Boneka Politik Bernama Katniss Everdeen


Mockingjay

Bagi anda yang mengikuti film Hunger Games termasuk Mocking Jay 2 yang menjadi penutup dari trilogy Hunger Games, tentu akan familiar dengan tokoh utama yang bernama Katnis Everdeen. Bersama Peeta Mellark, Katnis Everdeen membuat kita semua terkesima. Banyak orang menganggap Katnis Everdeen sebagai pahlawan. Ia berangkat dari seorang sukarelawan, lalu kemudian menjadi pemenang dari Hunger Games ke 74, hingga akhirnya menjadi simbol harapan dari perjuangan pemberontak di distrik 13 untuk meruntuhkan hegemoni Capitol City, tempat Presiden Snow dan para birokratnya menebarkan ketakutan melalui ajang Hunger Games.

Hunger Games adalah sebuah metafora penggunaan kekuasaan yang tidak berimbang untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas jumlahnya. Makanan adalah simbolisasi dari keserakahan pihak-pihak berkuasa terhadap sumber daya dimana kita lihat yang semakin kaya oleh sumber daya akan selalu semakin kaya dan yang memiliki akses terbatas terhadap sumber daya akan selalu dibatasi aksesnya oleh orang kaya. Hunger Games terjadi sangat nyata di dalam dunia kita. Dan Katnis Everdeen sesungguhnya bukanlah pahlawan yang nantinya kelak akan meruntuhkan hegemoni Capitol City.

Sebenarnya Katnis Everdeen tidak lebih hanyalah sebagai sebuah simbol. Sebuah boneka politik untuk kepentingan orang-orang yang mempergunakannya. Pendapatan ini mungkin menjadi antitesis dari penggambaran Katnis Everdeen sebagai seorang pahlawan. Katnis Everdeen tidak lebih dan tidak kurang adalah sebuah boneka politik.

Dalam Hunger Games, Katnis Everdeen adalah boneka politik untuk dirinya sendiri. Ia bersama Peeta yang baru pertama kali bersentuhan dengan politik pencitraan yang dilakukan para warga Capitol City, merupakan boneka politik bersama dengan para peserta Hunger Games yang lain. Dimana ia diarahkan oleh sejumlah orang seperti Haymitch dan Effie untuk melakukan sejumlah pencitraan untuk mendapatkan dukungan dari Capitol City. Semakin besar dukungan dana ataupun fasilitas akan memberikan kemudahan bagi para peserta untuk bisa memenangkan Hunger Games.

Pada akhirnya kita sama-sama mengetahui bahwa Katniss dan Peeta menjadi pemenang dalam Hunger Games ke 74 tersebut berkat “kejeniusan” Katniss yang menyadari bargaining powernya dan merubahnya menjadi kekuatan yang dapat menggeser persepsi bahwa pemenang Hunger Games haruslah pemenang tunggal. Disinilah kita melihat cinta semu antara Katnis dan Peeta menjadi senjata politik untuk menyelamatkan mereka berdua. Capitol City yang seolah tidak punya kekuatan apa-apa terpaksa mengabulkan hal tersebut.

Kemudian Capitol City menyadari bahwa cinta Peeta dan Katniss bisa menjadi simbol harapan untuk memenangkan kembali ketertiban dari munculnya harapan akan Mockingjay dalam diri Katniss. Disatu sisi, Capitol City mulai mengendus bahwa Katniss mulai menjadi simbol harapan akan perlawanan, tapi satu sisi lainnya Katniss bisa menjadi simbol harapan Capitol agar distrik-distrik lain bisa patuh dan tunduk. Cinta Katniss dan Peeta di eksploitasi sedemikian rupa oleh Capitol. Katniss Everdeen menjadi boneka politik Capitol.

Kedua sisi tersebut kemudian dibenturkan dalam Quarter Quell. Menarik kemudian upaya-upaya perlawanan yang mulai muncul, bahkan dari peserta Hunger Games ke 75 tersebut yang keberatan karena sudah pernah memenangkan Hunger Games sebelumnya. Berbagai upaya dilakukan dengan membuat isu bohong seperti kehamilan Katniss Everdeen. Quarter Quell tetap berjalan. Katnis Everdeen, Peeta Mellark dan para peserta lainnya kembali menjalani ritual pertandingan yang keji nan kejam. Tapi Capitol City terlalu arogan untuk menyadari infiltrasi pemberontak dari distrik 13 yang sedang dirancang oleh Plutarch, sang gamemaker.

Lalu dimulailah perjalanan Katniss menjadi boneka politik pemberontak dari distrik 13. Pemberontak benar-benar memanfaatkan figure Katniss Everdeen sebagai mockingjay untuk mempersatukan distrik-distrik yang lain untuk melawan Capitol. Katniss menjadi jubir kampanye dengan pidato-pidato yang menggugah. Katniss menjadi perpanjangan tangan Presiden Distrik 13 Alma Coin untuk menyakinkan distrik-distrik yang lainnya. Namun sesungguhnya Alma Coin adalah tirani yang baru. Dan Katniss hanyalah sebuah boneka politik.

Adakah boneka politik lainnya yang berani menentang dalangnya?

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

2 thoughts on “Boneka Politik Bernama Katniss Everdeen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s