Hunger Games Ala PPM Manajemen


image

Kuliah di Magister Manajemen PPM Manajemen rasa-rasanya memang jauh berbeda dibandingkan perguruan tinggi lainnya. Tidak hanya pengetahuan akademis semata, tetapi juga mencakup pembentukan karakter yang positif. Hal ini terakomodir dalam mata kuliah pengembangan diri. Yang diajarkan pun bukan sekedar teori, tetapi juga secara real dan nyata.

Siapa yang menyangka belajar manajemen di kuliah akan disuruh mendayung memutari hampir sekeliling waduk jatiluhur? Tak terbayang untuk mendapatkan gelar magister harus panas-panasan, hujan-hujanan, becek-becekan. Sebuah cerita seru tentang sebagian kisah perjalanan eksekutif muda angkatan 13.

Awalnya sebagian besar dari kami ketika diinformasikan harus mengikuti outbound, banyak yang bertanya kenapa harus repot-repot ikut outbound. Dan dengan begitu banyaknya yang harus dipersiapkan serta mendengar cerita-cerita tentang outbound dari para senior, membuat kami agak sedikit takut, khawatir tapi juga sekaligus penasaran. Jika angkatan sebelum kami saja bisa, kenapa kami tidak bisa?

Maka dengan pemikiran yang diriang-riangkan, berangkatlah kami pada hari yang ditentukan. Sejujurnya saya agak senang, karena terus terang saya belum pernah ke waduk jatiluhur, jadi saya anggap outbound ini semacam jalan-jalanlah.

Begitu tiba disana, kami langsung diberikan penjelasan oleh para instruktur dari Pancawati, konsultan yang ditunjuk oleh PPM Manajemen mengenai tata cara outbound. Kami juga langsung dibagi menjadi 5 kelompok. Saya tergabung dalam satu kelompok bersama Hosea, Linggar, Unggul, Suyanto, Estu, Lucky, Tika, Fifi, Nisa dan Riska. Sebagai instruktur kelompok saya adalah Bang Andri atau yang biasa kami panggil dengan sebutan Babeh.

Sebelum memulai kegiatan, kelompok kami dan juga kelompok-kelompok lain diberikan penjelasan awal oleh para instruktur mengenai cara membaca kompas, cara membaca peta dan cara mendayung.

image

Kegiatan pertama yang kami harus lakukan adalah mendayung perahu menuju ke titik-titik yang telah ditentukan oleh para instruktur dari Pancawati. Tidak hanya itu, pada titik-titik tersebut ada reward-reward yang kami dapatkan berupa tenda dan juga makanan. Jadi jika kami tidak berhasil, maka bisa jadi kami tidak akan dapat tenda untuk tempat tidur, dan tidak dapat makan. Kemungkinan terburuknya adalah tidur diluar dengan angin yang dingin dan perut keroncongan.

Menariknya lagi reward yang ada kadang dibatasi jumlahnya sehingga kami harus berebut hanya sekedar untuk makan. Kini saya paham apa rasanya menjadi Katnis Everdeen dan para tribute lainnya yang mengikuti Hunger Games. Outbound ini adalah Hunger Games versi PPM Manajemen.

Untungnya dikelompok saya ada Suyanto yang biasa dipanggil Om Suy atau si Profesor. Bersama Linggar dan Hosea, strategi di kelompok kami begitu terencana dengan baik. Satu persatu titik demi titik berhasil kami susuri dengan baik dan lancar.

Ditengah terik matahari, dan bunyi desiran air yang beradu dengan bunyi dayung, kami bersebelas bersama dua instruktur, kami mendayung di tengah waduk jatiluhur. Tentu saja bunyi desiran ombak itu tidak akan sanggup menyamai bunyi keroncongan dari dalam perut kami yang meronta-ronta minta diisi. Setiap ucapan Om Suy “itu bendera sudah dekat” membuat tenaga kami yang sudah melemah seolah terisi lagi. Kami seperti kelinci energizer yang seolah tak kenal lelah karena semangat dari Om Suy.

Akhirnya di salah satu titik, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Dan entah kenapa makan siang berupa nasi putih, ayam goreng dan orek tempe beserta sayuran sederhana tetiba saja rasanya lebih mewah daripada steak abuba.

Diiringi pemandangan alam waduk jatiluhur, tambak ikan, makan di perahu yang penuh dengan lumpur dari sepatu kami semua, makan siang hari saat itu adalah salah satu pengalaman yang cukup berkesan. Terbayang selama ini makanan dari kantin kampus yang selama ini kami komentari. Padahal yang kami lakukan cuma tinggal makan saja tidak harus mendayung terlebih dahulu untuk makan di kantin kampus.

Perjalanan mendayung terus berlanjut hingga sore dimana kelompok kami dan juga kelompok lain terperangkap di tengah-tengah labirin tambak ikan. Nah kalau yang ini seperti mirip-mirip Maze Runner. Yang menyebalkan dari mendayung adalah kalau tidak dilakukan secara konstan, maka perahu akan mudah terombang-ambing terkena arus air. Dan itu sering terjadi pada kelompok kami. Berkali-kali kami tersangkut ditambak ikan dan harus berulang kali terus mendayung. Sudah begitu berulang kali kami terlihat seperti kebingungan arah.

