Promosi Pajak Yang Makin Intensif


Pajak

Jika anda menyaksikan televisi, dalam beberapa hari terakhir ini, bertebaran iklan-iklan yang dikeluarkan oleh Dirjen Pajak untuk mengajak warga negara Indonesia untuk membayar pajak. Masifnya iklan tersebut bisa jadi dikarenakan masih belum tercapainya realisasi penerimaan pajak. Bayangkan per September 2015 saja penerimaan pajak baru mencapai sekitar 53% dari target. Menjadi wajar kemudian ketika Dirjen Pajak melakukan strategi yang dalam disiplin ilmu pemasaran disebut sebagai potongan harga dengan membebaskan sanksi telat bayar pajak.

Tapi sebelum membahas lebih lanjut mengenai iklan yang muncul berseliweran di stasiun televisi, ada baiknya kita menganalisa. Ini analisanya orang awam yang tidak mengerti mengenai pajak. Target penerimaan pajak tahun 2015 ditetapkan sebesar Rp1.294 triliun naik dari Rp1.246 triliun di tahun 2014. Target tersebut menjadi tidak realistis karena di kondisi perekonomian Indonesia lagi menurun yang menyebabkan penurunan kinerja dunia usaha dan sulitnya kondisi perekonomian bagi masyarakat, tapi Pemerintah malah meningkatkan harga pajak.

Selanjutnya adalah mengenai upaya-upaya komunikasi dan promosi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang masih terlihat sangat konservatif dengan lebih menekankan kepada fungsi pajak dengan mengkomunikasikan kata-kata seperti pajak untuk membiayai pembangunan. Itu adalah kata-kata klise yang relatif tidak menggugah wajib pajak untuk melakukan pembayaran pajak.

Mungkin yang masih jadi permasalahan yang tentunya harus diperhatikan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah masih melekatnya asosiasi kata gayus dengan kata pajak. Ketika masyarakat membicarakan pajak, maka suka tidak suka image gayus masih akan dibicarakan panjang dan lebar. Disatu sisi itu memang benar adanya, tapi juga disatu sisi kata Gayus bisa saja menjadi alasan bagi wajib pajak untuk tidak membayar pajak atau sekurang-kurangnya menunda pembayaran pajak.

Ditambah lagi banyaknya isu-isu yang berkeliaran dan sudah menjadi rahasia umum, banyaknya korporasi perusahaan-perusahaan besar yang melakukan pengemplangan pajak. Kedua isu besar ini adalah isu yang harus dibenahi oleh Direktorat Jenderal Pajak supaya wajib pajak secara sadar melakukan pembayaran pajak.

Melakukan upaya-upaya represif pun mungkin tidak akan banyak berguna, karena percuma saja ketika kondisi perekonomian menurun seperti sekarang ini maka melakukan upaya-upaya represif akan mengesankan pemerintahan yang tidak peduli terhadap kondisi warganya.

Kembali ke iklan tersebut, upaya yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak sudah sangatlah tepat, meskipun dari sisi timing, seharusnya sudah dilakukan dari pertengahan tahun ini. Dalam pandangan profesional saya sebagai praktisi komunikasi, upaya yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah lebih memasifkan komunikasi mengenai adanya penghapusan denda telat pembayaran pajak ketimbang iklan-iklan dengan dialog yang terlalu mengawang. Saya jadi teringat slogan jaman dahulu kala yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang dibenak saya. Orang Bijak Taat Pajak.

 

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

4 thoughts on “Promosi Pajak Yang Makin Intensif

    1. Persepsi seperti apa yang Pak Edi pikirkan adalah persepsi dari kebanyakan warga Indonesia. Disamping penerimaan yang masih dikhawatirkan akan bermunculan “Gayus” baru, manajemen pengelolaan hasil pajak negeri ini masih perlu ditingkatkan lagi

      Like

  1. Takut pajaknya dikorupsi oknum-oknum pemerintah. Saya biasanya nunggu dipungut pajak oleh petugas saja pak. Sejauh ini yang nonggol cuma pajak tanah dan rumah saja. Usaha lapak buah saya cuma bayar premi kebersihan saja.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s