Perlukah Tata Kelola Perusahaan Diajarkan di Perguruan Tinggi?


Good Corporate Governance

Konsep tata kelola perusahaan semakin lama semakin diperhatikan di Indonesia. Semakin banyak perusahaan yang dengan lantang mengkomunikasikan kepada dunia, bahwa perusahaan mereka telah secara konsisten menerapkan tata kelola perusahaan dan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas penerapan tata kelola perusahaan di Indonesia. Namun kita juga mendapatkan kenyataan yang tidak selaras dengan pernyataan tersebut, bahwa penerapan tata kelola perusahaan di Indonesia masih tergolong rendah, bahkan jika dibandingkan pada tingkat ASEAN.

Ada beberapa hal mendasar yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk permasalahan diatas. Pertama, adalah masih kurang pekanya manajemen perusahaan untuk terus mengikuti perkembangan dinamis mengenai tata kelola perusahaan, dan masih kurangnya sumber daya manusia yang berkompeten sebagai praktisi tata kelola perusahaan.

Menyikapi kurangnya sumber daya manusia yang berkompeten telah disikapi dengan baik sebenarnya, dimana ada sejumlah instansi-instansi yang berkomitmen untuk terus mengajak peningkatan kualitas penerapan tata kelola perusahaan seperti Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), Indonesian Institute for Corporate Director (IICD) dan berbagai lembaga lain. Lembaga-lembaga tersebut telah melakukan berbagai macam sosialisasi, edukasi, pelatihan mengenai tata kelola perusahaan bahkan sampai menerbitkan buku pedoman dan sejumlah panduan serta menyelenggarakan ajang-ajang yang melakukan penilaian terhadap penerapan tata kelola perusahaan secara keseluruhan seperti IICG yang melakukan penilaian GCG berdasarkan Corporate Governance Perception Index sampai kepada aspek spesifik misalnya keterbukaan informasi yang disajikan dalam laporan tahunan dalam ajang Annual Report Award yang salah satu penyelenggaranya adalah KNKG .

Yang kemudian menjadi menarik untuk dipertanyakan adalah apakah upaya dalam memenuhi sumber daya manusia yang berkompeten dibidang tata kelola perusahaan telah memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan di Indonesia? Pertanyaan itu kemudian berkembang lagi menjadi, apakah tidak ada yang bisa dilakukan oleh instansi pendidikan seperti perguruan tinggi di Indonesia? Perlukah tata kelola perusahaan itu diajarkan di perguruan tinggi? Perlukah ada gelar Sarjana Tata Kelola Perusahaan atau bahkan sampai Magister Tata Kelola Perusahaan?

Kendalanya adalah masihnya tata kelola perusahaan disalahpersepsikan hampir mirip-mirip dengan manajemen, mungkin sama karena sama-sama menekankan pada kata kelola. Saya yakin sejumlah pakar mengenai tata kelola perusahaan akan sama-sama menjawab tidak. Memang dalam sejumlah kesempatan, dalam berbagai disiplin ilmu, baik itu manajemen pemasaran, manajemen operasi, manajemen sumber daya manusia dan manajemen keuangan (4 manajemen utama yang lazim dipelajari di perguruan tinggi di Indonesia) sering mencantumkan beberapa ulasan mengenai etika bisnis. Namun rasanya itu masih saja tidak cukup, karena tata kelola perusahaan bukanlah hanya sekedar etika bisnis semata.

Kendala lainnya adalah masih adanya persepsi bahwa tata kelola perusahaan itu hanya concernnya top management dan bukan menjadi kepedulian karyawan. Padahal sebenarnya tata kelola perusahaan agar bisa berjalan baik, harus diterapkan secara konsisten pada setiap aktivitas perusahaan dan pada setiap tingkatan organisasi dan pada dasarnya tata kelola perusahaan dapat diimplementasikan dalam pekerjaan sehari-hari. Dengan masih adanya persepsi ini, menjadikan “pasar” agar perguruan tinggi mau membuka jurusan tata kelola perusahaan masih dibilang belum ada pasarnya. Ditambah belum banyaknya buku-buku atau literatur yang memadai sebagai panduan untuk mahasiswa bisa mempelajari nantinya.

Padahal sebenarnya “pasar” untuk tata kelola perusahaan bisa menjadi disiplin ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi sudah ada. Karena tata kelola perusahaan adalah multi dimensi. Ada elemen keterbukaan informasi yang menyasar pada profesi komunikasi, ada elemen akuntabilitas yang menyasar pada profesi akuntansi, sumber daya manusia, ada elemen responsibilitas yang menyasar kepada profesi yang terkait dengan sosial kemasyarakatan. Jika dilihat pada praktiknya, yang terkait dengan penerapan tata kelola perusahaan adalah bidang-bidang atau satuan kerja Corporate Secretary, Audit Internal, Manajemen Risiko, Kepatuhan. Jadi sebenarnya pasarnya ada, namun mungkin masih belum banyak.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s