Untunglah kemantapan Linggar dalam menentukan arah tak tergoyahkan, ketenangan Hosea dan Om Suy membantu kelompok kami. Ditambah lagi Fifi yang biasanya sehari-hari manja kalau dikampus mendadak menjadi wonder woman yang gagah perkasa. Juga Nisa yang tidak kenal lelah menyemangati kami semua dengan lagu Kimia Farma.

Setelah berulang kali mendayung melawan arah angin, singkat cerita akhirnya kelompok kami berhasil mencapai garis finis paling pertama. Rasa lelah, baju dan celana yang kotor seolah hilang begitu kami mencapai garis finis tepat waktu dan tepat sasaran. Tenda penginapan menjadi terlihat seperti hotel mulia bagi kami semua.

image

Tapi menang dan menjadi yang pertama bukanlah yang utama. Setelah bergantian bersih-bersih, dan makan malam, tibalah waktunya untuk sesi sharing dengan Babeh yang mengarahkan kami semua. Tanpa disadari kami sekelompok saling membuka diri dan memberikan masukan yang membangun. Lucky dengan celotehan khasnya, cukup memberikan keceriaan dimalam yang dingin itu.

Dan disaat kami berpikir bahwa hari kedua akan menjadi lebih ringan, kami semua disuruh mengelilingi desa disekitar waduk jatiluhur untuk mencari kode-kode yang akan dipergunakan untuk membuat rakit guna kembali menyebrangi waduk. Setelah hari pertama kami puas bermain Hunger Games dan Maze Runner, maka dihari kedua, kami harus bermain Amazing Race.

Karena target yang harus ditempuh juga banyak, maka kelompok kami membagi menjadi dua kelompok kecil. Hosea dan Linggar memimpin kelompok yang mendaki keatas, Om Suy dan Riska memimpin kelompok yang kedua. Sepertinya kelompok yang lain juga melakukan hal yang sama. Alhasil dijalan lebih banyak ngobrolnya.

image

Tapi memang yang dirasa cukup seru dan menyenangkan karena menyusuri jalan setapak kecil bersama-sama teman, udara pagi yang masih segar, pemandangan alam yang masih asri membuat petualangan ini menjadi lebih ringan. Lagipula kapan lagi menghirup udara segar dan melihat dedaunan hijau. Ini menjadi refreshing lepas dari kepenatan pekerjaan dikantor dan tugas kuliah.

image

Setelah semua kode terkumpul, kelompok kami kemudian membuat rakit yang dibuat dari 6 drum besar dan 10 batang bambu. Awalnya kami semua kebingungan dan tidak tahu bagaimana caranya membuat tali simpul. Tapi setelah diajarkan oleh babeh, kami kemudian segera mengerjakan semaksimal mungkin. Dan begitu rakit kelompok kami sedikit lagi selesai, hujan deras mendera. Keraguan sempat muncul dalam benak kami. Tapi begitu kelompok lain maju, kelompok kami juga jadi berani untuk maju.

Terus terang awalnya kami semua takut. Karena kami semua belum pernah membuat rakit sebelumnya. Tapi begitu rakit sudah berada di air, dan begitu semuanya aman, rasa khawatir mendadak sirna. Mendayung lagi pun tidak masalah. Tapi apalah dikata, pinggang saya tiba-tiba kumat sakitnya. Untungnya Nisa baik hati untuk mau bergantian. Tika dan Estu terus mendayung secara konstan.

Tapi saya tak mau menyerah. Saya tidak boleh mengecewakan kelompok kami. Dengan sekuat tenaga yang masih ada tersisa, dengan rasa sakit yang saya tahan, saya mendayung di saat-saat menjelang finish. Bukan untuk jadi pahlawan, tapi hanya ingin berkontribusi. Karena yang mendayung paling banyak jelas bukanlah saya.

Singkat cerita akhirnya segala proses outbound telah dilaksanakan dengan sangat baik. Pancawati sebagai konsultan telah menyelenggarakan acata outbound dengan sangat luar biasa profesional. Instrukturnya terutama Babeh, sangat menguasai, sangat komunikatif dalam menyampaikan materi kepada kami para peserta.

Begitu banyak hal positif yang kami dapat. Anda bisa menyebutkan banyak hal. Optimis, tidak menyerah, semangat, team work, keberanian, kejujuran, ceria, humble, leadership, keteraturan dan berbagai hal positif untuk pengembangan diri.

Tapi juga disatu sisi lain, kebersamaan diantara angkatan 13 semakin erat. Begitu banyak yang sudah dilewatkan bersama, begadang malam-malam untuk mengerjakan tugas bareng, belajar bareng, susah seneng sama-sama, sdh saling terbuka. Saya selalu berdoa untuk em 13 semoga kita semua diberikan kekuatan, kelancaran hingga kita semua lulus bersama, mudah-mudahan semua pengorbanan kita ada hasilnya untuk kebaikan kita semua, bisa membanggakan orang tua, dan keluarga.

We’re not just only bunch of friends. But brother and sister. A Family. And family stick together. Salute EM13… Salute mi familia…

Advertisements

One thought on “Hunger Games Ala PPM Manajemen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s