Bootstrap Effect Dalam Merger & Akuisisi


Merger

Isu merger dan akuisisi masih menjadi isu yang kontroversial dalam ekonomi terutama dari sisi hukum, budaya dan perusahaan. Kendati diyakini dapat meningkatkan kualitas perusahaan yang melakukan merger dan akusisi terhadap perusahaan lain, sejumlah motivasi yang dapat dikatakan “negatif” masih menyelubungi niat sebuah perusahaan untuk melakukan merger. Salah satunya adalah bootstrapping effect. Apakah itu bootstrap effect?

Bootstrapping adalah menggabungkan pendapatan 2 perusahaan setelah merger yang seolah-olah meningkatkan earning per share dari perusahaan yang melakukan merger (acquirer) padahal sebenarnya tidak ada manfaat ekonomi yang didapat dari aktivitas merger tersebut. Bootstrapping effect ini biasanya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki price per earning lebih tinggi terhadap perusahaan yang memiliki price per earning lebih rendah sehingga mengesankankan harga saham yang lebih murah. Dampak lainnya adalah meningkatnya jumlah saham beredar (shares outstanding).

Bootstrapping effect dapat diilustrasikan dalam gambaran sebagai berikut:

Bootstrap Effect

Sebutlah ada 2 perusahaan A dan perusahaan B. Perusahaan A memiliki 200.000 saham outstanding dengan harga per lembar saham adalah 80 dengan pendapatan sebesar 600.000. Maka perusahaan A tersebut memiliki Earning Per Share sebesar 3 (600.000/ 200.000) dan price per EPS sebesar 27 (80/3). Perusahaan B memiliki 100.000 saham outstanding dengan harga per lembar saham adalah 40 dengan pendapatan sebesar 200.000. Maka perusahaan A tersebut memiliki Earning Per Share sebesar 2 (200.000/ 100.000) dan price per EPS sebesar 2 (40/2).

Perusahaan A kemudian mengakuisisi perusahaan B. Agar perusahaan A dapat mengakuisisi perusahaan B yang seharga 4.000.000, maka perusahaan A harus menerbitkan 50.000 lembar saham baru. (4.000.000/80) sehingga jumlah saham beredar perusahaan A meningkat dari awalnya sebanyak 200.000 lembar saham naik menjadi 250.000. Earning dari perusahaan A menjadi meningkat dari awalnya 600.000 menjadi 800.000 (earning perusahaan A 600.000 + earning perusahaan B 200.000). Hal ini menyebabkan earning per share perusahaan A setelah melakukan merger naik dari 3 menjadi 3,2 (800.000/250.000) dan Price per EPS perusahaan A turun dari 27 menjadi 25 (80/3,2).

Hal ini mengesankan bahwa perusahaan A mengalami peningkatan kinerja berupa peningkatan earning, peningkatan earning per share yang menjustifikasi peningkatan kinerja tersebut, serta penurunan price per earning ratio yang menandakan harga saham yang murah. Ini terlihat seperti membeli barang yang bagus dengan harga yang murah.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s