Melihat Go-Jek dan Grab Bike Dari Perspektif Harga part 3


Nadiem Makarim

Penetapan harga rendah yang diterapkan oleh Gojek dan Grab Bike berpotensi terjadinya perang harga dengan produsen lain dan menimbulkan isu etika usaha. Perang harga yang terjadi pada Gojek dan Grab Bike kita perhatikan semakin hari semakin meruncing. Pertanyaannya adalah kenapa bisa terjadi perang harga? Apa yang harus diperhatikan oleh Gojek dan Grab Bike dan bagaimana kedua perusahaan tersebut melakukan adaptasi terhadap perubahan harga satu sama lainnya?

Ada beberapa elemen yang harus diperhatikan dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan harga. Yang pertama adalah adanya price discount dan allowances yang diberikan kepada konsumen, promotional pricing, differentiated pricing, dan terjadinya potongan harga. Yang paling kentara dari persaingan harga antara Gojek dan Grab Bike adalah pada aspek promotional pricing, differentiated pricing serta, adanya potongan harga.

Jika kita perhatikan Gojek dan Grab Bike sama-sama melakukan promotional pricing. Ada beberapa cara melakukan promotional pricing, yakni loss leader pricing, special event pricing, special customer pricing, cash rebates, longer payment terms. Gojek dan Grab Bike melakukan promotional pricing pada special event yakni pada saat hari raya idul fitri kemarin.

Differentiated pricing merupakan pembedaan harga yang diterapkan oleh sebuah perusahaan terhadap produk dan layanannya berdasarkan berbagai pengkategorian konsumen. Aspek-aspek yang dibedakan biasanya meliputi segmentasi kelas dan karakteristik konsumen, bentuk produk, tempat sebuah produk itu dikonsumsi, berdasarkan lokasi dan waktu. Cara terakhir inilah yang dipergunakan oleh Gojek dan Grab Bike dimana Gojek dan Grab Bike sama-sama memberikan batas layanan untuk maksimal 25 km dan menetapkan harga berdasarkan regular time dan peak hour.

Terkait dengan penetapan potongan harga yang menyebabkan harga atau tarif Go-Jek dan Grab Bike kelewat rendah bisa jadi menimbulkan sejumlah “jebakan-jebakan” kepada para pesaing yang ingin masuk. Jebakan yang pertama adalah fragile market share trap dimana Gojek dan Grab Brike menerapkan harga rendah untuk meningkatkan market share. Jebakan lainnya adalah shallow pocket trap yakni jebakan yang sepenuhnya menggantungkan pada kekuatan finansial dari masing-masing perusahaan. Berdasarkan sejumlah isu, Gojek di biayai oleh Northstar dan NSI Venture dan Sequoia Capital. Rumornya investasi mencapai 20 Juta USD, sedangkan Grab Bike Indonesia merupakan afiliasi dari Grab Bike Malaysia. Menarik untuk disimak, seperti apa kekuatan pesaingnya seperti Lady Jek, Ojesy, Blue Jek ataupun Jeger Taxi, apakah bisa menyaingi kekuatan para pemodal Gojek dan Grab Bike.

Jebakan lain yang bisa muncul adalah perang harga. Gojek dan Grab Bike terjebak dalam perang harga. Ketika awal Gojek menetapkan harga Rp10.000, Grab Bike menetapkan harga Rp5.000. Untuk hal ini, Nadiem Makarim, CEO dari Gojek Indonesia bahkan sampai melontarkan pernyataan disalah satu media kepada Grab Bike.

