Seperti Apakah Itu Tiongkok?


2015-11-11 18.31.37

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Perjalanan, saya menceritakan mengenai cerita dari sahabat saya, Adrian Wijanarko yang melakukan perjalanan seorang diri ke Tiongkok. Saya bertanya kepada dirinya, kenapa Tiongkok dan kenapa seorang diri? Kepada saya, ia menjawab, tidak secara langsung, tetapi melalui sebuah tulisan yang memberikan kita pemahaman yang lebih dekat mengenai Tiongkok dari perspektif seorang Adrian Wijanarko. Berikut ini adalah tulisan dari sahabat saya.

Oleh : Adrian Wijanarko

Kalau di tanya orang apakah perjalanan saya ke Beijing seorang diri adalah perjalanan yang nekat, mungkin bisa di bilang iya. Dan, kenapa harus Beijing? Jawabannya mungkin sederhana. Saya hanya ingin tahu apa itu Tiongkok.

Pada tahun 90an Tiongkok mencuri perhatian dunia yang saat itu dala proses membuka diri terhadap perdagangan dunia. Pada akhirnya pada awal milenium baru, perhatian dunia kembali tertuju kepada Tiongkok. Dengan modal sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah, Tiongkok mulai masuk kepada pemimpin kancah perekonomian dan perpolitikan dunia.

Tapi sebenarnya seperti apakah itu Tiongkok?

Saya mungkin bisa mengenal baik kebudayaan barat dan kota-kota besar di bagian dunia barat dari referensi film Hollywood. Secara tidak langsung film Hollywood menceritakan budaya mereka. Bagaimana mereka hidup dan bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana mereka menghabiskan waktu kosong dengan keuarga dan rekan mereka. Sebagai orang yang besar di kota besar Jakarta, saya mempunyai akses penuh untuk bisa menikmti film-film Hollywood hampir setiap akhir pekan di bisokop.

Tapi kembali, saya tidak mendapatkan jawaban seperti apa itu Tiongkok? Sebagai sebuah negara yang, sebenarnya masyarakat, kebudayaan dan sejarah-nya memiliki benang merah dengan sejarah kehidupan eksistensi Nusantara. Dari hal yang menggembirakan tentang pengakuan Nusantara oleh Laksamana Cheng Ho di mata dunia sampai dengan sejarah kelam masyarakat Tiongkok di Nusantara pada zaman orde baru, Tiongkok adalah salah satu puzzle dari kepingan ke-bhineka-an Indonesia yang tidak bisa dipisahkan.

Dengan semangat mencari tahu apa itu Tiongkok, saya akhir nya  memberanikan diri untuk pergi ke Beijing, ibu kota Tiongkok, walaupun seorang diri.

Persiapan perjalanan saya hanya kurang dari 2 bulan . Dimulai dengan ke-nekat-an untuk membeli tiket murah yang saat itu sedang diskon di sebuah website. Saya sama sekali belum terbayang apa yang saya akan lakukan di Beijing. Tahap selanjutnya tentu saja pembuatan visa. Ternyata pembuatan Visa ke Tiongkok tidak begitu sulit. Proses pembuatan visa bisa di kerjakan hanya dalam waktu satu minggu saja.

Tahap yang paling krusial adalah persiapan. Ada tiga hal besar yang saat itu akan saya hadapi. Pertama adalah musim dingin yang akan saya hadapi di Beijing. Kedua adalah keterbatasan informasi dunia maya oleh pemerintah Tiongkok. Ketiga adalah masalah Bahasa. Sebagai orang yang tidak mengerti sama sekali Bahasa mandarin, hal ini agak membuat saya nervous.

Sebagai orang yang belum pernah menghadapi musim dingin, hal ini agak sedikt membuat saya memiliki perasaan excited. Sebenar nya persiapan nya mudah. Saya menanyakan kepada beberapa teman yang sudah pernah menghadapi musim dingin di luar negeri. Teman saya lalu memberikan banyak saran apa yang harus di beli dan di bawa. Untuk masalah pertama tidak begitu berat.

