Amplop Dinomorin?


Amplop

Kemarin sabtu setelah selesai kuliah, saya dijemput oleh istri dan anak saya untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan teman kampus istri saya. Layaknya sebagai tamu yang diundang kami pun berpakaian layak dan memberikan amplop sebagai bentuk apresiasi karena kami telah diundang. Tapi betapa kagetnya saya ketika istri saya memberitahu bahwa amplop yang kami berikan ternyata ditandai dan diberikan nomor sesuai dengan nomor pada buku kehadiran tamu.

Awalnya saya merasa bingung dan sedikit tersinggung, karena seumur hidup belum pernah saya melihat amplop yang diberikan oleh tamu diberikan tanda dan nomor. Bahkan ketika resepsi pernikahan saya dan istri saya, kami tidak melakukan hal yang serupa. Alhasil kami pun hanya menyalami pengantin dan langsung pulang. Sedari di informasikan oleh istri saya hingga kami keluar dari undangan, saya terus bersungut-sungut, bahkan saya sampai browsing perihal pemberian tanda pada amplop undangan.

Rasa penasaran saya itu membawa saya pada sejumlah artikel yang pernah ditulis oleh sejumlah blogger mengenai kejadian yang serupa. Salah satu tulisan yang paling memberikan penjelasan mengenai kejadian ini tulisan dari blogger adnanauS yang berjudul Misteri Nomor di Atas Angpao dan tulisan blogger Endeka yang berjudul Mengundang Untuk Menyiksa (???). Tidak hanya itu, saya pun secara sadar menanyai sejumlah rekan kerja dikantor apakah pernah mengalami hal yang sama.

Ternyata dari apa yang saya temui adalah budaya memberikan tanda atau nomor pada amplop atau angpao kebanyakan ditemui pada budaya tiongkok. Namun juga ternyata budaya seperti ini juga ditemui di wilayah Cirebon, berdasarkan cerita dari sahabat saya Edi Hartono. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah kenapa hal tersebut dilakukan dan bagaimana cara menyikapinya?

Ada dua alasan utama kenapa hal tersebut dilakukan. Yang pertama adalah demi alasan keamanan dari penyelenggara. Ini untuk menghindari adanya pencurian amplop dari para penjaga tamu atau resepsionis. Sehingga dengan memberikan tanda atau nomor, penyelenggara resepsi (dalam hal ini kedua keluarga pengantin) bisa dengan mudah menyortir berapa jumlah undangan dan berapa jumlah amplopnya. Seperti terlihat tidak mudah percaya ya? Tapi memang yang namanya uang adalah aspek yang sensitif. Mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

Alasan yang kedua adalah ternyata lebih mengedepankan prinsip balas budi. Jadi penyelenggara acara bisa mengetahui bila tamu yang diundang ganti menyelenggarakan acara, kita bisa mengetahui berapa jumlah yang pantas untuk diberikan. Terkesannya seperti pamrih dan dendam ya? Untuk menjawab ini, anda tentu bebas melihatnya dari perspektif yang manapun juga. Anda bisa melihatnya sebagai balas budi atau balas dendam.

Misalkan begini, jika anda menyelenggarakan acara dan tamu anda si B misalnya dan si B ternyata memberikan amplop berisikan 100 ribu. Jika anda mengedepankan prinsip balas budi, anda akan tahu bahwa sepantas-pantasnya anda memberikan sekurang-kurangnya 100 ribu ketika si B menyelenggarakan acara. Anda tentu bebas memberikan lebih dari 100 ribu. Tapi jika anda memberikan si B dibawah 100 ribu, maka anda namanya tidak tahu balas budi.

Lalu bagaimana menyikapinya? Ya biasa saja. Tidak perlu di permasalahkan, apalagi sampai membawa-bawa stigma negatif terhadap etnis tertentu. Satu hal yang pasti, adalah jumlah isi dalam amplop yang akan anda berikan, adalah sepenuhnya hak prerogratif anda. Sesuaikan dengan kemampuan. Jika misalkan anda diundang oleh sahabat baik anda, dan kebetulan anda sedang mengalami kesulitan keuangan, dan anda terpaksa memberikan jumlah yang katakanlah dibawah nilai pantas (bahkan menurut standar anda sendiri) ya katakan dengan sejujurnya bahwa anda sedang ada kebutuhan lebih sehingga tidak bisa memberikan nilai seperti apa yang mungkin diharapkan.

Kembali lagi mengenai masalah amplop dalam undangan acara resepsi, ini adalah persepsi mengenai pantas dan tidak pantas, serta mengenai kemampuan finansial seseorang yang tentunya berbeda satu sama lain. Jadi ada baiknya bagi anda, baik itu dari sisi tamu ataupun dari sisi penyelenggara acara untuk tidak memaksakan mengenai hadiah uang dalam sebuah amplop. Lagi pula bukankah mengadakan resepsi pernikahan bertujuan untuk merayakan, dan memberitahukan kepada khalayak ramai. Mencari untung semoga bukan menjadi tujuannya.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

7 thoughts on “Amplop Dinomorin?

  1. Kalau di daerah saya sih biasanya amplop malah harus dikasih nama. Tujuannya sih kurang tahu. Tapi biasanya sih hampir sama seperti artikel diatas. Seandainya orang yang memberi kita amplop mengadakan acara serupa sepantasnya kita memberi sebesar kurang lebih sama swperti yang diberikan.

    Seperti saling membalas kebaikan dan sebagai pertanda bahwa orang yang bersangkutan hadir di acara yang kita selengarakan

    Like

    1. Berarti budaya seperti ini lumrah terjadi di banyak wilayah di Indonesia ya… bukan cuma dari satu etnis tertentu saja… Pada prinsipnya saya yakin tujuannya adalah baik dan bagaimana kita menyikapinya adalah dengan cara yang baik juga ya…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s