Tentang Mainan Anak


toys

Sebagai orang tua bisa membahagiakan anak adalah sebuah kebanggaan. Salah satunya adalah dengan membelikan mainan. Melihat senyum anak kita yang mengembang dan merekah lebar ketika memeluk mainan mereka adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira nilainya. Begitu juga bagi saya. Walaupun tidak sesering ketika Khansa masih bayi, tetap saja membelikan mainan untuk Khansa adalah sebuah kebanggaan bagi saya sebagai orang tua.

Jujur terus terang, hampir sebagian besar permintaan Khansa membeli mainan selalu saya turuti. Kecuali ketika ibunya sudah menatap kepada saya dan mengatakan “mainan Khansa sudah banyak”. Ketika istri saya sudah mengatakan itu, terlepas nantinya apakah Khansa keluar mbah jamrongnya atau tidak, ya harus saya turuti. Tapi selama masih ada rejeki, selama ibunya Khansa memperbolehkan, dan selama menurut saya harga sebuah mainan masih masuk akal, besar kemungkinan Khansa akan pulang dengan membawa sebuah mainan.

Sebagai orang tua, saya tidak pernah terjebak pada pembagian kelas antara mainan anak laki-laki dan perempuan. Saya relatif membebaskan Khansa, putri saya dalam memilih mainannya. Apakah dia ingin memainkan mainan mobil-mobilan, ataupun boneka-bonekaan, bagi saya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika harga mainannya membuat saya mendadak butuh panadol.

Tapi dulu, saya dan saya yakin anda juga yang kini menjadi orang tua pernah berada dalam paradigma pengkotak-kotakan mainan anak-anak. Ya, setidaknya lebih longgar daripada orang tua jaman dahulu kala. Anak laki pasti tidak jauh-jauh dari mainan mobil-mobilan, action figure, dan mainan lain yang anda bayangkan lebih cocok untuk laki-laki. Anak perempuan tidak jauh-jauh dari boneka. Hal ini tentu didasari karena takut anak laki-lakinya akan seperti keperempuan-perempuanan dan takut anak perempuannya akan menjadi tomboy.

Memang untuk anak laki harus demikian. Saya pun kalau punya anak laki-laki pasti akan melarang anak laki-laki main boneka perempuan seperti misalnya Barbie ataupun Princes. Tapi relatif untuk Khansa saya tidak pernah melarang. Memang porsinya sebagian besar untuk boneka, namun untuk mainan seperti mobil-mobilan, robot-robotan, bahkan dinosaurus pun tidak saya larang. Hal ini semata untuk tidak membuat putri saya menjadi sempit pola pikirnya. Ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuannya serta imajinasinya.

Siapa tahu nanti Khansa jika besar menjadi developer ternama ataupun arsitek terkemuka karena terimajinasi oleh mainan building blocks? Ataupun perancang teknologi atau pakar robotika karena bermain robot-robotan. Saya pun tidak akan masalah jika Khansa menjadi perancang busana karena sering bermain boneka barbie ataupun princes. Bukankah banyak profesi sekarang ini sudah membuka diri dari paradigma gender yang membelenggu? Profesi cheff yang semakin banyak diisi oleh pria bisa menjadi salah satu contohnya. Ataupun developer yang sudah tidak tabu untuk diisi oleh wanita.

Begitu menakjubkannya imajinasi yang bisa membawa kita kemana saja dan menjadi apa saja yang seseorang inginkan. Dan itulah yang saya inginkan untuk Khansa, putri saya. Saya tidak ingin dia terbelenggu. Jika pemikiran seseorang terbuka (dalam artian bukan radikal dan bukan liberalis), saya yakin peluang dan kesempatan juga akan lebih banyak terbuka. Dan semua itu bisa dimulai dari pola pikir anda terhadap memandang mainan untuk anak-anak anda.

Bagaimana menurut anda?

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Mainan Anak

  1. Setuju dengan paragraf 4, anak perempuan bisa lebih amamn memilih mainan, termasuk mainan laki-laki sekalipun.
    Karena nanti ketika dewasa, perempuan tomboy cenderung aman dari “gunjingan” daripada lelaki yang…….begitu deh 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s