Meningkatkan Peran Pondok Pesantren Dalam Ekonomi Kerakyatan Berbasis Syariah


Pesantren

Pondok pesantren (ponpes) memiliki peran yang tidak kecil dalam pengembangan masyarakat baik sebagai bagian dari sub sistem pendidikan maupun dalam pembangunan sosio cultural. Fokus pengelolaan ponpes di bidang pendidikan atau pengajaran acapkali mengesampingkan pengembangan usaha ekonomi sebagai salah satu penunjang keberlangsungan ponpes.

Masih banyak ponpes yang masih mengandalkan sumber pendanaan dari dana ZISWAF masyarakat, sumbangan pendidikan santri atau bantuan pemerintah. Sehingga perlu ditanamkan wacana dan konsep kemandirian ekonomi pengelolaan ponpes melalui pelaksanaan usaha produktif atau bisnis yang memberi imbal hasil kepada ponpes.

Dalam rangka mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis syariah, ponpes sebenarnya memiliki sarana yang bisa digunakan yaitu melalui pembentukan atau pengoptimalan peran koperasi pondok pesantren (kopontren), yang pada akhirnya bisa menjadi penopang pendanaan untuk kelangsungan ponpes dalam menjalankan misi mulianya.

Unit usaha penggerak ekonomi yang dimiliki ponpes (misal, Kopontren) sebagai bagian dari yayasan dan komunitas masyarakat yang lebih besar, haruslah memiliki sistem pengelolaan (manajemen) yang memadai agar setiap komponen memberikan sinergi yang optimal. Dengan penerapan manajemen yang benar, kopontren akan menjadi penggerak roda gigi sistem yang akan menggiatkan aktifitas pondok pesantren terutama untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Pola ini telah terbukti efektif seperti yang bisa kita lihat pada Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Geger Kalong – Bandung, asuhan Ustadz Abdullah Gymnastiar.

Namun sebagaimana umumnya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pondok pesantren memiliki berbagai kendala incumbent, seperti permasalahan sumber daya manusia, manajemen bisnis, legalitas formal dan tentu saja permodalan. Dari sisi sumber daya manusia permasalahan yang terjadi adalah perlunya peningkatan kualitas dan daya saing SDM pengelola Unit-Unit Usaha Ponpes dibanding unit usaha yang lain, kurangnya dukungan pelatihan sehingga analisa kelayakan usaha dan pengembangan bisnis masih tertinggal dan mayoritas belum memikirkan peluang untuk melakukan aliansi dengan unit usaha di ponpes yang lain (pembentukan asosiasi – incorporated).

Dari sisi manajemen bisnis permasalahan yang terjadi pada umumnya adalah pengelolaan usaha yang masih tradisional, kemampuan pemasaran (economic of scale) yang masih terbatas, akses informasi masih kurang memadai, penyajian informasi keuangan dan akuntansi masih sederhana, belum sesuai kaidah PSAK serta penggunaan aplikasi teknologi informasi masih sangat minim. Dari sisi permodalan, permasalahan yang masih terjadi pada umumnya adalah kapasitas permodalan sendiri yang masih terbatas (dana lebih dikonsentrasikan untuk pengembangan ponpes), mayoritas unit usaha (misalnya Kopontren) yang belum bankable, terkait dengan aspek legalitas formal dan penyajian informasi keuangan (laporan keuangan) dan terbatasnya akses kredit kepada lembaga keuangan, khususnya perbankan.

Ada 4 aspek yang dapat menjadi kunci sukses ponpes sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Pertama dari sisi financial support, adalah dengan mendorong peran serta perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Kedua dari sisi pendampingan untuk pengembangan manajemen, dengan pembinaan dari Kementerian Koperasi, serta mendorong peran Konsultasi Keuangan Mitra Bank. Ketiga dari pendampingan teknologi adalah diperlukannya sikap pro-aktif pengelola dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung bisnis dan penggunaan software bisnis yang terjangkau untuk penyajian akuntansi dan keuangan. Yang terakhir adalah pendampingan secara spiritual yakni dengan tetap memperhatikan pengembangan internal dari pondok pesantren yang menekankan pada aspek integritas.

Sejumlah inisiatif-inisiatif yang dapat dikembangkan kemudian adalah memberikan pendidikan kewirausahaan bagi para santri dan masyarakat sekitar ponpes, pengembangan koperasi pondok pesantren dengan mitra usaha produktif, optimalisasi Pondok Pesantren sebagai basis komunitas pencetak tenaga – tenaga ahli ekonomi berbasis syariah dan penggiat ekonomi syariah dan juga peningkatan akuntabilitas pengelolaan ponpes sebagai jalan untuk membuka hubungan dengan lembaga keuangan syariah ( perbankan, venture capital, dsb).

Selain itu ponpes perlu mengadopsi penggunaan teknologi informasi (yang telah, sedang dan akan merubah kehidupan umat manusia dengan menjanjikan cara kerja dan cara hidup yang lebih efektif, lebih bermanfaat, dan lebih kreatif) sehingga membantu komunitas pesantren mengorganisir diri secara modern, efisien, yang pada gilirannya akan mendapat manfaat terbesar dari proses berekonomi dan bermasyarakat. Pembentukan jejaring ekonomi yang menghubung-hubungkan sentra-sentra inovasi, produksi dan kemandirian usaha masyarakat ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi, untuk terbentuknya jaringan pasar domestik diantara sentra dan pelaku usaha masyarakat.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s