Giannini, Berbisnis Dengan Hati


Bank of America

Uang itu penyakit gatal yang buruk, dan saya tak pernah ingin menderita karenanya – Amadeo Giannini

Maka, ketika meninggal pada 1949, ia cuma mewariskan uang kurang dari 500 ribu dolar AS. Padahal, ketika itu bank yang didirikannya sudah menjadi salah satu bank terbesar di dunia.

Memang banyak pioner yang kemudian sukses pada mulanya terbilang sebagai orang-orang yang menjalani hidup dengan nyentrik atau bahkan gila. Begitu pula dengan Giannini. Bernama lengkap Amadeo Peter Giannini, dia dilahirkan di San Jose, California, pada 1870. Giannini berasal dari keluarga petani dengan status imigran. Ayahnya, yang meninggal ketika Giannini berusia tujuh tahun, berasal dari Genoa, Italia.

Terang saja ekonomi keluarga yang sudah miskin itu kian morat-marit. Beruntunglah kemudian ibunya menikah lagi dengan Lorenzo Scatena. Pada mulanya Scatena hanyalah seorang buruh pengangkutan. Namun, tak lama setelah pernikahannya, lelaki itu mencoba peruntungan baru dengan mengembangkan usaha di bidang produksi.

Saat itu, Giannini yang berusia 14 tahun, memutuskan untuk berhenti dari sekolah agar bisa membantu mengembangkan bisnis ayah tirinya. Naluri bisnis Giannini sudah tampak menonjol di usia sebelia itu. Tercatat, hanya dalam lima tahun, ia bukan lagi pekerja, tapi sudah jadi rekanan Scatena dan sebagai salah satu pemilik sahamnya. Namun, saat itulah, tak hanya naluri bisnisnya, kenyentrikannya sudah mulai terlihat. Pada 1901, misalnya, Giannini menjual seluruh sahamnya kepada karyawan dan pensiunan.

Lelaki Penggelisah

Giannini muda tergolong lelaki penggelisah. Hatinya selalu rusuh melihat kemiskinan yang membelit daerah California yang ketika itu jadi permukiman imigran asal Italia. Itulah yang kemudian mendorong Giannini bergabung dengan Columbus Saving & Loan Society, sebuah bank kecil di North Beach.

Sebagai lelaki penggelisah, wajar jika kemudian Giannini segera saja berselisih dengan para direktur lembaga keuangan tersebut. Perselisihan dipicu oleh latar strategi pengembangan bisnisnya. Giannini menginginkan agar kredit dikucurkan kepada para pekerja rendahan di kalangan kaum imigran yang, menurutnya, tergolong pekerja keras namun justru selalu dijauhi lembaga keuangan. Keinginan Giannini ini ditentang kalangan direktur yang pola pikirnya masih konvensional. Mereka lebih cenderung menggelontorkan kredit kepada para pengusaha dan kelompok masyarakat kelas atas.

Itulah yang menyebabkan Giannini tak kerasan dan pada 1904 keluar. Untuk mewujudkan mimpinya agar bisa memberikan kredit kepada kaum pekerja, akhirnya Giannini mendirikan lembaga keuangan sendiri yang diberi nama Bank of Italy. Modal awalnya tak lebih dari 150 ribu dolar AS yang dipinjam dari Scatena dan 10 orang temannya. Sebuah bangunan bekas bar yang letaknya persis di depan Columbus Saving & Loan Society dijadikannya kantor. Dari sanalah Giannini mulai mengukir sejarah dengan tinta emas.

Giannini segera tampil sebagai bankir yang tak lazim. Pertama, ia tak melayani para pengusaha atau masyarakat kelas atas. Sebab, dari awal apa yang dilakukannya memang untuk membantu para pekerja miskin setulus hati. Kedua, ia memasarkan produknya dengan cara aneh. Ia selalu menyusuri jalanan kota dengan menenteng lonceng. Lonceng itu dia tabuh sepanjang jalan. Ketika masyarakat mulai berkerumun, ia berhenti di pinggir jalan untuk menjelaskan produk-produknya. Masyarakat yang ketika diemohi bank, justru ia beri pinjaman.

Syaratnya sangat sederhana. Ia cukup tahu wajahnya dan orang tersebut tanda tangan di secarik kertas, kredit pun cair. Di masa itu, dan bahkan hingga sekarang, cara itu tergolong gila.Keanehan yang lain, Giannini menempatkan meja kerjanya justru di ruangan terbuka. Tujuannya, agar ia gampang berkomunikasi dengan seluruh karyawannya. Juga, agar para nasabah yang datang bisa dengan menyampaikan masalahnya. Bahkan, ketika bisnisnya sudah berkembang pesat, ia tak mengubah kebiasaannya.

Tapi, dengan ketulusan hati untuk membantu dan cara-cara nyeleneh itu, Giannini justru mampu membawa banknya menjadi salah satu bank terbesar di dunia. Langkah-langkah bisnisnya menunjukkan hal itu. Pada 1923, misalnya, Giannini membantu industri anggur California, kemudian ikut mendorong industri perfilman Hollywood. Pada 1923, dia menciptakan divisi kredit perfilman dan membantu Mary Pickford, Charlie Chaplin, Douglas Fairbanks, dan DW Grifth untuk mulai membentuk United Artists. Dia juga membantu Walt Disney menciptakan tokoh Putri Salju ketika pioner animasi Hollywood itu kekurangan dana sebesar 2 juta dolar AS.

Untuk mengembangkan usahanya, pada 1919, dia membentuk Bancitaly Corporation. Lalu, pada 1928, mendirikan TransAmerica Corporation sebagai perusahaan induk yang berfokus pada sektor keuangan. Melalui holding itulah ia membeli Bank of America di New York. Bank of Italy pun akhirnya dilebur dengan menggunakan nama Bank of America dengan misi untuk meluaskan bisnisnya. Hingga kini Bank of America menjadi salah satu bank terbesar di dunia.

Tapi begitulah Giannini. Perusahannya menjadi yang terbesar tapi hidupnya tak bergelimang uang. Sebab, ia berbisnis bukan untuk mengeruk keuntungan, tapi membantu mereka yang tak beruntung.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s