Secangkir Kopi Bersama Pak Widigdo


Widigdo Sukarman

Betapa sedihnya saya ketika mendengar kabar dari salah satu rekan kerja saya yang mengabarkan bahwa Pak Widigdo Sukarman, salah satu bankir senior telah meninggal dunia pada hari ini pukul 00.30 WIB di Rumah Sakit Abdi Waluyo pada usia 73 tahun. Saya memang tidak terlalu mengenal secara dekat almarhum, namun dalam suatu kesempatan, bersama sahabat saya Arie Rinaldi pernah bertamu ke rumahnya untuk keperluan dinas kantor.

Kebetulan dalam kesempatan tersebut saya dan Arie Rinaldi dimintakan untuk membantu Pak Widigdo dalam mempersiapkan acara bedah buku Liberalisasi Perbankan Indonesia, dan secara khusus dimintakan untuk membantu menyiapkan pointers sambutan Pak Widigdo. Dalam pemikiran awal saya, siapalah saya ini jika dibandingkan dengan beliau yang sudah malang melintang di industri perbankan di Indonesia dan sudah pernah memimpin salah satu bank terbesar di Indonesia. Ditambah lagi jika dilihat dari latar belakang akademis yang jauh lebih tinggi. Saya cuma Sarjana, beliau Doktor. Saya kuliah dibidang sosial, beliau kuliah di bidang ekonomi dan keuangan.

Sudah begitu, saya dimintakan untuk mempersiapkan materi yang berkaitan dengan sejarah perbankan Indonesia yang benar-benar saya tidak mengerti. Benar saja, ketika saya dan sahabat saya Arie Rinaldi berkunjung, kami lebih banyak mendengarkan penjelasan dari beliau mengenai liberalisasi perbankan di Indonesia dan latar belakang beliau mengemukakan ide tersebut. Wawasan dan pengalaman di industri perbankan yang dimiliki oleh beliau sungguh luar biasa.

Pak Widigdo melakukan penelahaan dari sisi sejarah perbankan yang diwarnai dengan kebijakan-kebijakan yang merubah wajah industri perbankan di Indonesia. Pendekatan dengan menggunaan telaah ekonomi politik yang memandang bahwa apa yang terjadi pada industri perbankan saat ini mungkin saja berasal dari kebijakan-kebijakan yang pernah diambil oleh Pemerintah. Pak Widigdo Sukarman menelaah bahwa kebijakan deregulasi perbankan atau yang ia sebut sebagai Liberalisasi Perbankan Indonesia tidaklah diikuti dengan kebijakan pengawasan dan supervisi industri perbankan yang memadai serta belum adanya Lembaga Penjamin Simpanan dan belum adanya aturan mengenai kepailitan bagi bank. Hal ini menjadi pelajaran yang berharga dan harus menjadi perhatian bahwa suatu perubahan yang kita desain haruslah diikuti dengan tindak lanjut yang baik.

Terkait dengan menghadapi integrasi pada sektor perbankan ia menyarankan bahwa struktur industri perbankan sebaiknya di fokuskan agar bank dapat mendukung perekonomian domestik karena inilah letak kekuatan negara kita. Dengan fokus ini, menurutnya yang diperlukan bukanlah industri yang memiliki konsentrasi di tangan 1 atau 2 bank besar yang kuat, tetapi lebih efektif kalau Indonesia memiliki beberapa bank yang kuat dengan konsentrasi pelayanan pada sektor-sektor yang benar-benar di kuasainya. Ada bank yang menyasar pada sektor UMKM, ada yang menyasar pada kredit perumahan dan ada juga yang menyasar pada segmen infrastruktur dan korporasi. Begitu pula dengan Bank Pembangunan Daerah yang hendaknya di pandang sebagai bank regional yang memiliki pemahaman yang baik akan kebutuhan wilayahnya. Ketimbang menekankan pada besarnya, ia lebih berpendapat small is beautiful. Seberapa kecilnya, tentunya masih perlu dikaji dan dipertanyakan lagi.

10661934_10152889029599635_894042316229520882_o

Sebuah diskusi yang hangat dengan secangkir kopi luwak yang ia suguhkan kepada kami. Sembari mengisap tembakau di cangklongnya, dengan lugas ia menuturkan pendapat-pendapatnya. Sungguh sebuah kesempatan menimba ilmu yang tak terkira nilainya dari bankir senior seperti Pak Widigdo. Ia pun memberikan buku Liberalisasi Perbankan Indonesia kepada kami berdua lengkap dibubuhkan dengan tanda tangannya.

Pengalaman lain yang berkesan adalah ketika Pak Widigdo mampir ke kantor saya hanya untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada Pak Eko Budiwiyono, Dirut saya ketika itu. Dan respek yang didapatkan oleh beliau sungguh luar biasa. Kalau dalam pandangan saya, bagaimana kita setelah pensiun dan masih di hormati ketika mengunjungi kantor lama atau pun mantan staf dan masih dihormati, itulah tandanya kita benar-benar telah menjadi pemimpin yang berhasil.

Dalam acara bedah buku tersebut, kepada saya dan Arie, beliau pun mempersilahkan kami apabila kami ingin mampir dan menikmati berbagai jenis kopi lainnya. Beliau sangat mencintai kopi dari berbagai rasa. Tapi kini, kesempatan untuk menikmati secangkir kopi bersama Pak Widigdo telah tiada. Selamat jalan Pak Widigdo.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

One thought on “Secangkir Kopi Bersama Pak Widigdo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s