Siapkah Kita Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN?


Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh Adrian Wijanarko

Beberapa waktu lalu ketika saya berkunjung ke Tiongkok, saya sempat mengobrol dengan seorang pengusaha bernama Rahmat. Dia membahas tentang usaha produksi kaos dan sablon yang sudah digelutinya sejak 4 tahun silam. Ia mengkhawatirkan eksodus barang dari Tiongkok yang akan mempengaruhi profitabilitas dan keberlangsungan usahanya. Walaupun dalam konteks pembicaraan saya dengan pengusaha tersebut adalah barang impor dari Tiongkok, hal tersebut menggambarkan sebuah persaingan di suatu industri dalam mengadapi persaingan dari luar negeri. Pada awal tahun 2016, Indonesia dan negara-negara ASEAN lain nya sudah menerapkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pertanyaan paling mendasar, dimanakah posisi kita saat ini dan sudah siapkah kita menghadapi MEA?

Apa itu sebenarnya MEA?

Indonesia dan negara-negara ASEAN telah menyepakati untuk membuat pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara untuk menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investor asing dari luar negeri untuk menanamkan modal di kawasan Asia Tenggara. Logikanya jelas, dengan menerapkan pasar tunggal, perusahaan dapat menjual hasil produksinya ke 10 negara di kawasan Asia Tenggara.

Bayangkan, MEA akan membuat negara-negara ASEAN yang memiliki 4,44 juta km persegi dan jumlah penduduk total (disurvey pada tahun 2013) sebanyak kurang lebih 625 juta jiwa menjadi sebuah kawasan pasar tunggal! Bukankah angka tersebut fantastic dan menggiurkan untuk perusahaan manapun yang ingin memasarkan produknya?

Diharapkan dengan masuknya modal asing dan kawasan baru, otomatis akan membuka lapangan pekerjaan baru untuk para penduduk ASEAN. Tidak hanya untuk modal asing saja, peluang tersebut bisa dimanfaatkan oleh pengusaha dalam negeri untuk memperluas pangsa pasar-nya keseluruh negara-negara ASEAN.

MEA tidak hanya mendatangkan peluang, namun juga tantangan. Tidak hanya di sektor pengusaha saja yang produknya akan bersaing dengan produksi luar negeri, namun pasar tenaga kerja. Tenaga kerja asing akan bebas untuk masuk untuk bekerja di dalam negeri dan bersaing dengan tenaga kerja lokal dari dalam negeri. Tentunya pemerintah telah melalukan batasan supaya tenaga kerja asing yang merupakan pekerja kasar untuk tidak masuk kedalam negeri. Namun hal tersebut tentu menjadi tantangan untuk semua. Disisi lain, tersembul juga peluang tersebut untuk menjadikan tenaga kerja dalam negeri bekerja di luar negeri dan menikmati pendapatan yang lebih baik.

Suatu hari saya transit di Bandara Udara Internasional Sepang, Kuala Lumpur. Saya takjub oleh sosialisasi pemerintah Malaysia tentang MEA yang sudah sangat baik. Saya langsung membandingkan sosialisasi yang telah dijalankan pemerintah Indonesia. Sayangnya, hal tersebut masih kurang.

Saya, dan anda sebagai warga negara Indonesia dan generasi penerus bangsa mempunyai andil untuk mensosialisasikan MEA ini kepada seluruh masyarakat. Kita sangat beruntung diberikan akses pendidikan dan informasi yang memadai. Sedangkan, ada segelintir warga negara Indonesia yang tidak mempunyai akses pendidikan dan informasi yang memadai. Padahal, MEA ini akan berdampak kepada seluruh warga negara Indonesia, tidak hanya kita saja.

3 Tahap Sosialisasi MEA

Sosialisasi MEA kepada semua masyarakat Indonesia adalah menjadi sebuah tugas panggilan seorang negarawan. Kita tidak perlu sebuah pengakuan ataupun penghargaan. Tugas Saya, Anda dan Kalian untuk mensosialisasikan MEA kepada semua orang. Satu orang lebih baik dari pada tidak, bukan?

Bagaimana kemudian cara melakukan sosialisasi MEA yang baik? Ada 3 tahap yang dapat dilakukan, yakni :

Merubah Mindset

Tidak semua orang memiliki pandangan yang luas tentang ilmu ekonomi makro. Jika kita menjelaskan bahwa MEA adalah tahap dimana tenaga kerja asing masuk kedalam negeri untuk mengambil pekerjaan mereka di dalam negeri, mereka mungkin akan “mengutuk”pemerintahan sekarang.