Saya lempar ke mereka (GrabBike) kapan kita mau sama-sama merasionalkan harga demi kepentingan sosial masyarakat – Nadiem Makarim, CEO Go-Jek

Namun kita juga melihat bahwa disaat Gojek menaikkan tarifnya dari Rp10.000 menjadi 15.000, Grab Bike juga menaikkan harga promosinya dari Rp5.000 menjadi Rp10.000. Apakah ini pertanda bahwa Gojek dan Grab Bike akan sama-sama menyeimbangkan harga kepada tarif normal yang sesungguhnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Jadi, jika boleh disimpulkan dalam memandang Gojek dan Grab Bike dari perspektif harga, Gojek dan Grab Bike bersaing tidak hanya dengan satu sama lain, tetapi juga bersaing dengan “ojek digital” lainnya, “ojek pangkalan dan sarana transportasi lainnya. Gojek dan Grab Bike menetapkan harga rendah (every day low pricing) untuk mengambil market share sebesar-besarnya dan “mencuri” pangsa pasar moda transportasi lainnya. Gojek dan Grab Bike berada dalam pasar yang sangat sensitif terhadap harga dan sangat elastic. Gojek dan Grab Bike terjebak dalam “perang harga”. Menarik untuk disimak sejauh mana kekuatan pemodal “dibelakang” mereka mampu mempertahankan keunggulan harga murah tersebut.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

5 thoughts on “Melihat Go-Jek dan Grab Bike Dari Perspektif Harga part 3

  1. Menurut saya keduanya tidak akan bertahan lama di indonesia. Selain menyangkut Undang-undang terkait transportasi umum yang menyulitkan ojek online untuk berkembang, dalam jangka setahun kedepan popularitasnya akan hilang dengan sendirinya kecuali pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengatur ojek online seperti di negara-negara lain.

    Jika tidak ada undang-undang yang jelas, saya yakin cepat atau lambat ojek online akan bubar.permasalahan yang mungkin terjadi adalah kalau kecelakaan siapa yang tanggung jawab? Berapa besar pajak yang harus dibayar? Dan banyak lagi hal2 lain yang sebenarnya merugikan konsumen terlepas harga yang lumayan murah.

    Like

    1. Menjadi menarik memang membahas Gojek dan Grab Bike. Disatu sisi dibutuhkan masyarakat disatu sisi belum ada peraturan yang mendukung. Bagaimana jika seandainya keduanya dilarang? Apakah masyarakat akan protes?

      Like

      1. Feeling saya sih bakal tetap bubar. Meskipun dilihat secara sekilas masyarakat seolah membutuhkan gojek. Hanya feeling semoga nggak kejadian deh. Pasti bakal kisruh deh he he hw

        Like

    2. UU menurut saya tidak menjadi masalah, UU / Peraturan bisa dibuat (cepat atau lambat tergantung birokrasi dan kemauan pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah).

      Menurut pendapat saya, dalam waktu 3 tahun ke depan Gojek masih bisa bertahan, dikarenakan demand yang masih tinggi dan pricing masih bisa diterima dibandingkan dengan transportasi sejenis.

      Untuk pricing war, menurut saya hal ini biasa saja dan sering terjadi, ketika produk “pioneer” diikuti oleh para pengikutnya “follower”, hal ini bisa dilihat untuk transportasi taksi “Express” dan “Blue Bird” yang sekarang masang tarif dasar yang sama, dimana sebelumnya taksi “Ex” memasang tarif dasar yang lebih murah. Sejauh mana Gojek bisa memberikan added value akan produknya, dan juga pada akhirnya pasar nanti yang akan menentukan.

      Like

      1. Saya sependapat, bahwa besar kemungkinan demand masyarakat akan terus bertambah terhadap jasa “ojek digital” ini. Pemerintah pun sepertinya masih melihat ini. Selain itu barangkali pemerintah juga mesti melihat dari sisi bahwa Gojek, Grab Bike dan sejenisnya mampu membuka jumlah lowongan pekerjaan dalam skala masif, sampai ribuan bahkan belasan ribu orang dalam kurun waktu dibawah satu tahun. Tidak ada perusahaan di dunia manapun yang mampu melakukan itu.
        Yang jadi menarik adalah sejauh mana modal dari Gojek dan Grab Bike bisa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s