Belajar Dari Lego Brickumentary


Lego

Tanpa sengaja saya mendapatkan ilmu dari sebuah film yang berjudul A Lego Brickumentary. Awalnya saya kira film tersebut adalah film animasi Lego Biasa yang saya beli untuk anak saya. Ternyata film tersebut menceritakan perjalanan Lego, salah satu perusahaan mainan terkemuka di dunia dari awal pendiriannya hingga bagaimana Lego merespon berbagai kebutuhan konsumennya dan perubahan trend dari tahun ketahun. Alhasil, anak saya malah bosan menonton film tersebut, dan malah saya yang fokus menonton film tersebut. Apa saja yang bisa kita pelajari dari sejarah perjalanan Lego?

Pelajaran Mengenai Keteguhan

Sebelum sukses seperti saat ini, cerita mengenai Lego adalah sebuah cerita tentang tantangan dan ujian serta ketekunan dan keteguhan hati dalam menjalani apapun cobaan yang dunia dan Tuhan berikan kepada kita. Bagaimana tidak? Dalam perjalanannya pendiri Lego Ole Kirk Chiristiansen mengalami beberapa kali musibah yang sama yakni kebakaran sampai tiga kali. Coba bayangkan apa yang akan terjadi bila Ole Kirk Chiristiansen menyerah pada cobaan kebakaran kali pertama? Mungkin dunia tidak akan pernah mengenal Lego, dan didalam rumah kita tidak akan ada mainan brick bertebaran.

Pelajaran Mengenai Visi ke Depan

Awalnya Lego bukanlah mainan brick seperti yang kita kenal seperti saat ini. Perusahaan yang Ole Kirk Chiristiansen dirikan merupakan usaha kerajinan kayu yakni mainan kayu seperti celengan, kereta tarik, mobil-mobilan dan truk mainan. Setelah perang dunia ke 2, plastik mulai hadir di Denmark, dan Lego membeli satu set mesin cetak injeksi plastik pada tahun 1947. Salah satu mainan modular yang diproduksi pertama kali adalah sebuah mainan truk yang dapat dibongkar dan dipasang kembali. Rencana ini awalnya sempat ditentang. Coba bayangkan apa yang akan terjadi Ole Kirk Chiristiansen tidak teguh pada pendiriannya?

Pelajaran Tentang Pemasaran

Pernahkah anda bertanya kenapa Lego bisa menjadi sebesar sekarang ini? Memangnya apa sih yang dijual oleh Lego? Cuma mainan brick yang bisa dirakit satu sama lain. Tapi kenapa orang mau membeli? Jawabannya adalah terletak pada kreativitas Lego itu sendiri dan value yang ditawarkan oleh Lego kepada para customer dan consumennya. Lego menjual mainan brick tidak hanya terbatas pada brick semata, tetapi menjual ide bahwa Brick yang disusun-susun itu bisa saja menjadi sebuah gedung, pesawat antariksa bahkan pesawat Star Wars, mobil balap dan lain-lain sebagainya. Dikombinasikan dengan penjualan-penjualan yang tematik, Lego meningkatkan value yang ditawarkan kepada konsumennya.

Hingga saat ini ada banyak sekali kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh para pencinta Lego yang bahkan tidak diinisiasikan oleh Lego sendiri. Hal ini menandakan loyalitas yang luar biasa. Ditambah lagi fakta bahwa konsumen Lego tidak hanya terbatas pada anak kecil, melainkan orang dewasa menandakan Lego bukan hanya sekedar mainan. Lego telah memperluas valuenya dari sebuah mainan menjadi sebuah ide tentang kreativitas.

Pelajaran Tentang Membuka Diri

Perjalanan usaha Lego tidaklah selalu mulus dan mainan brick tidaklah selalu menjadi barang ang diidam-idamkan. Dan ide untuk mengembangkan diri tidaklah selalu mudah didapat dari dalam perusahaan. Meskipun ada pertentangan, pada akhirnya Lego mau membuka diri untuk menerima ide-ide dari para konsumennya dan pada akhirnya mendapatkan manfaat berupa mainan-mainan baru yang masih tetap mengusung konsep dasar Lego tetapi diterima dengan baik oleh para konsumennya.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s