Masalah selanjutnya yang penting adalah pemblokiran internet di Tiongkok. Sebagai sebagai solo traveler yang sangat bergantung kepada informasi yang di dapatkan dari internet, tentunya pemblokiran ini menjadi masalah yang besar. Persiapan harus saya lakukan dengan matang. Hal pertama yang harus di persiapkan adalah itinerary (perencanaan perjalanan yang akan saya lakukan). Pembuatan itinerary ini harus lengkap dan jelas. Namun harus di berikan sedikit kelonggaran untuk mempersiapkan kejadian yang tidak di prediksi. Hal ini membutuhkan komitmen terhadap itinerary yang saya buat. Selanjutnya adalah peta offline. Saya terbiasa untuk membuka aplikasi google maps di telepon seluler saya ketika berada di tempat baru. Dan saya juga melatih diri saya untuk belajar cara membaca peta dan mengidentifikasi arah mata angin. Sebab google maps di blokir di Tiongkok saya akir nya mengunduh peta offline di telepon seluler saya. Selanjutnya adalah transportasi. Saya berkomitmen untuk menggunakan jalur subway selama di Beijing. Oleh sebab itu saya harus mempersiapkan peta jalur subway dan mengunduh di telepon seluler saya.

2015-11-15 11.01.07

Selanjutnya adalah masalah bahasa. Di Beijing, hanya ada sedikit sekali orang yang bisa menggunakan Bahasa Inggris. Oleh sebab itu saya setidaknya harus mempersiapkan basic conversation tentang Bahasa Mandarin. Untung saja sudah ada aplikasi gratis di android yang menyediakan percakapan basic mandarin. Tinggal langsung unduh, saya sudah memiliki persiapan Bahasa Mandarin di telepon seluler saya.

Semua persiapan sudah di lakukan dengan waktu satu bulan lebih. Dan akhir nya pada hari H datang. Saya mengepak tas saya. Baju, celana dan persiapan pakaian dingin saya bawa. Dengan hanya bermodalkan satu tas ransel besar ala backpacker saya akhir nya berangkat dari rumah dengan tujuan menjawab pertanyaan yang selama ini saya ajukan. Seperti apa itu Tiongkok?

STRANGELY BEIJING

Ada pepatah yang pernah saya dengar. Anda bisa langsung mengenal sebuah negara secara garis besar melaui bandara nya. Kesan pertama adalah di Beijing adalah keteraturan yang di terapkan oleh negara, dalam hal ini adalah petugas imigrasi dan polisi. Dari penilaian arsitektur orang awam, bandar udara Beijing Capital International Airport sangat besar. Bukan megah, namun besar. Ada perbedaan antara kata megah dan besar, betul?

2015-11-11 01.26.39

Ada sebuah pemikiran yang tertanam oleh banyak orang. Kalau orang Mainland China sangat kasar, tidak ramah, jorok dan tidak sopan? Sayang sekali hal itu benar. Tapi kembali tolak ukuran kita adalah orang Indonesia yang sangat toleran. Jika di bandingkan tentu sangat berbeda. Namun hal tersebut tidak bisa diartikan bahwa semua orang china mainland semua memiliki sikap tersebut. Masih ada senyuman kok di balik ketegasan antara tentara yang sedang beristirahat. Masih ada senyuman yang tulus di setiap jepretan foto.

2015-11-15 13.20.54

Tidak ada keraguan bahwa Beijing adalah salah satu kota terbaik di dunia. Uniknya di antara gedung gedung modern yang tinggi masih ada beberapa cagar budya yang masih di lindungi dengan baik oleh pemerintah Tiongkok.

