam kota. Selain itu car sharing mendorong orang untuk menggunakan transportasi public sebagai compliment penggunakan car sharing. Anda bisa google tentang car sharing yang sudah berhasil di Sydney. Dan hal tersebut adalah sesuatu yang di bawa oleh sistem sharing economy.

 

Adrian Wijanarko, karyawan project CDIT Unilever, pecinta film, traveling dan writing. Bisa ditemui di @WijanarkoAdrian

Advertisements

One thought on “Sharing Economy part 2 : A New Destructive Wave of Creativity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s