Leadership dan GCG


LeadershipTerjadinya skandal laporan keuangan Toshiba beberapa waktu lalu menandakan domain fraud bukan hanya milik karyawan semata, tetapi juga bisa terjadi pada top management sekalipun. Sebenarnya permasalahan sejenis ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Kasus-kasus populer seperti Enron ataupun Lehman Brothers menjadi contoh betapa top management bisa juga menjadi rapuh terhadap godaan melakukan fraud. Menjadi penting kemudian, adalah seberapa besar pengaruh kepemimpinan atau leadership terhadap kualitas penerapan tata kelola perusahaan?

Asumsi paling mendasar, tentu kita sepakat bahwa arah dan kebijakan strategis ditetapkan oleh top management, termasuk diantaranya kebijakan teknis dalam upaya mencapai arah yang telah ditetapkan adalah murni menjadi domain dari top management dan karenanya tidak bisa didelegasikan atau di cascading kepada para pemimpin-pemimpin dibawahnya. Karenanya kualitas penerapan GCG mutlak menjadi domain dari top management. Ini termasuk mencakup praktik pengambilan keputusan yang bebas dari adanya benturan kepentingan.

Menjadi menarik kemudian permasalahan ini kita kaitkan dengan agency problem. Agency problem merupakan konflik atau permasalahan yang timbul ketika pihak yang diberikan kepercayaan oleh principal menggunakan kekuasaaan yang diberikan untuk kepentingan pribadi dan bukannya kepentingan principal. Dalam bahasa awam, top management menggunakan kekuasaan yang diberikan oleh pemegang saham untuk kepentingan pribadi top management tersebut.

Praktik creative accounting adalah cara yang paling tepat untuk menggambarkan agency problem ini. Motivasi yang paling umum jika top management melakukan creative accounting adalah pemberian bonus. Semakin baik kinerja perusahaan berujung kepada peningkatan bonus atau remunerasi bagi top management. Atas dasar motivasi tersebut, seorang top management bisa jadi tergoda untuk melakukan creative accounting, termasuk dengan melakukan fraud sekalipun tanpa mempedulikan dampak yang akan terjadi pada sebuah perusahaan.

Pada aspek yang lain adalah asumsi paling mendasar peran pemimpin sebagai role model, teladan yang dilihat oleh seluruh karyawan. Jika karyawannya melihat para top managementnya melakukan fraud atau membiarkan terjadinya fraud, maka besar kemungkinan karyawannya juga akan melakukan fraud. Jadi dengan menggunakan perspektif ini, peran kepemimpinan dalam mempengaruhi kualitas penerapan tata kelola perusahaan menjadi sangat signifikan.

Kembali kepada pertanyaan awal, seberapa besar pengaruh kepemimpinan atau leadership terhadap kualitas penerapan tata kelola perusahaan, kita juga dapat melihat bahwa penerapan tata kelola perusahaan hanya domainnya top management saja, Persepsi seperti ini sangat disayangkan, karena karyawanlah yang memiliki peranan penting dalam melaksanakan tata kelola perusahaan, khususnya dalam pekerjaan sehari-hari.

Baca Juga : GCG Dalam Praktik Pekerjaan Sehari-hari

Pada prinsipnya, GCG adalah kewajiban dari semua pihak, manajemen dan karyawan. Bahkan sebenarnya semua pihak pemangku kepentingan memiliki kewajiban moral untuk mendukung penerapan tata kelola perusahaan disebuah perusahaan.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s