Landmark yang paling terkenal tentu saja Tembok Cina. Bangunan yang berdiri di antara bukit-bukit terjal memanjang membelah Tiongkok. Tidak salah memang tembok cina merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia. Kemegahan dan keagungan tembok ini tidak bisa di deskripsikan.

2015-11-15 13.21.22

Selain itu landmark yang terkenal lebih karena faktor politisnya adalah Tianamen Square. Jujur saja hal yang pertama saya bayangkan tentang Tianamen Square adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 1989. Namun apa pun itu melihat Tianamen Gate dari depan Tianamen Square adalah salah satu pengalaman yang tidak bisa di lupakan.

2015-11-11 18.37.13

Di dalam Tiananmen Gate terdapat Forbidden City. Saya pernah sekilas melihat cuplikan tentang Forbidden City di dalam fim Karate Kid dengan aktor Jackie Chan di dalamnya. Tidak terbayang sebelumnya bahwa tahun ini akan mengunjungi ke sana. Life is unexpected, isn’t it?

Processed with VSCO

 

Selain itu setidaknya ada dua kawasan world heritage yang diakui UNESCO yakni Summer Palace dan temple of heaven. Dengan di warnai oleh pohon yang sudah mulai menguning sebelum akhirnya berguguran, sekedar jalan kaki dan duduk di taman adalah kepuasan tersendiri walau cuaca sedang dingin.

Processed with VSCO

Tidak hanya sebagai kota budaya, Beijing juga memiliki tempat yang sangatlah rapih dan modern. Diantara sisi modern kota Beijing telihat di dalam kompleks Olympic dan National Centre of Performing Arts seperti foto berikut.

Processed with VSCO

Untuk shopping? Wangfujing street, Silk Market dan Sanlitun adalah pilihan yang paling lengkap.

Processed with VSCO with m3 preset

Dalam beberapa hitungan hari saya berada di Beijing saya merasakan bahwa sebenarnya saya fall in love with this city. It’s not New York or Paris. Di dalam setiap senyuman mungkin ada sedikit perasaan kekhawatiran bahwa sebenarnya ada beberapa hak mereka yang masih di atur oleh pemerintah. Kota ini juga bukan kota yang sempurna. Di balik itu masih ada hal-hal masalah lingkungan seperti asap tebal yang mengganggu pernapasan warga kota Beijing. Tapi percayalah, saya merasa iri terhadap semua peninggalan budaya yang ada di setiap gedung pencakar langit di Beijing. Semua cagar alam masih terawat dan masih di preserve dengan baik oleh pemerintah Tiongkok.

Saya langsung menemukan jawaban atas pertanyaan yang saya tanyakan. Seperti apa itu Tiongkok.

Diantara stigma bahwa orang china mainland adalah kasar, saya masih menemukan kehangatan, bantuan dan persahabatan yang di tawarkan oleh masyarakat kota Beijing. Saya juga sangat beruntung menemukan komunitas warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Beijing. Melihat Tiongkok di dalam sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut bukan sesuatu yang saya dapat jelaskan dan hanya bisa di jelaskan. Saya telah memperluas sudut pandang atas Tiongkok dan beberapa pandangan tentang komunitas Tiongkok di Nusantara. Atas pandangan tersebut, saya merasakan sesuatu yang positive dan constructive. Constructive karena hal tersebut adalah dasar dari pandangan-pandangan baru yang akan coba bangun di atasnya.

Pada hari di mana saya pulang dan harus berada di bandara untuk penerbangan kembali ke rumah, ada perasaan sickness saya akan rumah akan terobati. Namun, saya merasakan bahwa ada perasaan berat hati untuk meninggalkan kota ini.

Beijing is not perfect city, but in those imperfection I found a perfectness. A city consist many cultural heritages but has a big skyscraper between it. A perfect balance between Ying and Yang.

 

Adrian Wijanarko, karyawan project CDIT Unilever, pecinta film, traveling dan writing. Bisa ditemui di @WijanarkoAdrian

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s