Namun sebagai orang yang berpengetahuan, kita harus menjelaskan bahwa MEA adalah sebuah peluang yang sangat besar. Untuk pengusaha UKM kelas kecil menengah harus disosialisasikan bahwa MEA adalah peluang mereka untuk memasarkan barang produksi mereka keluar negeri tanpa batasan. Tentunya barang produksi asing akan masuk kedalam negeri. Bukan berarti dengan masuknya barang asing akan mengurangi pendapatan mereka namun bisa menjadikan peluang untuk penetrasi yang lebih besar untuk menjual barang kepasar ekspor.

Baca Juga : Masyarakat Ekonomi ASEAN, Breakthrough Your Mindset !

Di sisi pasar tenaga kerja, peluang yang bisa didapatkan adalah dengan bersaing untuk mendapatkan pendapatan lebih baik dengan berkerja di luar negeri. Kultur persaingan akan membuat tenaga kerja akan menjadi lebih kompetitif, namun benefit yang akan di dapatkan akan menjadi lebih besar.

Mempersiapkan Diri

Untuk pengusaha, hak paten dan keunikan produk akan menjadi salah satu keunggulan yang bisa ditingkatkan. Pengusaha harus menciptakan keunikan (value) tiap produk barang yang di produksi. Selain itu pengusaha harus membiasakan kultur melindungi karya mereka dengan hak paten. Hal tersebut akan menjadikan pengusaha dapat menikmati keuntungan dari karya mereka.

Untuk tenaga kerja masalah Bahasa Inggris adalah hal yang paling krusial. Tenaga kerja dalam negeri sebenarnya tidaklah buruk, namun kelemahan mereka adalah dalam penguasaan Bahasa Inggris. Ketika MEA telah di terapkan, tenaga kerja dalam negeri harus membiasakan diri untuk berkomunikasi di dalam Bahasa Inggris.

Manfaat Dari MEA

Keuntungan dari MEA adalah limitless. Anda bisa bekerja di di Kuala Lumpur dengan menikmati gaji lebih tinggi dan pulang kerumah di Jakarta pada saat weekend. Atau barang produksi kaos mas Rahmat dapat masuk kedalam pasar dalam negeri Vietnam karena value barang yang unik. Dengan mendapatkan pasar di Vietnam, mas Rahmat akan mendapatkan permintaan ekspor yang meningkat dan otomatis akan meningkatkan profit usahanya.

***

Pada awal mungkin akan terasa sangat sulit. Kita akan bersaing dengan individu yang lebih banyak lagi untuk mendapatkan pekerjaan yang sama. Namun dibalik semua itu MEA memiliki peluang yang sangat besar. Kawasan Eropa yang sudah terintegrasi dalam satu kawasan tunggal untuk pasar ekonominya telah mendapatkan manfaat ekonomisnya.

Keluarga saya berasal dari keluarga penerbangan udara (aviasi), dan pernah ngobrol dengan salah satu pilot kelahiran Jerman, yang tidak lain adalah teman ibu saya. Dia pernah bilang hal yang paling sulit dalam mengendalikan pesawat adalah proses take-off dan landing. Kenapa sulit? Karena pada saat take-off, yang dimana pesawat akan terbang, adalah dimana saat posisi pesawat harus mengeluarkan banyak tenaga dan memfokuskan diri untuk dari posisi yang berada tanah ke posisi di udara. Dan hal sebaliknya sama di proses landing. Namun ketika berada di udara, pesawat tidak akan banyak mengalami kesulitan. Bahkan di proses ini pilot bisa mengaktifkan pesawatnya di posisi auto-pilot.

Perubahan akan menjadi sangat sulit ketika tidak terbiasa kedalam posisi baru. Layaknya pesawat, membutuhkan energi yang sangat besar untuk mengangkat badanya ke udara. Selain itu dibutuhkan fokus yang tinggi untuk pilot. Namun percayalah, ketika perubahan sudah dilakukan anda akan berada di posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Sama seperti ilustrasi pesawat yang berada di atas udara anda tidak membutuhkan banyak energi lagi sehingga anda merasakan perasaan tidak ingin kembali kedaratan lagi.

Adrian Wijanarko, karyawan project CDIT Unilever, pecinta film, traveling dan writing. Bisa ditemui di @WijanarkoAdrian

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s