Salah Persepsi Mengenai Marketing Yang Sering Terjadi


Pemasaran

Akhirnya kemarin malam, mata kuliah Manajemen Pemasaran yang saya nanti-nantikan dipelajari juga. Saya tertarik dengan Manajemen Pemasaran karena dari sisi latar belakang akademis saya di bidang public relation, manajemen pemasaran adalah satu-satunya ilmu yang masih agak “nyambung” jika dibandingkan dengan manajemen operasi, sumber daya manusia ataupun keuangan (padahal saya kerjanya di bank). Kemudian dari sisi background profesi saya yang bekerja di corporate communication, manajemen pemasaran jelas juga lebih “nyambung”.

Namun ternyata ilmu pemasaran yang saya miliki masih kurang mendalam, dan itu baru saya ketahui pada saat saya mempelajari manajemen pemasaran.

Ilmu yang kurang mendalam itu utamanya karena adanya salah persepsi dalam pandangan saya yang memandang bahwa marketing itu dipersamakan sebagai sales. Hal ini merupakan salah persepsi yang paling sering terjadi dalam memandang marketing. Tidak hanya saya, ternyata salah persepsi seperti ini masih sering dilakukan, bahkan oleh perusahaan besar ternama. Padahal yang namanya sales hanyalah sebagian saja dari fungsi pemasaran.

Aktivitas pemasaran ternyata lebih luas dari yang saya bandingkan. Karena jika pada sales, yang ditekankan hanya penjualan produk atau jasa semata, maka dalam pemasaran, yang lebih ditekankan adalah adanya pertukaran value dari produsen kepada konsumen. Pemasaran mencakup product, place, promotion dan price atau yang kita kenal dalam istilah 4P atau bauran pemasaran. Saya pun juga baru tahu bahwa 4 P itu sudah di update lagi.

Salah persepsi yang lain adalah bahwa orang-orang bekerja di bidang pemasaran harus bisa gambar, harus punya jiwa seni, atau dengan kata lain harus kreatif. Padahal yang lebih ditekankan dalam pemasaran adalah aspek strategi atau dengan kata lain kemampuan seorang marketer untuk dapat menganalisa posisi dan kompetisi produk, perusahaan, konsumen dan kompetitor secara bersamaan untuk dapat merumuskan strategi pemasaran yang efektif.

Kalau menurut dosen saya, Pak Boy Bayu, ilmu marketing itu dapat dipersamakan dengan strategi perang, karena pada dasarnya marketing adalah memperebutkan sumber daya yang terbatas jumlahnya. Contohnya, konsumen tidak mungkin membeli mobil yang sama setiap hari, tidak mungkin membeli handphone setiap hari.

Namun kalau dalam pandangan saya pribadi, yang namanya kreativitas tetap saja diperlukan oleh seorang marketing. Kreatif disini dimaksudkan lebih luas, bukan hanya terbatas hanya bisa gambar atau punya jiwa seni semata. Kreatifitas yang dimaksudkan disini adalah mampu melihat celah-celah atau potensi peluang yang ada didalam pasar (market), mampu menciptakan inovasi. Namun disisi lain, kreatifitas, jika kita tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, dapat juga dialihdayakan kepada pihak ketiga.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s